Sentilan Iqbal Aji Daryono

Balada Para Pengutip Karya Sastra

Iqbal Aji Daryono - detikNews
Selasa, 27 Mar 2018 15:20 WIB
Iqbal Aji Daryono (Ilustrasi: Edi Wahyono)
Jakarta - Seberapa penting kita mengutip kalimat-kalimat indah dan penting dalam karya-karya sastra?

Saya akan menjawab tegas: O, penting. Penting sekali. Kutipan karya sastra yang meluncur dari bibir kita, atau yang mengucur dari ketikan-ketikan jempol tangan kita, akan membuat kita tampak keren dan berwibawa. Secara ajaib kita mendadak jadi terlihat romantis, canggih, intelektuil, dan tentu saja kita jadi mampu mencitrakan diri sebagai kutu buku yang tekun.

Pendek kata, dengan mengutip karya sastra, kita akan muncul dengan gagahnya sebagai sosok yang ber-bu-da-ya. Luar biasa, bukan?

Maka, jangan heran kalau Pramoedya Ananta Toer, penulis terbesar yang pernah dimiliki Indonesia, menjadi langganan dikutip di mana-mana. Yang paling sering tentu saja yang ini: "Seorang terpelajar itu harus adil, sejak dalam pikiran!"

Kalimat dari novel Bumi Manusia itu memang laris sekali. Ia biasa dikutip oleh orang yang ingin menghidupi semangat belajar dalam sebuah jarak objektif. Ia sering dikutip oleh kaum partisan politik yang ingin mengejek kubu lawannya, karena si lawan dipandang berat sebelah dalam mengkritik sang idola. Ia bahkan bisa dikutip oleh seorang lelaki yang bertengkar dengan kekasihnya, karena sang kekasih konon cuma selalu melihat keburukannya. Haha.

Kutipan dari Pram masih bertumpuk-tumpuk stoknya. Tempo hari, saat lagi-lagi ada pertarungan politik yang keras, lalu ada pihak yang kalah dan ada yang menang, kutipan Pram kembali beredar dengan gencar.

"Kita telah melawan Nak, Nyo. Sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya." Uhuk.

Kalimat yang dalam Bumi Manusia diucapkan oleh Nyai Ontosoroh kepada Minke itu dengan gemilang berhasil difungsikan sebagai penutup kekecewaan para gruppies politik. Ia membawa kepada satu ikhtiar pemulihan atas hati yang terluka. Tak heran, seorang kawan sambil terkekeh-kekeh berkata, "Salah satu sisi penting politik Indonesia di era pasca-2014 adalah mencuatnya kutipan-kutipan sastra." Sialan.

Dengan kutipan itu, Pram memang dimanfaatkan untuk sedikit menutup rasa malu. Namun di lain waktu, Pram pun bisa hadir dalam fungsi yang sama sekali tak terpikirkan sebelumnya: sebagai motivator bisnis!

Coba, berapa banyak wirausahawan muda yang mengutip kalimat, "Berbahagialah dia yang makan dari keringatnya sendiri, bersuka karena usahanya sendiri, dan maju karena pengalamannya sendiri."?

Banyak, kan? Pasti. Daripada mengutip Tung Desem Waringin, rasanya memang lebih seksi kalau mengutip Pram. Entahlah, kalau bisnisnya gulung tikar, apakah para anak muda itu masih mengutip Pram atau berganti ke Andrie Wongso, saya juga tidak tahu.

Saya menduga, para pengutip yang menggunakan kutipan Pram sebagai motivasi bisnis itu juga selalu mengingat Paulo Coelho. Coelho, penulis kondang dari Brazil itu pun laris manis sebagai motivator. Mungkin ketika nama Pak Mario Teguh tak lagi berkibar, posisi Coelho bisa jadi pilihan sangat cakep untuk penumbuh semangat para aktivis MLM, misalnya. Ingat kalimat Coelho di novel Sang Alkemis ini:

"Dan saat engkau menginginkan sesuatu, seluruh jagat raya bersatu padu membantumu."

Wow. Sangat membangkitkan semangat! Betapa impian kita untuk memanen downline sebanyak-banyaknya, juga untuk meraih level diamond dalam struktur MLM kita, tinggal satu langkah saja di depan mata. Semua karena Paulo Coelho. Salam sukses! Semangat pagi!

Repotnya, motivasi ala-ala MLM tadi dalam beberapa kelokan di Sang Alkemis dikaitkan oleh Coelho ke sisi yang paling menye-menye dalam sastra: motivasi cinta. Maka hadirlah lagi sang sastrawan sebagai sumber gombalan paling memabukkan, dengan kalimat: "Aku mencintaimu karena segenap alam semesta bersatu membantuku menemukanmu." Ihiir.

Kutipan cinta, romantisme, dan patah hati. Inilah yang selama ini paling mendominasi perilaku para pembaca sastra. Jujurlah. Memang begitu, bukan? Saya yakin, bukan cuma sekali-dua kali Anda melihat para pemuda nir-kekasih meratap dengan menuliskan: "Mampus kau dikoyak-koyak sepi."

Kalimat terakhir dalam Sajak Sia-sia karya Chairil Anwar itu begitu efektif sebagai umpatan yang amat sastrawi. Ia dengan gemilang berhasil menjadi pilihan populer untuk menyandarkan hati yang lunglai dan harapan asmara yang runtuh terobrak-abrik. Dengan meminjam paksa bibir Chairil, para praktisi patah hati menjadikan derita mereka tampak puitis, sehingga kekalahan demi kekalahan pun jadi tersamarkan oleh halimun kata-kata.

Situasi itu jelas berbeda saat perjuangan cinta dijalankan, dan yang dikutip di akun Instagram adalah kalimat penuh optimisme dalam novel Pulang-nya Leila Chudori.

"Dan bibirnya adalah sepotong puisi yang belum selesai. Aku yakin, hanya bibirku yang bisa menyelesaikannya menjadi sebuah puisi yang lengkap."

Ahahahay. Kutipan-kutipan sastra yang membuat peluh berleleran semacam itulah yang saya amati sebagai peraih bestseller di antara para pengutip. Ia selaris kalimat Dee Lestari dalam Perahu Kertas, "Karena hati tak perlu memilih, ia selalu tahu ke mana harus berlabuh."

Ramainya pasar kutipan di segmen ini membuat saya menemukan benang merah atas judul-judul novel yang membuat para pembaca bergumam, "Aduh ini mah gue bangeeet!"

Simaklah judul novel Eka Kurniawan: Cantik Itu Luka; dan Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas. Atau, judul novel Puthut EA yang menyetrum: Cinta Tak Pernah Tepat Waktu.

Ah, sepertinya saya terlalu panjang menuliskan ini semua. Padahal sebenarnya saya cuma mau bilang, bahwa mengutip karya sastra itu boleh-boleh saja, bebas-bebas saja. Namun ia mesti ditempatkan dalam sifat sastra yang merupakan kelit-kelindan antara fakta dan fiksi. Makanya, ketika para pengutip sastra beraksi, lazimnya mereka mengutip sekadar untuk memantik semangat, menitipkan perasaaan, atau menggambarkan kesamaan spirit. Kalau toh lebih detail, sastra akan diambil maksimal sebagai gambaran karakter manusia, atau untuk memahami peta antropologis sebuah masyarakat dalam kerangka komunikasi budaya.

Adapun menempatkan karya sastra sebagai "fakta keras politik" rasa-rasanya merupakan absurditas yang mengabaikan hakikat sastra itu sendiri. Ada secuil kebenarannya sih barangkali iya, tapi ia tetap dalam kerangka sesuatu yang tak bisa diverifikasi sebab terikat pada sifat karya sastranya.

Ini penting disampaikan, sebab tak sedikit orang yang mengira bahwa sah-sah saja sebuah karya sastra dicuplik sebagai gambaran konkret tentang prediksi kehancuran sebuah negara. "Toh selama ini mengutip Shakespeare juga boleh-boleh saja, kenapa yang ini disalahkan?"

Iya, sebab Shakespeare tidak pernah dikutip dalam rangka memburu orang yang segaris keturunan dengan keluarga besar Romeo untuk diangkat sebagai Putra Mahkota Inggris, misalnya. Sebagaimana para pembaca Nagasasra dan Sabuk Inten-nya SH Mintardja cukup waras untuk tidak mendukung seorang politisi dengan alasan bahwa dia secara nasab masih cicit Mahesa Jenar.

Jika yang seperti ini tidak bisa kita sepakati, sepertinya kabinet hasil Pilpres 2019 nanti sekalian saja menjadikan Dilan 1990 sebagai acuan arah gerak pemerintahan mereka.

Iqbal Aji Daryono esais, tinggal di Bantul

(mmu/mmu)