Kolom

Jakarta Darurat Sampah

Ramdan Yassin - detikNews
Selasa, 27 Mar 2018 12:28 WIB
Foto: Rifkianto Nugroho
Jakarta - Lautan sampah di Teluk Jakarta, Muara Angke, Jakarta Utara menjadi perhatian publik sepekan terakhir ini. Bahkan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan sampai turun tangan langsung membersihkan sampah bersama pasukan oranye. Lokasi tumpukan sampah tersebut berada di pesisir pantai samping Kawasan Hutan Mangrove Ecomarine Muara Angke.

Sementara itu dalam komentarnya Wakil Gubernur Jakarta Sandiaga Uno menyebutkan bahwa sampah di Teluk Jakarta sudah ada sejak 2014. Namun, selama ini sampah tersebut belum sempat ditangani.

Menurut salah satu penjaga kawasan hutan manggrove, Roni (65), tumpukan sampah ini mulai banyak sejak Februari 2018. Sampah saat ini lebih banyak dibanding sebelumnya. Kasudin Lingkungan Hidup (LH) Kepulauan Seribu Yusen Hardiman menjelaskan sampah berkerumun di lokasi karena terbawa rob dan angin barat.

Masih menurut Yusen Hardiman, permasalahan sampah ini bukan hanya terjadi di Muara Angke tetapi terjadi juga di Kepulauan Seribu. Khususnya wilayah selatan yang berbatasan langsung dengan Jakarta Utara. Berdasarkan keterangan dari Camat Penjaringan, Muhammad Andri pihaknya telah memasang jaring di sepanjang aliran kali di wilayah kecamatan penjaringan yang bermuara ke laut. Dia menegaskan, sampah yang muncul di tepian Muara Angke berasal dari lautan lepas.

Sedangkan Walikota Jakarta Utara Husein Murad mengatakan, sampah di Muara Angke tidak hanya berasal dari Wilayah Jakarta Utara, tetapi sejumlah pulau di Kepulauan Seribu.

Dari Mana?

Pemerintah DKI Jakarta menyebutkan bahwa dugaan sementara sumber sampah berasal dari Wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya. Pemerintah DKI Jakarta kesulitan menjelaskan secara spesifik dari mana sampah-sampah tersebut berasal dan bagaimana dapat menumpuk di kawasan Hutan Mangrove Muara Angke hanya pada saat rob dan gelombang besar pada saat angin barat.

Minimnya data dan pengetahuan tentang pola pergerakan sampah di wilayah Jakarta dan sekitarnya, serta belum adanya kajian teknis yang mendalam mengenai permasalahan sampah menjadi kendala Pemerintah DKI Jakarta dalam menjelaskan detail sumber sampah di kawasan Muara Angke.

Ada 13 sungai di Wilayah DKI Jakarta yang berpotensi menyumbang sampah Teluk Jakarta. Sungai tersebut adalah Kali Mookervart, Kali Angke, Kali Pesanggrahan, Kali Krukut, Kali Grogol, Kali Baru Barat, Kali Ciliwung, Kali Baru Timur, Kali Cipinang, Kali Sunter, Kali Buaran, Kali Jati Kramat, dan Kali Cakung.

Sementara itu di wilayah Bekasi ada tiga sungai besar yang bermuara ke Laut Jawa yaitu Sungai Citarum, Sungai Bekasi, dan Sungai Cikarang. Di wilayah Tangerang ada Sungai Cisadane yang mengalir dari daerah Bogor dan bermuara di Laut Jawa. Sungai-sungai di wilayah sekitar Jakarta ini juga berpotensi menyumbang sampah ke Teluk Jakarta.

Fenomena Gunung Es

Berdasarkan penelitian Jenna Jambeck, peneliti dari Universitas Georgia, Amerika Serikat yang terbit di Jurnal Science tahun 2015, Indonesia merupakan negara kedua terbesar penyumbang sampah dunia sebesar 3.2 juta ton per tahun. Penelitian Jenna Jambeck menyebutkan dari total sampah yang diproduksi di daratan, sebanyak 4.6%-nya terbuang ke laut.

Data Dinas Kebersihan Provinsi DKI Jakarta menunjukan bahwa 7000 ton sampah diproduksi oleh warga DKI Jakarta setiap harinya. Total produksi per tahun mencapai 2,5 juta ton sampah. Dari angka tersebut, apabila mengacu pada penelitian yang dilakukan oleh Jenna Jambeck di mana 4.6% sampah daratan terbuang ke laut, maka kurang lebih 115000 ton sampah per tahun atau 315 ton per hari terbuang ke Teluk Jakarta.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengungkapkan, ada kurang lebih 100 ton sampah yang menumpuk di Muara Angke. Bila dibandingkan dengan jumlah sampah yang terbuang ke laut sebanyak 315 ton per hari maka dibutuhkan penanganan yang lebih menyeluruh dan terintegrasi untuk menangani sampah Teluk Jakarta.

Sampah di Muara Angke hanya bagian kecil dari volume sampah yang terbuang ke sungai maupun laut di wilayah Jakarta. Wajar bila Kasudin Lingkungan Hidup Kepulauan Seribu Yusen Hardiman menyebutkan bahwa setiap hari 20 ton sampah berhasil dijaring tetapi sampah seperti tidak pernah habis.

Memang penelitian Jenna Jambeck perlu divalidasi kembali, tapi setidaknya kasus Muara Angke ini menjadi momentum untuk pengambilan kebijakan dan penanganan masalah sampah yang lebih komperhensif. Jangan sampai kejadian penumpukan sampah ini terulang kembali di tahun-tahun yang akan datang.

Penanganan

Yang harus dilakukan oleh Pemerintah DKI Jakarta selain menerapkan penanganan jangka pendek seperti pemasangan jaring di sungai-sungai wilayah Jakarta dan pencegahan agar sampah tidak terbuang ke laut, perlu dilaksanakan juga penanganan jangka menengah dan jangka panjang.

Penanganan jangka menengah adalah dengan melakukan penelitian komperhensif terhadap sampah di Teluk Jakarta. Penelitan diawali dengan melakukan survei dan pemetaaan sumber-sumber pencemaran sampah di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Penelitian selanjutnya adalah dengan melakukan pemodelan pola sebaran partikel sampah di Teluk Jakarta.

Dari hasil penelitian akan diketahui berapa besar volume sampah di masing-masing sungai dan pola sebaran sampah di wilayah pesisir Teluk Jakarta. Sehingga rekayasa teknis yang tepat dapat diterapkan untuk menanggulangi pencemaran sampah ke laut.

Penanganan jangka panjang adalah dengan menerapakan regulasi dan kebijakan terkait sampah. Pemerintah DKI Jakarta dapat mengacu kepada rencana aksi nasional yang tengah disusun oleh sebelas kementerian termasuk Kementerian Lingkungan Hidup dan Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman.

Rencana Aksi Nasional disusun dalam lima pilar, yakni perubahan perilaku, mengurangi produksi sampah di darat, mengurangi produksi sampah dari aktivitas di laut, mengurangi produksi dan penggunaan sampah, serta meningkatkan mekanisme pendanaan, reformasi kebijakan dan penegakan hukum. Desain, proses, dan implementasi Rencana Aksi Nasional itu melibatkan berbagai pemangku kepentingan yakni pemerintah, swasta, LSM, dan kerja sama lintas sektor dalam skala nasional.

Berkaca pada kota-kota besar dunia yang telah menerapkan program "Zero Waste" seperti Canberra (Australia), San Fransisco (Amerika Serikat), Stokholm (Swedia), pemerintah DKI Jakarta harus dapat menjadi pionir dan contoh dalam pengelolaan sampah kota besar di Indonesia. Karena dampak dari sampah bukan hanya dari segi estetika tetapi juga berpengaruh terhadap keanekaragaman hayati, kualitas air tanah, pemanasan global, dan kesehatan masyarakat.

Ramdan Yassin peneliti Bidang Kelautan di sebuah perusahaan swasta di Bandung, Magister Teknik Bidang Teknik Kelautan di ITB

(mmu/mmu)