Kolom

Proyek Bersama: Menjaga Indonesia

Veronica Sri Utami - detikNews
Senin, 26 Mar 2018 13:04 WIB
Ilustrasi: Kiagoos Auliansyah/detikcom
Ilustrasi: Kiagoos Auliansyah/detikcom
Jakarta - "Memangnya Pancasila sekarang ini masih ada gunanya ya?" begitu tanya seorang mahasiswa di kelas Pancasila dan Kewarganegaraan yang saya ampu, di salah satu Universitas Swasta di Jakarta. Mengagetkan, tentu saja. Sama seperti ketika Prabowo bilang, Indonesia bakal bubar di 2030. Tapi, bukan prediksi (atau pesimisme?) si Bapak ini, yang mau saya bahas lebih jauh di tulisan ini.

Pancasila Ada Gunanya?

Tentu, sesuai nama mata kuliahnya, di kelas PKn ini kami membahas tentang Indonesia. Tak hanya mempelajari teorinya, tentu para mahasiswa ini bersemangat ketika diajak berdiskusi tentang kondisi bangsa saat ini. Apakah identitas kita masih kuat? Apakah globalisasi mengancam identitas nasional Indonesia? Diskusi seru, dengan pandangan-pandangan yang bernada pesimistis --seperti, "Memangnya sekarang ini Pancasila masih ada gunanya, ya?" di atas -- kemudian dijawab dengan teman-temannya dengan suara yang (untungnya) masih terdengar optimistis. Suara positif dan negatif bersahutan sepanjang diskusi.

"Ya jelas ada gunanyalah, kalau Pancasila enggak ada, Indonesia pasti sudah hancur dari dulu-dulu," begitu salah satu mahasiswa menjawab.

Dan, ketika si penanya masih belum puas, dengan mendebat, "Tapi buktinya, tetap aja Indonesia kacau kaya begini, diskriminasi di mana-mana, hasutan di mana-mana, saling menyalahkan di mana-mana, berita hoax, banyak masalah!" maka teman lain memberi masukan, "Nah, tapi kita lihat kan, meski ada banyak kekacauan seperti itu, Indonesia tetap berdiri ya itu karena Pancasila ada! Pancasila justru yang jadi pengatur semua itu, dasar kita menyikapi semua itu!"

Fiiiuhhh!! Legalah saya mendengar optimisme itu.

Generasi yang Makin Jauh dari Sejarah

Tentu, saya tak heran, jika ada mahasiswa yang mempertanyakan tentang "keampuhan Pancasila" sebagai pemersatu bangsa saat ini. Mereka hidup di era di mana sehari-hari dihadapkan pada informasi-informasi pendek --tapi sepanjang hari-- di media sosial, dan banyak di antaranya yang berisi hal-hal yang tak selalu positif, tentang Indonesia. Tentang diskriminasi di sana-sini, tentang pemimpin-pemimpin yang mucul di televisi berompi orange, tentang artis-artis (yang mungkin adalah sosok idola mereka) tapi ditangkap karena narkoba, juga aneka berita yang tak selalu valid kebenarannya.

Tak hanya itu, generasi mereka mungkin sudah satu langkah lebih jauh dari generasi yang merasakan sendiri perjuangan untuk merebut Indonesia yang merdeka. Jauh dari generasi yang benar-benar cinta Indonesia, generasi yang mungkin akan "menangis" melihat banyak tetangga di samping rumahnya tak memasang bendera merah-putih di hari peringatan kemerdekaan Indonesia.

Saya juga bukan generasi yang merasakan sendiri perjuangan merebut kemerdekaan Indonesia. Tapi, di masa kecil, saya masih sempat mendengar cerita dari ayah-ibu saya, tentang simbah-simbah saya, yang punya tempat "ngumpet" di kebun, ketika situasi tidak terlalu aman. Bahkan cerita dari simbah yang ikut perang, ikut jadi tenaga kerja paksa membangun rel kereta entah di mana, atau bagaimana mereka harus antre untuk bisa makan dengan lebih layak, dan sebagainya.

Nah, mahasiswa-mahasiswa ini, mungkin satu generasi di bawah saya (atau bahkan dua, atau tiga, hehehe....). Yang --sama seperti saya-- orang tuanya mungkin sudah hampir tak pernah lagi bercerita tentang sejarah, masa perjuangan, masa Indonesia dijajah, apalagi tentang para pahlawan. Jadi, wajarlah jika nuansa nasionalisme agak jauh dari jiwa mereka.

Pendidikan: Tak Sekadar Teori

Nah, untungnya ada mata kuliah PKn ini, sebagai mata kuliah umum yang wajib diambil oleh semua mahasiswa di semester awal. Yang membuat mereka "sempat" membicarakan tentang Indonesia.

Di kuliah ini, mahasiswa diingatkan tentang perjuangan yang harus dilakukan para pendahulu bangsa hingga kita bisa menikmati Indonesia yang merdeka, tentang Wawasan Nusantara, dan tak ketinggalan, tentang identitas nasional --jati diri Indonesia, sebagai bangsa yang beragam dan pluralis-- seperti: Pancasila, bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan, lambang negara, yaitu Garuda Pancasila, semboyan negara, ialah Bhinneka Tunggal Ika, merah-putih, dan lain sebagainya.

Tapi tak berhenti pada teori dan diskusi di kelas. Saya menantang mereka untuk juga bergerak bersama, dengan apapun yang mereka punya dan mereka bisa, untuk Indonesia. Every move count, begitu pendeknya.

Maka inilah usulan-usulan menarik mahasiswa di kelas saya:

"Saya mau bikin short movie, Bu! Tentang Indonesia. Nanti saya share di media sosial!"

"Saya bisa nari daerah, Bu! Saya mau ajarin anak-anak di sekitar saya, biar kenal tarian daerah!"

Tentu, selain pemikiran-pemikiran serius macam itu, ada juga usulan-usulan usil tapi unik dan menarik, khas mahasiswa, seperti:

"Bu, kalau saya mau makan masakan Indonesia tiap hari ajalah!" kata seorang mahasiswa. "Kan, kalau saya tiap hari makan di warung-warung asli Indonesia, artinya saya membantu perekonomian sesama rakyat Indonesia, Bu! Dan, melestarikan makanan Indonesia juga!" katanya menjelaskan.

"Wah, pinter juga kamu! Makan enak tiap hari, kenyang, tugas juga selesai ya!" begitu komentar saya. Tapi, saya tak melarang niatannya. Seperti yang saya bilang, every move, count! Pemikiran dan latar belakang gerakan mahasiswa ini, jelas menarik dan ada benarnya.

Seru! Semangat! Itulah suasana yang saya rasakan ketika mereka saya ajak brainstorming, mengumpulkan ide gerakan yang bisa mereka lakukan, baik perorangan maupun bersama-sama. Karena semua gerakan dilakukan untuk Indonesia, maka kegiatan ini, kami beri nama PROJECT: PENJAGA INDONESIA.

Jadi Penjaga Indonesia, Semua Bisa!

Tentu, untuk melengkapi tugas ini, saya meminta mereka membuat laporan di akhir semester. Bukan laporan serius, dengan kata pengantar, landasan teori, dan sebagainya, saya meminta mereka membuat semacam reflection paper. Saya justru lebih ingin tahu apa yang mereka lakukan dan bagaimana perasaan mereka ketika melakukan itu, bagaimana respons orang-orang sekitar, dan menurut mereka, dampak apa yang sudah mereka berikan untuk bangsa ini.

Sekarang, saya harap-harap cemas, dan tak sabar menunggu akhir semester, ingin mendengar cerita tentang project-project yang mereka kerjakan. Bagaimanapun, hal penting yang bisa saya ambil dari pengalaman saya bersama mahasiswa ini adalah; pertama, bahwa pendidikan penting untuk menyebarluaskan semangat nasionalisme, semangat persatuan, semangat cinta bangsa ke generasi-generasi muda.

Lewat mata kuliah yang saya ampu ini misalnya, mahasiswa jadi "dipaksa" untuk mengikuti juga berita-berita tentang kemajuan (sekaligus kemunduran) bangsa, tak cuma mengikuti gosip seputar Jedun yang dilabrak anak kekasihnya (yang kemudian membesarkan istilah pelakor). Mereka mau tak mau akhirnya jadi tahu bahwa ada pulau yang tadinya milik Indonesia, yang sekarang tak lagi jadi bagian Indonesia loh! (Sipadan dan Ligitan, misalnya), bahwa di balik berita-berita penangkapan penyelundupan berton-ton sabu dan obat terlarang lainnya itu, ada ancaman proxy war yang juga harus diwaspadai loh! Dan, sebagainya.

Btw, kenapa saya akhirnya mengikuti kasus Jedun ini, karena di kelas, ketika kami sedang membicarakan norma dan nilai, soal kemanusiaan, dan hal-hal semacamnya, kasus inilah yang muncul di beberapa grup diskusi kelas ketika itu. Maka ini membawa saya pada poin penting kedua, ialah bahwa untuk membuat mata kuliah semacam PKn --yang umumnya akan dipandang sebelah mata oleh mahasiswa-- menarik, pengajar perlu putar otak.

Salah satunya adalah dengan mengikuti budaya-budaya anak jaman now. Salah satunya, dengan tak ketinggalan berita yang jadi topik pembicaraan mahasiswa. Cara-cara kuliah satu arah, tak mungkin mempan. Yang ada ditinggal tidur mahasiswa nanti. Mengajak mereka browsing untuk menggali info-info tambahan seputar materi, menayangkan video di kelas, bahkan mendorong mereka untuk upload hasil karya mereka di blog, Youtube, Instagram, atau media sosial lain, adalah hal-hal yang saya gunakan di kelas.

Ketiga, bahwa menjadi "penjaga Indonesia" sebenarnya tak butuh uang banyak, tak harus punya gelar kependidikan tinggi, tak harus jadi bos dulu, menteri atau presiden. Dari hal paling sederhana sekalipun --seperti sebuah video pendek yang dibuat oleh Merawat Jogja Video, saya putarkan di kelas, yang menggambarkan suasana satu hari setelah penyerangan di Gereja Lidwina, Yogyakarta, ketika ada anak-anak berseragam SMA dan ibu-ibu berjilbab yang ikut menyapu dan membersihkan gereja, dilengkapi sebuah tulisan menyentuh berbunyi:

Penyerangan di Gereja Santa Lidwina, Bedog, Sleman, akhirnya berujung sia-sia.
Niat mau mengacau malah semakin mempererat hubungan antar umat beragama di sana.
Sehari setelah penyerangan, seluruh warga membersihkan gereja yang berantakan, dengan cara bergotong royong, nggak perlu tanya: apa agamamu?
...
Ayo bareng-bareng merawat keberagaman!

Hanya sekadar membantu menyapu, melap kursi, mengambili pecahan-pecahan kaca, itu pun adalah sebuah kontribusi besar bagi bersatunya bangsa --yang kemudian ditangkap momennya dengan pas oleh Merawat Jogja Video, disebar luaskan, sehingga efeknya pun semakin besar.

Jadi, seperti ajakan saya ke mahasiswa di kelas, maka saya pun mengajak Anda semua: Yuk, jadi penjaga Indonesia, dengan cara apapun yang kita bisa!

Veronica Sri Utami ibu dua anak, penulis buku Recharge Your Life, dosen perguruan tinggi swasta di Jakarta

(mmu/mmu)