DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Jumat 23 Maret 2018, 16:05 WIB

Kolom Kalis

Cerita dari Kebun Lintang Panglipuran

Kalis Mardiasih - detikNews
Cerita dari Kebun Lintang Panglipuran Kalis Mardiasih (Ilustrasi: Kiagoos Auliansyah/detikcom)
Jakarta - Pada sebuah perjalanan dalam bus jurusan Surabaya-Semarang, fokus saya pernah tercuri oleh seorang sopir yang menyetiri bus tersebut. Selain hobinya memencet klakson bus nan bising dan manuver tak terduga yang ia ambil untuk mendesak laju truk dan kendaraan lain hingga berhasil terbirit-birit lari ke pinggir, seluruh kuku di sepuluh jarinya super panjang, kurang lebih sepuluh sentimeter.

Perjalanan, sekecil apa pun memang selalu membuatmu menemukan jawaban bahwa kamu bukanlah pusat dunia yang semua orang berputar-putar berkepentingan memikirkan hidupmu. Kuku superpanjang adalah bagian dari cerita betapa ada orang yang sengaja suka bikin tambahan kerepotan di hidupnya, atau barangkali malahan mengapa ada orang yang punya obsesi remeh temeh begitu. Betapa ia larut dalam kenikmatan ketika menggaruk punggung, hidung, dan telinga.

Bambang Sriyono, lelaki Lintang Panglipuran yang akan kukisahkan, adalah juga seseorang yang suka kerepotan. Namun, obsesinya sama sekali tidak remeh-temeh: menghijaukan bumi di sisa umur yang ia miliki. Di lahan itu, ia membuat sebuah rumah kecil, dan merimbunkan halaman depan dan belakang dengan aktivitas pembibitan pohon yang berguna untuk penghijauan.

Awal tahun 2000-an, ia memasuki masa pensiun dari bagian produksi sebuah media massa nasional terbesar. Ketika memutuskan pulang ke Yogyakarta, ia mendapati pohon-pohon besar di sekitar lahan yang ia beli telah kandas, ditebang. Padahal, kawasan yang rimbun itu adalah salah satu alasan mengapa ia memilih merencanakan tinggal di sana. Bersamaan pohon-pohon yang habis ditebang itu, tiga mata air turut menghilang.

Cerita sedih itu membuat saya turut mengingat pengalaman masa kecil yang disesaki ingatan tentang warna-warni sayap kupu-kupu dan berbagai jenis capung. Ekosistem yang menyatukan anak-anak kecil di kampung saya. Kami menangkap capung dengan gelas plastik bekas minuman, atau sebatang lidi yang diolesi pulut (getah nangka). Capung yang tertangkap akan diikat ekornya dengan benang, lalu kami akan ikut ke mana ia hinggap.

Biasanya, kupu-kupu dan capung beterbangan di sepanjang musim kemarau, bersamaan musim layang-layang. Lapangan desa pun makin semarak. Tapi, pemandangan riang itu tak ada lagi. Kupu-kupu dan capung telah jarang sekali muncul, jika boleh disebut tidak ada sama sekali. Lapangan berumput yang dulu kami gunakan untuk bermain bola, kelereng, dan congklak berubah jadi perumahan.

"Pestisida itu berbahaya sekali buat ekosistem," kata Pak Bambang, "telur atau ulat kupu-kupu atau capung jadi mati duluan sebelum sempat bertumbuh."

Ia lalu memamerkan gambar beberapa jenis kupu-kupu dan capung yang sempat ia bidik dari kameranya. Ia menunjuk gambar seekor serangga berwarna hitam dan oranye di album. Saya sering melihat serangga itu pada masa kecil, tapi tak mampu menyebutkan namanya.

"Namanya bapak pocung," Pak Bambang memberi jawaban sambil mengulum senyum.

Saya menyeruput teh senja yang disajikan Acil, seorang mahasiswa yang ngenger ilmu bertanam di kebun. Racikan teh Acil terbuat dari jahe, secang, pekak, cengkeh, kayu manis, kapulaga, batang sere, dan lemon. Pada gelas lain tersaji teh kembang telang (Clitoria ternatea) yang semula berwarna biru elektrik, lalu berubah ungu ketika dicampuri buah jeruk. Semua bahan-bahan, langsung dipetik Acil dari kebun.

Selain membekali bibit pohon pada siapa saja yang berkunjung ke kebun Lintang Panglipuran, bibit-bibit juga selalu dibekalkan kepada mahasiswa pecinta alam dan siapa saja yang akan naik gunung. Kini, banyak komunitas dan lembaga pecinta lingkungan yang datang mengambil pasokan bibit dari kebun ketika merencanakan program penghijauan.

Pak Bambang senang ketika orang-orang menanam. Kebun biasanya hanya meminta bantuan polybag. Jika pun tidak ada, ada anak-anak TK dan SD di sekitar yang suka mengunjungi kebun lalu membantu Pak Bambang membibit pohon dengan media sampah plastik bekas makanan dan bekas detergen yang mereka kumpulkan dari rumah penduduk sekitar. Banyak juga kawan dari Amerika, Jerman, Australia, Prancis yang datang untuk magang dalam hitungan satu hingga enam bulan.

Kebun Lintang Panglipuran tidak luas. Tetapi, pendirinya luas jiwa dan cerewet berkisah. Ia dengan senang hati menjawab pertanyaan bodohmu tentang meningkatnya populasi nyamuk pada kebun. Nyamuk-nyamuk itu bisa dikendalikan asal tidak banyak genangan air. Lalu, kau akan mendapat tips untuk merutinkan makan olahan daun pepaya dalam tiga hari sekali saja, maka nyamuk tak akan suka hinggap pada tubuhmu.

Lelaki berusia lebih dari tujuh puluh tahun ini juga mengingat sejarah pohon yang ia tanam. Konon, pohon yang paling gagah di kebun, pohon jenitri (Elaeocarpus ganitrus) adalah pohon yang mampu menghasilkan oksigen 24 jam sehari, dan lebih banyak lagi memproduksi oksigen pada malam hari. Atas kehebatannya itu, dulu, teman Pak Bambang, seorang profesor sastra dari Universitas Sebelas Maret Solo yang sakit asma sering tidur-tiduran di bawahnya.

"Tuhan menciptakan manis, pahit, asam, gurih, asam. Ketika makan, asupan itu harus dikomposisikan dengan seimbang. Jika suka yang manis saja, hasilnya diabetes. Tapi tidak akan ada diabetes jika manis itu dikombinasikan dengan unsur asupan lainnya," terang Pak Bambang sambil menunjuk tanaman insulin.

Ketika ada anak muda yang berkunjung lupa menaruh kacamata atau kunci motornya, Pak Bambang akan berseloroh akan khasiat daun pegagan untuk mempertajam ingatan. Tetapi, tak jarang ia juga mengingatkan tentang dosis-dosis yang harus diperhitungkan, sebab segala sesuatu mesti digunakan sesuai kadarnya.

Hal penting yang ia ingatkan adalah bahwa manusia Indonesia tinggal di daerah tropis, sehingga Tuhan menganugerahi manusia Indonesia dengan padi, jagung, dan umbi-umbian. Tetapi, banyak manusia perkotaan yang senang dengan junkfood dengan kandungan lemak tinggi yang lebih khas untuk masyarakat negara bermusim dingin.

Manusia beriklim tropis menjadi gemuk dan tak sehat sebab berusaha melawan sunnatullah. Sayangnya, terkadang kebijakan politik juga berdampak amat buruk. Satu yang terburuk adalah kebijakan untuk menyamaratakan konsumsi nasi pada semua penduduk Indonesia, padahal ada banyak penelitian tentang umbi-umbian, suweg, misalnya, yang kandungan nutrisinya setara padi.

"Negara memilih impor beras. Padahal, negeri ini kaya raya asal pandai-pandai bersiasat," ujarnya sambil berkali-kali berdoa agar bumi ini tidak lekas kiamat.

Pak Bambang selalu mengingat pesan ibunya bahwa apa saja yang ia rawat selalu hidup dan bertumbuh sehingga ia selalu punya harapan setiap menanam. Saya pulang berbekal bibit kembang telang, dan berharap tangan saya pun dapat menghidupkan.

Kalis Mardiasih menulis opini dan menerjemah. Aktif sebagai periset dan tim media kreatif Jaringan Nasional Gusdurian dalam menyampaikan pesan-pesan toleransi dan kampanye #IndonesiaRumahBersama. Dapat disapa lewat @mardiasih

(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed