DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Selasa 20 Maret 2018, 14:00 WIB

Kolom

Menyikapi Era Disrupsi

Febby Widjayanto - detikNews
Menyikapi Era Disrupsi Febby Widjayanto (Foto: istimewa)
Jakarta - "Halo Google, cari info tentang mobil listrik!" adalah sepetik kalimat yang mungkin tidak lagi asing dalam keseharian kita sebagai pengguna mesin pencari Google bertipe voice search. Butuh menghitung sejauh mana sudah berjalan kaki hari ini, dan seberapa banyak kalori yang terbakar? Cukup buka aplikasi pedometer yang ada dalam perangkat genggam kita!

Pada rentetan yang serupa, di kala isu keamanan data personal menjadi semakin genting, kita mulai merasa nyaman memakai fitur face unlock --gestur sederhana yang kita buat dengan menghadapkan wajah pada layar ponsel saat akan mengakses gawai. Tidak hanya sampai di situ, berjejer aneka rupa aktivitas lainnya di mana kita mulai terbiasa dengan otomasi di tingkat yang paling mikro.

Sekelumit ilustrasi tersebut menggambarkan dengan apik perubahan sosial yang dimaksud oleh Auguste Comte, bahwa perkembangan pengetahuan dan teknologi adalah penentu utama jalannya peradaban.

Barometer peradaban itu kini melaju dengan cepat dalam bingkai Revolusi Industri 4.0 (Industrial Revolution 4.0). Gempuran di berbagai ranah dan kepungan teknologi yang serba disruptif, mulai dari Internet of Things (IoT), big data, otomasi, robotika, komputasi awan, hingga inteligensi artifisial (Artificial Intelligence) berhasil menorehkan penandaan besar dalam sejarah: angka 4.0 di belakang revolusi industri.

Selayaknya penamaan produk-produk teknologi, utamanya di bidang komunikasi dan informasi, penyematan angka --sebagai pengemasan perubahan-- menguatkan kesan bahwa inovasi dan penemuan besar harus dirayakan untuk menegaskan signifikansi kebermanfaatannya, serta dampak luar biasa dari apa yang ditimbulkannya.

Mengguncang Tatanan

Selatar dengan penamaan itu, teknologi informasi dan komunikasi (ICT) yang menjelujur di semua lekuk kehidupan kita diyakini sanggup mengguncang tatanan yang lebih besar, baik dalam domain hukum, sosial-budaya, ekonomi, maupun politik. Terguncangnya lini-lini itu meninggalkan jurang pertanyaan antara melesatnya perkembangan teknologi dan penyikapan publik terhadapnya, terlebih lagi di tengah-tengah banjirnya hoaks dan kikuknya penalaran kritis yang tertutup oleh tudung jargon, khas melekat bersama teknologi tinggi: "smart, fast, efficient, sustainable."

Jacques Ellul dalam karyanya yang berjudul The Technological Society (1964) menyentil kita melalui pertanyaannya: apakah dengan adanya kemajuan peralatan-peralatan teknis, lantas perlahan membuat kita tertawan dalam keengganan untuk merenungkan kembali bahwa teknologi adalah sebentuk arena yang sarat akan perdebatan dan tempat pertarungan sengit berlangsung? Bagi siapa saja yang menguasai teknologi, maka dirinya menguasai sumber daya.

Sebagai contoh, sistem operasi Linux yang bisa didistribusikan dan dimodifikasi secara gratis dan luas (open source) menjadi tidak lebih popular dibandingkan dengan sistem piranti lunak berbayar besutan Microsoft maupun Apple. Pengoperasian Linux relatif lebih sulit ketimbang Microsoft atau Apple yang sudah mengembangkan teknologi antar-muka (interface) yang lebih ramah pengguna. Dalam kasus ini, terkandung kontestasi kepentingan ekonomi yang kental sekaligus menjadi penanda dari diteguhkannya aturan main sederhana di mana pihak yang tidak cukup gesit memutakhirkan teknologi pada akhirnya akan tergilas.

Cepatnya laju dobrakan sosial yang dinahkodai oleh teknologi tanpa sadar mendorong kita terperosok masuk ke dalam pemahaman yang mengimani pesatnya kemajuan alat-alat itu sebagai sebuah proses yang tanpa cela, netral, bebas nilai, absen dari tendensi rivalitas, dan kepentingan ekonomi-politik. Perubahan yang begitu cepat (disruptif) tidak memberikan kita cukup waktu untuk memeriksanya satu per satu. Implikasinya, kita cenderung menganggap eksistensi peralatan canggih itu sebagai produk yang sudah final, amat dibutuhkan, dan tidak lagi memerlukan penggugatan, apalagi perlawanan.

Pola penafsiran seperti ini bukan hanya merugikan, tapi menjauhkan kita dari pusat-pusat pergulatan besar yang melibatkan kekuatan-kekuatan politik utama, baik negara ataupun korporasi yang dimediasi oleh alat-alat teknikal, dan berkecenderungan mengempaskan negara-negara dunia ketiga ke tepian narasi dari produk-produk berteknologi tinggi.

Dengan kata lain, negara-negara itu rentan hanya menjadi penyorak belaka. Artinya, jika kita lengah dalam menyikapi revolusi industri keempat dan membiarkannya berlalu tanpa melewati pencermatan kritis, hal ini sama saja dengan menyiapkan masa depan kita yang dengan mudahnya akan terlibas oleh seleksi alam yang kini ditentukan oleh piawai-tidaknya sebuah negara mengelola teknologi.

Akan tetapi, ruang perdebatan tentang posisi teknologi dalam deru Revolusi Industri 4.0 yang seolah tertutup rapat --ditandai dengan jarangnya ditemukan argumen yang menyangkal pentingnya menyesuaikan diri dengan teknologi kontemporer-- ternyata masih bisa dibuka kembali. Setidaknya, pengamatan Roberto Verzola (2016) secara saksama membuka mata kita untuk melihat sisi lain dari teknologi yang terang-terangan tidak datang dengan netralitas nilai, melainkan tersimpan pula bias ideologis di sana.

Kemunculan komputer misalnya, memiliki bias bahasa, budaya, dan ideologi bawaan yang menaungi sebuah sistem pengetahuan. Perkakas itu diciptakan dari bahasa mesin yang diterjemahkan dalam bahasa Inggris serta mensyaratkan kemelekan dasar akan logika, matematika, dan digital pada penggunanya.

Dari segi bahasa, biasnya begitu kentara karena bahasa laman daring (website) lazim ditulis menggunakan Hyper Text Markup Language (HTML), dan bahasa pemrograman lain yang akarnya adalah bahasa Inggris. Bahkan, laman-laman yang ditampilkan di negara-negara non-Anglo Saxon, seperti Rusia, Cina, India, Spanyol pemrograman lamannya juga masih ditulis dalam bahasa Inggris. Mau tidak mau, untuk menguasai kompetensi digital dan teknologi secara umum, pengguna harus mempelajari bahasa Inggris sebagai prasyarat utama.

Sejalan dengan apa yang disebutkan Langdon Winner (1980), di dalam seperangkat teknologi tertanam sebuah bibit ideologi, konstruksi ketertiban sosial, dan kepentingan kelas tertentu yang disangga oleh suatu konfigurasi kekuasaan. Teknologi akan selalu menaati tuannya, yakni politik, dan tunduk pada relasi kuasa yang ada.

Semenjak politik berhubungan dengan pengaturan kehidupan bersama, maka teknologi tidak lebih dari semacam fasilitator penegakan institusi yang bersemayam di balik beroperasinya logika pengetahuan, budaya, dan bahasa via produk jadi bernama peralatan teknologi. Hal demikian tidaklah kemudian menciutkan semangat kita dalam berjalan beriringan dengan revolusi industri itu sendiri, namun justru menjadi pelecut langkah kita untuk bijak dalam memantapkan sikap di era disrupsi ini.

Febby Widjayanto dosen tamu di Sosioteknologi Fakultas Desain dan Seni Rupa, Institut Teknologi Bandung; staf pengajar junior dan peneliti di Departemen Ilmu Politik FISIP Universitas Airlangga


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed