DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Jumat 16 Maret 2018, 16:05 WIB

Kolom Kalis

Menengok Kembali Album Keluarga Harmonis Indonesia

Kalis Mardiasih - detikNews
Menengok Kembali Album Keluarga Harmonis Indonesia Kalis Mardiasih (Ilustrasi: Kiagoos Auliansyah/detikcom)
Jakarta - Akun-akun pribadi para tokoh politik seringkali adalah sebuah album keluarga. Album itu tidak hanya sekadar berisi potret, namun juga menyampaikan pesan. Seorang pemimpin, jika ia laki-laki, adalah seseorang yang baik dalam memperlakukan istri. Terkadang, narasi yang dibangun harus tampak berlebihan, sehingga kita tak bisa membedakan apakah ia seorang pemimpin kota atau seorang motivator berumah tangga. Sebut saja cara Ridwan Kamil memoles persona pribadi dalam relasinya dengan pasangan.

Akun keluarga Yudhoyono, terpotret dalam jumlah personel lebih luas. Keluarga Yudhoyono meliputi SBY, yang punya daya tarik kuat sebagai mantan Presiden RI dua periode, Bu Ani, anak-anak mereka beserta pasangan, dan tak ketinggalan cucu-cucu. Pesan dalam album keluarga ini adalah sebuah keluarga besar yang penuh visi: orangtua yang mewariskan kepemimpinan dan peluang kepada anak, dan istri-istri yang menguatkan kiprah suami.

Soeharto dalam buku Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya menceritakan keterikatan emosionalnya dengan sebuah rumah di Jalan Cendana No.8 kawasan Menteng. Di samping segala kontroversi anak-anaknya, Soeharto juga sosok laki-laki yang tidak dapat dipisahkan dari pasangannya. Membicarakan Soeharto tanpa membawa serta nama Raden Ayu Siti Hartinah (Tien Soeharto) rasanya kurang elok.

Banyak riwayat menyebut, beberapa kebijakan kontroversial Soeharto adalah juga buah pikir Ibu Tien. Soeharto bahkan harus memerintah dengan doktrin Ibuisme Negara. Melalui kerja-kerja Dharma Wanita dan Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK), perempuan dikembalikan dalam kerja-kerja domestik sebagai pendamping suami yang menyandang status sosial dalam masyarakat. Proyek pencerabutan kekuatan politik dan ekonomi perempuan dari ruang publik tersebut juga dibungkus dengan selubung yang terkesan indah, yakni keharmonisan keluarga.

Kisah cinta paling monumental pemimpin bangsa yang paling popular masih dipegang oleh Presiden Habibie. Film Habibie dan Ainun masuk dalam kategori film laris, memuat cerita perjalanan seorang paling genius asal Indonesia yang berhasil menjadi presiden, dengan faktor pendukung pentingnya tentu saja adalah kehadiran pendamping hampir sempurna, yakni Ainun.

Sampai hari ini, potret presiden yang berjalan berdampingan dengan ibu negara masih cukup kuat untuk membuat masyarakat, utamanya kaum ibu histeris. Sosok Presiden Jokowi sedari awal memasuki panggung politik dengan jargon Revolusi Mental menyatakan bahwa membangun perubahan mental harus dimulai dari diri sendiri dan lingkungan terdekat dan terkecil, yakni keluarga. Episode Jokowi mampir pulang ke Solo di tengah-tengah perjalanan dinas pun dikenal publik luas dengan baik, yakni: Jokowi kangen keluarga.

Salah satu dilema yang pernah dialami masyarakat adalah ketika Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) akhirnya menggugat istrinya, Veronica Tan. Masyarakat bingung karena menghadapi kenyataan bahwa ternyata pemimpin yang selama ini mereka kenal cekatan, ternyata juga memiliki masalah keluarga yang pelik, sama seperti masyarakat biasa. Masyarakat kaget karena mereka biasa terhipnotis dengan album keluarga harmonis. Album keluarga yang sering berjarak dari realita keseharian.

Dalam kehidupan sehari-hari, potret keluarga memang tidak melulu utuh dan harmonis seperti mitos yang disajikan oleh narasi para pemimpin itu. Dalam kehidupan sekolah, seringkali beberapa anak berkepribadian murung sebab kedua orangtua sedang bermasalah. Dalam kehidupan bertetangga, sering kita dengar kisah pilu dan nelangsa rumah tangga yang hancur bubrah, entah sebab faktor ekonomi, perselingkuhan, dan latar belakang lain.

Potret keluarga penduduk kampung adalah narasi yang jauh dari warna-warni. Pagi sekali, para ibu sudah menanak nasi dan membuat sajian sayur atau lauk yang menunya tidak berbeda untuk dimakan sejak sarapan pagi, makan siang, dan makan malam. Dalam Ekspresi Seni Orang Miskin karya Prof Tjetjep Rohendi Rohidi, fungsi lauk pauk dalam makan lengkap, agaknya lebih sebagai penyedap rasa atau penambah kegairahan makan daripada sebagai sumber protein.

Selepas makan pagi itu, para orangtua mulai bekerja dan para anak mulai bersekolah. Beberapa anak muda melewati keterasingan dengan mabuk-mabukan atau berjudi karena putus sekolah, menganggur, atau tidak mau bekerja. Keadaan semacam itu biasanya akan menjadi pembangkit masalah sosial, baik dalam keluarga maupun bermasyarakat.

Dalam novel Ulid Tak Ingin ke Malaysia, Mahfud Ikhwan menulis sebuah paragraf: Setelah kedatangan Tarmidi dari empat tahun kepergiannya, Ulid harus melepas kembali bapaknya. Usai lima bulan perjumpaan kembali yang penuh warna, nyaris indah, puasa yang sempurna, Hari Raya Idul Fitri yang sempurna, Hari Raya Kurban yang lebih sempurna lagi, juga sebuah rumah baru yang mesti tidak sangat bagus tapi amat lega, keluarga itu harus kembali dipisahkan. Oleh sebuah pilihan, oleh sebuah harapan, oleh sebuah cita-cita. Oleh dua negara.

Keluarga Ulid adalah gambaran keluarga yang melintasi kota-kota urban untuk pergi ke negara pusat kerja upahan domestik (buruh migran domestik). Anak-anak yang lahir dari keluarga buruh migran seringkali kehilangan interaksi dengan salah satu anggota atau kedua orangtua sejak mereka balita atau remaja sehingga nuansa psikologis mereka tentu saja berbeda dari cerita-cerita keluarga yang dulu digambarkan dalam buku pelajaran Bahasa Indonesia terbitan Balai P&K.

Tipikal keluarga ini bekerja pada rumah tangga kaum pekerja kaya di Malaysia, Hong Kong, Taiwan, Singapura dengan masa kontrak tertentu. Upah mereka dibayarkan lebih dulu kepada agen tenaga kerja, lalu remitansi baru dapat mereka kirimkan kepada keluarga di kampung setelah pelunasan.

Keluarga-keluarga miskin ini tidak lagi dapat memenuhi harapan tentang keluarga (family) yang juga sekaligus rumah tangga (household) yang memiliki jalinan keakraban satu sama lain sebab berkumpulnya bapak, ibu dan anak-anak dalam satu rumah sepanjang tahun. Sebetulnya, potret idealis keluarga "utuh" semacam itu telah luntur sejak awal abad ke-19, seiring dengan perubahan corak produksi di Indonesia yang kemudian menggiring laki-laki maupun perempuan sebagai agensi kapitalisme global, semata demi pemenuhan kebutuhan ekonomi.

Bagaimana pun bentuk keluarga dalam masyarakat hari ini, Indonesia diberkati dengan budaya pulang yang sering disebut mudik. Seorang anak muda pekerja industri di perkotaan, biasanya mengambil cuti panjang khusus jika ada acara pernikahan atau hajat keluarga di kampung halaman.

Sesulit apa pun dinamika kebutuhan ekonomi, akhirnya pada rasa juga mereka bertaut. Ya, meskipun tidak sesempurna album Nia Ramadhani dan Ardi Bakrie yang melewatkan waktu dengan piknik keluarga ke negara-negara Eropa, paling tidak keluarga-keluarga masyarakat yang paling mewakili Indonesia saat ini masih bisa melewatkan waktu bersama menonton televisi di malam hari, sebelum esok yang melelahkan kembali menghampiri.

Kalis Mardiasih menulis opini dan menerjemah. Aktif sebagai periset dan tim media kreatif Jaringan Nasional Gusdurian dalam menyampaikan pesan-pesan toleransi dan kampanye #IndonesiaRumahBersama. Dapat disapa lewat @mardiasih

(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed