Kolom

Menulis dan Membaca Kembali Surat-surat di Era WhatsApp

Hanputro Widyono - detikNews
Jumat, 16 Mar 2018 13:32 WIB
Foto: istimewa
Jakarta - Puluhan pelajar SMPN 2 Colomadu, Karanganyar berkumpul di Aula Sekolah. Mereka bersekutu untuk menulis surat bersama-sama. Surat mesti ditulis tangan di selembar kertas yang sudah dibagikan. Tampaknya, menulis surat bukanlah hal yang mudah buat mereka. Jari-jemari dan mata pelajar milenial telanjur terpapar kecanggihan telepon genggam. Untuk keperluan berkabar pada orang lain, mereka biasa melakukannya lewat pesan pendek, WhatsApp, Line, atau aplikasi lainnya. Sehingga, barangkali, pengalaman menulis surat --di luar mata pelajaran Bahasa Indonesia-- baru pertama kalinya mereka lakukan.

Kita ingat pernyataan Hildred Geertz dalam bukunya yang terkenal Keluarga Jawa (1983) bahwa "banyak pelajar tak pernah menulis surat untuk orangtua mereka karena takut berbuat salah, terlebih-lebih dalam tulisan". Memang, konteks pernyataan Hildred Geertz itu berlainan dengan situasi yang terjadi di Aula SMPN 2 Colomadu. Hildred membicarakan surat dalam bahasa krama inggil, sedangkan pelajar-pelajar SMPN 2 Colomadu menulis dalam bahasa Indonesia. Meski demikian, pernyataan itu tetap relevan untuk memberi secuil gambaran pelajar-pelajar masa kini.

Keterasingan menulis surat untuk orangtua, khususnya ibu, tampak dari keterbatasan para pelajar untuk menuliskan banyak hal dalam hidupnya. Alhasil, surat-surat yang dihasilkan hanya pendek-pendek. Simaklah surat Vika AFF yang hanya delapan kalimat atau 317 karakter dengan spasi. Surat itu tak lebih panjang dari jumlah karakter dua buah pesan pendek di telepon genggam: "Jujur saja, aku tak mampu tak dapat uang saku darimu. Jangan hukum diriku, karena aku sayang padamu. Mi, ingat enggak, kalau kamu itu selalu janji, janji, janji pada diriku untuk beli Samsung yang 4G LTE? Mi, aku boleh minta sesuatu enggak? Aku minta uang sakunya dilebihin, Mi! Aku sayang kamu. Just you in my heart." Surat ini pelit kata-kata, tapi penuh dengan permintaan. Walau begitu, kita boleh mengapresiasi kejujuran yang coba diungkapkan.

Kebingungan menulis surat, tampaknya juga dialami Arif Aulia Rahman. Arif terasa sedang menulis cerpen ketimbang menulis sebuah surat. Sepanjang surat, pembaca tak dapat menemukan alamat (orang) yang disurati Arif. Kita simak: "Suatu ketika, kududuk termenung dan sedih meratapi nilai rapor ulanganku kurang baik. Satu kata yang terlintas di benak dan pikiranku, 'Aduh, gimana ya kalau dimarahi bapak?' Tak lama kemudian, ibu datang menghampiriku. 'Uwis, Le. Tenang wae. Biji kurang apik rapopo sing penting jujur lan sesuk sinau luweh sregep meneh.' Kata-kata ibu membuatku tenang. Menyejukkan hati dan pikiranku. 'Njeh, Bu!' Jawabku sambil mesem."

Seperti apa pun hasilnya, surat-surat yang rencananya ditujukan buat Ibu telah usai ditulis. Para pelajar tak disuruh mengirimkan suratnya lewat pos. Mereka justru diminta mengumpulkan suratnya untuk kemudian diketik dan dijadikan buku. Pembaca bisa menyimak surat-surat pelajar SMPN 2 Colomadu itu dalam buku berjudul Surat buat Ibu (2018). Surat pun berumah di buku.

Gelagat untuk merumahkan surat di buku tanpa pernah mengirimkannya lewat pos juga dilakukan oleh penyair Joko Pinurbo (Jokpin). Pada 2016, Jokpin menulis surat untuk ibunya dalam bentuk puisi dan dimuat di Buku Latihan Tidur (2017). Di dalam suratnya, Jokpin mengabarkan bahwa di akhir tahun itu ia tak bisa pulang lantaran sedang sibuk demo memperjuangkan nasibnya yang terasa keliru. Jokpin juga menceritakan pertemuannya dengan seorang teman yang dulu sering numpang makan dan tidur di rumahnya. Sayang, pertemuan itu justru memporak-porandakan pertemanan selama ini. Keduanya telah saling sikut gara-gara urusan politik dan uang. Kehidupan di Jakarta bisa mengubah banyak hal, katanya.

Kabar dari Jokpin tak terlalu menggembirakan. Tapi Jokpin selalu berharap ibunya sehat dan bahagia tanpa perlu mengkhawatirkan keadaannya. Di akhir surat, Jokpin menutup dengan kalimat: Selamat Natal, Bu. Semoga hatimu yang merdu/ berdentang nyaring dan malam damaimu/ diberkati hujan. Sungkem buat Bapak di kuburan. Kita tak tahu dalih Jokpin memilih merumahkan surat di buku. Yang jelas, pencetakan surat-surat dalam buku mengakibatkan status mulanya sebagai "surat pribadi" pun berubah menjadi "surat terbuka". Orang-orang akan bebas masuk-keluar wilayah pribadi penulis surat.

Derita perasaan semacam itu dirasakan Ajip Rosidi kala surat-suratnya yang ditulis selama mukim di Jepang hendak diterbitkan. Ajip mengaku kepada J.J. Rizal, penyunting buku Yang Datang Telanjang: Surat-Surat Ajip Rosidi dari Jepang 1980-2002 bahwa ketika buku kumpulan surat-suratnya terbit ia seperti dipaksa bertelanjang di muka umum. Rizal mengatakan, "Semua ditampilkan secara telanjang, apa adanya, dan Ajip telah merelakan setiap orang untuk memasuki daerah yang sangat pribadi, yakni perasaannya, pemikirannya, ide atau pandangan hidupnya, serta lain-lain yang sensitif dan tak mungkin diungkapkan dalam media massa atau forum diskusi."

Kesiapan mental Ajip tentu tak seteguh pelajar-pelajar SMPN 2 Colomadu atau Jokpin yang sejak menulis surat sudah berpretensi bakal merumahkannya di buku. Ajip menulis surat-surat itu benar-benar secara pribadi dan sempat dikirimkan lewat pos kepada teman-teman di Indonesia. Kesadaran menulis "surat terbuka" atau "surat pribadi" tentu berpengaruh pula pada isian yang akan dicurahkannya. Maka saat surat-suratnya dipilihi Rizal, terpaksa Ajip menahan beberapa surat lantaran dianggap belum waktunya disiarkan.

Selama di Jepang, Ajip mengaku menulis sekitar 500 pucuk surat setiap tahunnya. Kita bisa membayangkan betapa banyak surat yang ditulisnya selama 21 tahun di Jepang, mungkin sekitar 10 ribu pucuk. Dan di buku Yang Datang Telanjang itu Rizal hanya memuat 270 surat. Artinya, "ketelanjangan" Ajip tak bulat-bulat amat, seperti melihat Ajip masih mengenakan celana dan singlet. Pembaca percaya keputusan itu telah melalui pelbagai pertimbangan dan bertujuan baik. Sekalipun begitu, penerbitan kumpulan surat Ajip Rosidi tetap penting bagi pembaca yang ingin menyimak perkembangan biografi pemikiran Ajip dari tahun 1980-2002.

Pembaca insaf, ada banyak tujuan dan kepentingan di balik penerbitan surat-surat pribadi. Pramoedya Ananta Toer dalam Panggil Aku Kartini Saja (2012) sempat mendakwa penerbitan surat-surat Kartini oleh J.H. Abendanon berkepentingan untuk memuluskan ambisi pribadi Abendanon. Pemuatan 61 surat Kartini kepada keluarga Abendanon dari total 105 surat dalam Door Duisternis tot Licht (1911) disebut Pram sebagai upaya untuk mencitrakan ketergantungan Kartini pada keluarga tersebut. Padahal diperkirakan, masih banyak surat-surat Kartini kepada alamat lain yang tak disertakan Abendanon. Dampaknya, Abendanon dianggap "sahabat" Pribumi dan peluangnya berkarier dalam kabinet pemerintah Belanda semakin besar.

Penerbitan surat-surat pribadi dalam sejilid buku telah berlangsung lama di Indonesia. Namun, penerbitan buku kumpulan surat di zaman digital ini menjadi semacam kokok ayam di tengah senjakala jagat surat-menyurat.

Hanputro Widyono redaktur sebaran Katebelece

(mmu/mmu)