DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Rabu 07 Maret 2018, 15:46 WIB

Mimbar Mahasiswa

Menanti Kiprah Partai Baru di Pemilu 2019

Deki R. Abdillah - detikNews
Menanti Kiprah Partai Baru di Pemilu 2019 Ilustrasi: Fuad Hasyim
Jakarta -

Pada 17 Februari yang lalu, Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah menetapkan 14 belas partai politik peserta Pemilihan Umum 2019. Keempat belas partai tersebut dinyatakan lolos verifikasi aministrasi dan verifikasi faktual yang dilakukan oleh KPU. Sebelumnya ada 16 partai politik yang diverifikasi oleh KPU, namun dua partai --Partai Bulan Bintang (PBB) dan Partai Persatuan dan Keadilan Indonesia (PKPI)-- tidak lolos karena tidak memenuhi syarat sebagai partai peserta pemilu karena kedua partai itu tidak memenuhi syarat keanggotaan sekurang-kurangnya di 75 persen kabupaten/kota di masing-masing 34 provinsi di Indonesia.

Keempat belas partai politik yang lolos adalah: Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Demokrat, Partai Gerindra, Partai Golkar, Partai Hanura, Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), PDI Perjuangan, Partai Nasional Demokrat (NASDEM), Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Partai Persatuan Indonesia (PERINDO), Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Partai Berkarya, dan Partai Gerakan Perubahan Indonesia (Garuda).

Tentunya masyarakat agak sedikit asing mendengar nama empat partai terakhir, karena keempat partai tersebut merupakan partai baru yang pertama kali mengikuti pemilu yang akan datang. Lalu, bagaimana peluang keempat partai baru tersebut dalam Pemilu 2019 nanti?

PSI, Berkarya, Perindo, dan Garuda tentunya akan menghadapi tantangan yang tidak mudah dalam pemilu yang akan datang. Mereka akan bertarung dengan partai-partai "senior" yang terkenal memiliki simpatisan dan loyalitas yang tinggi di berbagai daerah, dan juga mereka sudah memiliki kandang masing-masing yang kemungkinan akan sangat sulit bergeser suaranya.

Perindo merupakan partai yang baru didirikan pada 7 Februari 2015 yang lalu oleh pengusaha MNC Group yang juga menjabat sebagai ketua umum, Hary Tanoesoedibjo. Sebagai partai baru Perindo memang terhitung cukup populer di antara keempat partai baru yang ada. Menurut survei yang dilakukan oleh lembaga Center for Strategic and Internasional Studies (CSIS) yang dilakukan pada 23-30 Agustus 2017, popularitas Perindo berada di urutan keenam dengan persentase 81,5 persen, mengungguli PSI di posisi 15 dengan 11,5 persen, dan dua partai lainnya. Perindo memang terbantu dengan pengenalan dari TV yang mendongkrak popularitas mereka. Belum lagi, Perindo juga aktif dalam mendorong kegiatan ekonomi masyarakat bawah seperti usaha mikro, kecil, menengah (UMKM).

Selanjutnya ada Partai Solidaritas Indonesi (PSI). Partai ini didirikan 16 November 2014 yang diketuai mantan presenter berita, Grace Natalie. PSI cukup beda dibandingkan dengan parpol-parpol lain. Partai ini ingin menampilkan ciri dekat dengan anak muda dan perempuan. Hal ini dibuktikan dengan keterwakilan perempuan yang mencapai 66 persen. Parpol yang identik dengan warna merah ini juga menerima orang baru di dunia politik. PSI dianggap dapat mewakili generasi millenial yang ingin berpolitik. Hal ini dibuktikan dengan Tsara Amany, mahasisiwi Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Paramadina, yang duduk di jajaran elite Ketua DPP PSI, yang mana hal tersebut Tampaknya akan sulit ditemukan dalam partai lain, yang sekaligus menjadi nilai plus PSI di hadapan anak muda zaman now.

Partai Berkarya didirikan pada 15 Juli 2016, dipimpin oleh Neneng A. Tutty, seorang politikus yang sebelumnya pernah menjabat sebagai Ketua Umum Partai Nasional Republik (NASREP) sebelum pada akhirnya melebur menjadi Partai Berkarya pada Oktober 2016. Putra Presiden ke-2 RI Soeharto, Tommy Soeharto menjabat sebagai Ketua Majelis Tinggi dan Dewan Pembina Partai Berkarya. Partai ini memiliki logo dan warna dominan kuning seperti Partai Golkar.

Terakhir, ada partai Gerakan Perubahan Indonesia (Garuda) yang didirikan pada 16 april 2015. Posisi ketua umum diisi Ahmad Ridha Sabana yang juga menjabat sebagai Presiden Direktur PT Cipta Televisi Pendidikan Indonesia (TPI). Setelah resmi menjadi partai peserta Pemilu 2019, Garuda pastinya harus bekerja keras untuk meraih suara rakyat, karena partai ini boleh dikatakan kalah populer dibandingkan tiga partai baru yang lain.

Hadirnya keempat partai baru ini tentunya dapat dijadikan opsi tambahan bagi rakyat Indonesia dalam menentukan calon pemimpin dan wakil rakyat ke depannya. Partai-partai baru ini diharapkan membawa visi dan misi yang berbeda dibandigkan partai yang telah lama ada. Partai-partai baru ini harus mampu memikat masyarakat pada pemilu yang akan datang jika tidak ingin hanya sekedar numpang lewat dalam kancah perpolitikan Indonesia.

Pada akhirnya penulis berharap, hadirnya keempat partai baru ini dapat meningkatkan kulias perpolitikan yang ada di Indonesia. Memang harus diakui rakyat membutuhkan penyegaran-penyegaran politik dan calon pemimpin yang dapat dijadikan opsi pada pemilu yang akan datang, dan mungkin saja partai baru tersebut dapat menjawab pertanyaan kita selama ini. Welcome to the club, guys!

Deki R. Abdillah mahasiswa Jurusan Ilmu Pemerintahan Universitas Jambi, aktif menulis di media


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed