DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Jumat 23 Februari 2018, 14:37 WIB

Kolom

Bu Dendy Kok Bisa Trendy?

Xavier Quentin Pranata - detikNews
Bu Dendy Kok Bisa Trendy? Ilustrasi: Zaki Alfarabi/Tim Infografis
Jakarta - Seperti fashion, ketik kata kunci 'Bu Dendy' maka sekejap Anda akan mendapat tautan banyak sekali tentang ulah seorang mamah muda yang memarahi seorang sahabatnya sambil menyebar uang lima ratus juta. Ceritanya, Ovie, pengunggah video tersebut di Facebook, mencaci maki Nyla, sahabatnya sendiri yang dia tuduh menjadi pelakor. Dalam sekejap saja video itu menjadi virus yang begitu cepat menular alias viral.

Saat seorang pimpinan media online mengirimi saya link-nya, saya pun sempat menghentikan aktivitas dan melihat video yang berdurasi singkat itu. Singkat tapi melesat. Sambil melihat, sel-sel abu-abu di belakang kepala saya seakan berputar dengan cepat memutar cakram ingatan tentang peristiwa yang mirip dengan itu.

Peristiwa pertama terjadi di Hong Kong. Seorang ibu yang tersinggung berat oleh pramuniaga sebuah toko melemparkan segepok uang ke muka penjaga toko itu, dan meninggalkannya begitu saja. Sikapnya begitu arogan. Dia merasa menang? Kalah! Meskipun dipermalukan, pramuniaga itu seperti kejatuhan durian. Kaya mendadak. Kedua, dua orang sahabat sedang jalan-jalan petang hari. Tiba-tiba sebuah koin terjatuh dari saku temannya. Sang sahabat yang merasa diri orang super-rich, segera mengeluarkan uang 100 dolar AS dan membakarnya untuk menjadi penerang guna mencari koin yang jatuh itu. Arogan plus bodoh!

Saat membaca kemarahan netizen terhadap 'video Bu Dendy' tadi, saya tersedak. Bebauan tak sedap menguar dari komentar itu. Namun, justru dari situlah saya bisa sedikit membaca tanda-tanda zaman edan ini.

Pertama, begitu mudahnya makhluk zaman now mengunggah aib orang tanpa berpikir seberapa jauh jangkauan bau tak sedap itu. Sekali diunggah terlambat sudah.

Seorang ibu menggosipkan seorang romo bahwa dia punya simpanan, padahal kita tahu romo hidup selibat. Saat meminta maaf, romo mengampuni ibu itu dengan satu syarat sebagai pelajaran. Romo meminta ibu itu untuk membawakan sebuah bantal dan mengikutinya ke ruang lonceng di menara gereja yang paling tinggi. Sesampai di atas, romo itu menyodorkan sebuah gunting. Saat ibu itu menggunting bantal itu, kapuk segera tersebar dan tertiup angin ke mana-mana.

"Sudah selesai, Romo," kata ibu itu, "Apa yang harus saya kerjakan berikutnya. Saya siap melaksanakan hukuman ini."

"Ambil kembali setiap butir kapas yang terlepas dari bantal ini," jawab romo itu.

Ibu itu pucat pasi.

Kedua, saat kita melabrak seseorang dengan penuh emosi, kita lupa bahwa reaksi yang salah terhadap aksi yang salah pun bisa menuai badai. Terbukti di antara sekian 'komentator' dadakan itu ada yang 'membela' pelakor, bahkan ada yang membalas dengan mengungkapkan aib lama bahwa penuduh, dulunya pelaku juga. "Bumerang yang kita lempar dengan garang ke orang tanpa perhitungan matang, bisa jadi malah kembali menjadi penyerang dan membuat kita mengerang," begitu tulisan yang saya berikan kepada seorang sahabat yang meminta pendapat saya tentang video viral ini.

Ketiga, akal sehat dan tubuh yang kuat bisa dikalahkan oleh hasrat sesaat emosi yang melesat. Saya percaya seandainya pelempar uang dan pengunggah video itu mau berhenti sesaat untuk berpikir beberapa saat, bisa jadi ceritanya berbeda. "Hati boleh panas, tetapi kepala tetap dingin" merupakan rambu yang tetap teruji validitasnya.

Keempat, jika keinginan akan materi menaklukkan kebutuhan hakiki insani, sahabat sebaik apa pun bisa menikamkan belati beracunnya ke hati kita tanpa peri. Kita bisa terus menggelengkan kepala kita dan mengelus dada tiada henti saat semakin banyak orang yang menghalalkan segala --hoax, hate speech, black campaign-- untuk mengundang clickbait dan mendulang iklan.

Kelima, saat nurani makin termarginalisasi, kita bisa terpeleset dari pijakan batu kokoh penghakiman ke jurang yang menjungkalkan diri saat mendapat kesempatan yang sama. Nasihat pun masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri.

Ketimbang menghakimi Bu Dendy dan malah menjadikannya semakin trendy, bukankah jauh lebih elok jika kita bercermin dan melihat ke dalam relung hati kita yang terdalam dengan satu pertanyaan, "Sudahkah kita membuang gajah di pelupuk mata kita sendiri ketimbang memamerkan selumbar di pelupuk mata orang?"

Xavier Quentin Pranata yang terus belajar mendengar masukan orang lain demi perbaikan diri


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed