Saya juga sadar bahwa saya, sebagai bukti kelanggengan sistem patriarki, kadang takut dipandang sebagai seorang cengeng yang memanfaatkan pengalaman keperempuanannya untuk minta perhatian dan simpati orang lain. Sumpah, saya tidak butuh simpati, cuma mau berisik sekali-sekali; namun minta perhatian sih iya, untuk isu kesehatan mental ibu setelah melahirkan yang sering dianggap sudah jadi paket tanggungan sendiri.
Yang tidak saya sadari dengan mencampurkan jaga mulut dengan tutup mulut adalah saya menyakiti bahkan merugikan keibuan itu sendiri, yang berdetak dalam diri, asal napas saya. Keibuan di sini bukan hanya kata sifat, namun sebagai kalimat lengkap yang membuat kita bisa dimengerti orang lain, melibatkan semua perasaan, pergolakan manusia menjadi ibu: ingin atau tidak, bisa atau tidak, perjuangan, kegagalan, keberhasilan, bimbang, sesal, takut, luka, suka, dan duka.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Definisi dan pengalaman keibuan yang sempit dari dulu membuat saya ingin sembunyi sampai tidak ingin orang lain tahu kalau saya punya rahim (dianggap pasti tokcer) atau sedang hamil (makanya diharapkan setiap hari). Saya tak akan pernah lupa dokter kandungan saya yang perempuan, usianya sekitar 60 tahun, dan tidak punya anak. Gosipnya banyak, alasan sebenarnya tak ada yang tahu. Seseorang yang menolong orang lain menjadi ibu, kurang keibuan apa? Jarang sekali dibahas apalagi jadi inspirasi.
Di akhir pekan belum lama ini saya menemukan sekumpulan video pendek tentang motherhood di media daring The New York Times yang diunggah pada 16 Januari 2018. Kata yang tak pernah gagal menerbitkan citra manis ibu dan anak, keluarga bahagia dan terusirnya saya dari dunia pekerjaan bergaji karena tak mampu bayar pengasuh itu (saya sedang tidak tinggal di Indonesia), mengingatkan saya pada usaha curcol dua tahun yang lalu. Dalam pengantar pendek video itu dikatakan bahwa tak ada satu pun pengalaman menjadi ibu yang sama, karenanya menimbulkan beragam karakter ibu dari cerita yang berbeda-beda.
Hati saya seketika berdebar, pikiran terpantik, kerinduan untuk mendengar cerita ibu-ibu menyeruak lagi begitu saja. Saya merasa sedang berada di kamar tidur bersama teman-teman baru, saling berdempetan di ranjang ditopang bantal dan menyelimuti ujung kaki-kaki yang dingin karena kami tak sabar untuk saling mendengarkan cerita yang biasanya tak berani kami ceritakan kepada siapa-siapa.
C menyaksikan bagaimana ibu, nenek, dan buyutnya melahirkan begitu banyak anak, dan C melihat pengalaman mereka sebagai suatu beban yang memberatkan. C tak habis pikir mengapa mereka mau dibebankan seperti itu? Maka C pun memakai kontrasepsi dan tak ragu melakukan aborsi ketika terjadi kecelakaan. Suatu waktu, C jatuh cinta kepada duda beranak satu. Tiba-tiba saja ia merasakan dorongan itu. Masalahnya, bila cuma dorongan itu gampang ditepis. Namun C menginginkan. Tak ada tekanan dari siapa pun. Dari awal pacar C tahu bahwa ia tak mau punya anak. C pun hamil. Ia bersyukur ia menunggu sampai siap. Apakah C memutuskan punya anak karena ia telah menemukan lelaki yang tepat? Salah. Jelas-jelas C tidak bercerita kesulitan mendapatkan pacar. C terkenang akan apa yang dikatakan ibu, nenek, dan buyutnya tentang menjadi ibu. It just happened. Perbedaannya adalah dahulu orang-orang tua itu tidak tahu bahwa mereka punya kontrol akan tubuh mereka.
G seorang ayah, sangat cemburu melihat kedekatan istri dan bayi mereka yang baru lahir. Ia ingin melakukan apa yang istrinya lakukan yakni melahirkan dan menyusui, tidak hanya berbagi pengasuhan. Keinginan aneh ini membuatnya ketakutan dan menderita. Ia melakukan tugasnya sebagai ayah secara setia namun tetap tersiksa sampai pada suatu waktu ia mantap ingin menjadi perempuan yang pelan-pelan akan dipanggil, dipandang, dicintai sebagai ibu walaupun tidak bisa melahirkan atau menyusui.
Y tidak mengenal ibunya. Satu hal yang paling ia ingat adalah kesedihannya. Ketika mengetahui ibunya bunuh diri, Y berusaha keras untuk melupakannya. Ia berhasil sampai suatu ketika ia menikah dan melahirkan. Awalnya ia seperti berada di puncak kebahagiaan namun ketika menunduk ia melihat jurang. Y harus melewati masa-masa yang dilalui ibunya tapi ia belajar membuka diri dan berani minta pertolongan.
Dunia L terguncang ketika menerima kabar bahwa suaminya seorang aktivis meninggal dalam tugas di luar negeri. Namun ia terhibur begitu mengetahui dirinya hamil. Duka dan bahagia melebur. Ia berjanji akan membuat suaminya bangga akan anak mereka. Membawa Barbie ke mana pun ia pergi, L tak terkejut ketika anaknya lelaki ingin menjadi prinses pada hari Halloween. Ia membujuk anaknya untuk menjadi Peter Pan namun tidak mempan. L mengingat keberanian suaminya. Ia pun membuatkan gaun prinses untuk anaknya dan dirinya sendiri. L percaya bahwa salah satu bentuk keberanian yang ia ingin ajarkan kepada anaknya adalah menjadi diri sendiri. Janji L adalah kepada yang hidup.
Kemudian ada M yang menemukan dirinya hamil di bawah umur. Aborsi bukan pilihan. Ia pun terpaksa menjadi ibu. Ada juga J dan K, kakak adik yang kakaknya ingin sekali punya anak namun tidak memiliki sel telur dan sang adik yang tanpa direncanakan hamil.
Hanya mendengar suara dan cerita tanpa melihat wajah pun (semua cerita dianimasikan, dinarasikan oleh narasumber), saya langsung merasa mereka teman saya. Hati ini ringan dan mekar sekaligus. Cerita-cerita di atas menggambarkan ibu sebagai rasa, bebas wujudnya apa, dan tak ada buku instruksinya. Saya baca semua buku persiapan dan pasca kelahiran cara Barat dan Timur yang bisa saya temukan, tapi dalam perjalanan sesungguhnya tetap saja saya sendiri. Tidak semua ibu bisa dimasukkan dalam kelompok atau grup. Lantas, bagaimana dengan suara-suara ibu di negara kita?
Dengan segala macam tradisi dan budaya yang mengatur serba-serbi kehidupan manusia, serta faktor sosioekonomi yang ekstrem harusnya banyak sekali ragam cerita menjadi ibu di sini. Memang sudah menjadi rutin di majalah dan tabloid wanita karena di situlah tempatnya. Tapi, apakah mewakili kamu, saya? Dijadikan fokus istimewa di pentas nasional pun paling setahun sekali pas Hari Kartini atau Hari Ibu. Diliputlah ibu-ibu berprestasi pilihan mereka yang pantas disajikan sebagai contoh sukses sementara di sekolah anak saya yang unggulan di ibu kota masih diadakan lomba busana dan masak.
Kembali ibu menjadi gambar yang tunggal dan kaku, terpaku di dinding. Kita tak boleh tahu pergolakan jiwanya yang sesungguhnya. Ibu harus menakar hati, tak boleh berkata sejujur-jujurnya. Ibu tidak bisa jadi ubi atau bui. Menyalahi kodrat, katanya, walaupun memang itu kodratnya juga. Saya merasakan itu: mengakar, menjalar, dan berguna seperti ubi, juga kadang seperti di bui karena terbatasnya lingkup aktivitas dan pilihan pekerjaan. Sebagai ibu saya ingin dibolak-balik artinya, didistorsi gambarnya. Ibu yang lebih luwes, sulit ditebak, akan mengejutkan, membanggakan, dan mungkin membuat marah, namun kita akan lebih memahami ia.
Terbayang terus cerita-cerita dari kumpulan video di The New York Times itu, saya jadi merenung, seperti apa cerita dokter kandungan saya bila ia mau bercerita? Atau, daripada memikirkan yang jauh, yang dekat saja yaitu ibu sendiri. Apakah cerita beliau bila keluar dari mulut sendiri? Setiap orang pasti punya cerita apalagi mengenai hal sebesar konsepsi, asal-usul kehidupan, dan situasi yang menyertainya. Bila ia diminta menceritakannya untuk orang banyak walaupun menggunakan inisial atau nama samaran (ia akan menjadi S), pasti menolak. Malu, tidak pantas mengeluh dan tak pandai mengungkapkan rasa, apalagi bercerita sejujurnya.
Yang saya tahu mengenai ibu saya adalah penyesalannya. Bahwa ia harus bekerja setelah melahirkan sampai anak-anaknya lulus sekolah karena suaminya tak becus. Ia selalu merindukan kami yang sering harus dititip ke rumah nenek karena bisa apa suaminya mengurus anak? Ayah berpikir karena ia sudah menyediakan toko untuk menjadi sumber penghidupan keluarga kami, maka ia bisa ongkang-ongkang kaki. Ibu menyesal tak pernah punya cukup waktu untuk anak-anaknya. Bila saya sering sakit sampai sebesar ini, ia akan menyalahkan dirinya sendiri karena kurang memperhatikan kebiasaan makan saya sejak kecil. Padahal itu sama sekali bukan salahnya.
Ada juga seorang saudara jauh yang selalu dibicarakan oleh keluarga besar karena ia tak kunjung hamil setelah bertahun-tahun menikah. Sang suami disebut untuk dikasihani. Saudara saya itu diam saja, mungkin memaki-maki dalam hati atau sedih karena tidak ada yang bisa ia ajak bicara. Saya juga ingat seorang kawan yang pucat, ketakutan, terbata-bata membocorkan suatu rahasia atau aib (tergantung rasa keadilan masing-masing) bahwa ia telah melakukan aborsi. Ia sudah memiliki dua anak dan tak ingin punya yang ketiga. Saya tak bertanya kenapa, hanya bisa menduga. Ia pun tidak melanjutkan bercerita, lega sedikit saja berbagi beban.
Belum lama ini ada cerita lagi seorang ibu membunuh bayinya. Cuma di kolom kecil sebuah koran nasional tentang Jakarta dan sekitarnya. Seorang perempuan berusia 21 tahun diduga melahirkan dan langsung membunuh bayinya dengan pisau di dapur restoran tempat ia bekerja. Si bayi dimasukkan ke kantong plastik dan dibuang ke tong sampah. Pernyataan polisi adalah tersangka diduga telah melakukan kekerasan terhadap korban di bawah umur sampai membunuhnya. Pemberitaan kecil yang sangat memberatkan tanpa memeriksa dan melaporkan latar belakang peristiwa dalam satu atau dua kalimat saja; berpihak pada hukum namun tak memperhatikan keadaan manusianya walaupun ia pembunuh. Perempuan muda itu tidak sanggup jadi ibu.
Bagaimana kalau banyak yang seperti dia? Apakah itu bukan berita yang menarik, bahkan darurat, untuk kepentingan pembuat kebijakan yang mengatasnamakan kesejahteraan? Betapa ingin saya mendengar cerita yang keluar dari mulut orang-orang ini sendiri. Apakah kau memutuskan untuk jadi dokter kandungan justru karena didakwa tidak bisa punya anak? Apa rasanya dipisahkan dari anak sendiri karena pekerjaan yang seharusnya ditanggung bersama? Bagaimana akhirnya kau memutuskan aborsi walaupun tahu bahwa kau tak akan pernah melupakannya? Mengapa tidak ingin punya anak?
Dan, tak terhitung banyaknya cerita yang tak akan pernah sama dari satu pribadi dan tempat ke pribadi lainnya di tempat lain, yang layak diketahui oleh setiap orang di luar media perempuan. Sebelum itu terjadi, harus ada yang terus bersuara, walaupun hanya diwakilkan oleh nama samaran atau satu huruf saja. Apa ceritamu? Atau, kita bisa mendatangi ibu atau ayah atau siapa pun yang membesarkan kita dan meminta mereka untuk tidak mendongeng malam ini tapi bertanya, apa yang kau pikirkan tentang kelahiranku? Dan, tuliskan.
Hampir sepanjang sejarah, anonim adalah perempuan - Virginia Woolf
Inilah suratku pada dunia, yang tak pernah menulis padaku - Emily Dickinson
Aku tersesat di negeri sampah katakata, kubangun rumah kecil dalam puisi hati nurani - Dorothea Rosa Herliany
Cyntha Hariadi penyair dan penulis cerita, bukunya yang telah terbit Ibu Mendulang Anak Berlari (kumpulan puisi) dan Manisfesto Flora (kumpulan cerita pendek)
(mmu/mmu)











































