Kolom

Dilan 1990 dan Politik "Baper"

Wahyudi Akmaliah - detikNews
Rabu, 21 Feb 2018 11:30 WIB
Foto: istimewa
Jakarta - Saat melihat cuplikan Dilan 1990 di bioskop akhir 2017, saya tidak menganggap itu film penting yang patut ditonton dan masuk daftar yang wajib ditonton. Sebelumnya, tiga buku karya Pidi Baiq (Dilan: Dia adalah Dilanku tahun 1990, Dilan: Dia adalah Dilanku tahun 1991, dan Milea: Suara dari Dilan), yang selalu terpampang di bagian buku terlaris di toko-toko buku besar, tidak pernah saya lirik menjadi bagian penting dalam studi saya mengenai budaya pop.

Namun, saat novel itu diadaptasi menjadi novel dan kemudian diputar sejak sekitar 25 Januari 2018, banyak dari warganet kemudian membicarakannya dan kemudian membuat meme terkait dengan ungkapan-ungkapan Dilan yang romantis sekaligus anti-arus utama (mainstream). Tidak berhenti di sini, saat makan siang bersama dengan para kolega, mereka juga membicarakan novel-novel tersebut dan filmnya. Alih-alih terlibat dalam perbincangan, lagi-lagi saya hanya melongo mendengarkan mereka berbicara. Saya merasa orang yang paling tertinggal dalam arus informasi yang sedang dibicarakan oleh warganet. Kondisi tertinggal informasi ini seperti teror yang terus membayangi saya.

Berbekal rasa penasaran dan untuk menghilangkan sikap "kudet" (Kurang Update), sepulang kerja saya pun langsung membeli tiga buku tersebut. Berbekal buku pertama (Dilan 1990), yang saya baca semalaman, keesokan harinya saya menjadwalkan untuk menonton siang hari. Film yang disutradarai sendiri oleh Pidi Baiq dan Fajar Bustomi ini bercerita mengenai cinta monyet anak remaja SMU. Sebenarnya, pasca rezim Orde Baru, film dengan tema anak-anak sekolah putih-abu-abu ini sudah muncul, mulai dari Ada Apa Dengan Cinta (2002), Catatan Akhir Sekolah (2005), Cinta Pertama (2006), Crazy Love (2013), 3600 Detik (2014), Remember When (2014), Janji Hati (2015), dan Galih dan Ratna (2017). Namun, kecuali film AAC, dari sejumlah film tersebut, belum ada yang menarik jumlah penonton yang begitu banyak. Dalam 2 minggu, film ini sudah ditonton 3 juta orang.

Memang, kebanyakan novel laris manis biasanya akan menarik perhatian orang untuk menonton saat materi tersebut dijadikan film. Novel Ketika Cinta Bertasbih dan Ayat-Ayat Cinta adalah di antara contoh tersebut. Meskipun demikian, harus diakui, tidak semua novel yang difilmkan akan menarik pembaca untuk menonton. Tingkat penjualan novel yang laris di pasaran biasanya menjadi ukuran rumah produksi untuk memfilmkan karena mereka sudah memperhitungkan target penonton yang disasarnya. Bagi saya, isi cerita dan representasi filmis yang dimunculkan dalam Dilan 1990 ini bisa menjadi semacam gambaran penonton semacam apa yang menjadi segmen pasar film ini di tengah sudah munculnya film remaja bertema abu-abu yang saya sebutkan sebelumnya.

Film ini bercerita mengenai remaja puteri bernama Milea, anak SMU kota Bandung, pindahan dari Jakarta. Saat pertama kali masuk sekolah, dengan wajahnya yang cantik dan kepolosannya, ia menjadi bunga sekolah yang menjadi pembicaraan banyak orang. Meskipun sudah memiliki pacar di Jakarta, banyak anak lelaki suka dengannya. Namun, di antara mereka, ada satu lelaki yang menganggap dirinya sebagai peramal, bersepeda motor. Anak itu terkenal dengan kenakalannnya. Selain suka berkelahi, ia juga tergabung dalam geng motor dengan menjabat posisi tertinggi, Panglima Perang.

Awalnya, Milea menganggap ia sebagai orang yang aneh. Namun, semakin lama berinteraksi dan caranya dalam menjaga dan mengapresiasi perempuan, Dilan diam-diam telah mengisi relung hatinya di tengah ia memiliki pacar di Jakarta, yaitu Beni. Film yang tokoh utamanya diperankan dengan baik oleh Iqbaal Ramadhan (Dilan) dan Vanesha Prescilla (Milea) ini bercerita mengenai dua insan muda yang sedang mencari dan kemudian menemukan pasangan platonisnya.

Bagi saya, film ini menyampaikan dua hal penting untuk segmen penonton. Pertama, bagi anak-anak muda, khususnya remaja yang masih duduk di Sekolah Menengah Umum, film ini ini semacam energi dan vitamin di tengah kehidupan manis-manis pahit yang sedang mereka jalani. Menjadi energi, mereka bisa membayangkan menjadi sosok Dilan dengan kombinasi nakal-pintar, romantis-apa adanya, dan berpikir nyeleneh (out of the box) bagi laki-laki. Sementara itu, sosok Milea yang cantik, tegas, dan cuek, tapi luluh hatinya saat diperhatikan, yang menginginkan pacar seperti Dilan, juga masuk dalam bayangan anak-anak muda semacam ini.

Dengan sikap memproteksi Milea seperti tuan putri yang tidak boleh disentuh, dan di satu sisi relatif tindakannya dalam mengungkapkan kasih sayangnya tidak bisa ditebak, sosok Dilan menjadi imajinasi lelaki ideal yang selalu dicari dalam dunia nyata. Sementara itu, ungkapan-ungkapannya yang romantis tapi tidak terjatuh dalam upaya melebih-lebihkan (lebay), dengan retorika yang sangat layak kutip (quotable) untuk di-posting di Facebook, Instagram, Twitter, dan Path, menjadi vitamin mereka untuk mendekati (pedekate), sosok perempuan atau laki-laki yang menjadi idaman mereka, baik teman sekelas, adik kelas, dan kelas sebelah.

Kedua, bagi orang dewasa yang telah melewati masa itu, baik saat ini sedang kuliah, bekerja, ataupun menikah dan menjadi ayah serta istri untuk anak-anak, film ini merupakan kapsul waktu yang melempar mereka ke masa lalu di tengah keterbatasan teknologi. Di tengah terbatasnya telepon genggam pada tahun 1990-an yang hanya dimiliki oleh segelintir orang-orang elite perkotaan, komunikasi melalui surat-menyurat dan menelepon melalui telepon rumah dan telepon umum dengan menggunakan koin merupakan bentuk kesederhanaan sekaligus daya magnet bagaimana romansa masa lalu itu dihidupkan dalam film ini.

Di sini, Dilan dan Milea menjadi representasi masa lalu yang mengajak orang untuk mengingat dan menghadirkan masa lalu dan nama-nama yang pernah terkenang dalam ingatan mereka; mendapatkan surat kaleng dari seseorang yang tidak dikenal, ditembak cowok yang tidak disukainya, mengharapkan cinta berbalik kepada cowok-cewek idamannya, hingga cinta monyet yang membuat mereka tertawa saat mengenangnya.

Dengan kata lain, film ini menghadirkan politik mengingat di mana kemudian orang membawa perasaan (baper) masa lalu mereka pada saat ini. Politik baper ini tidak hanya berhenti dalam ingatan melainkan menjadi rasa penasaran yang akut. Tidak sedikit dalam akun Twitter dan Instagram orang bertanya kepada "Imam Besar" The Panasdalam ini terkait dengan sosok Dilan dan Milea sesungguhnya. Pidi Baiq sendiri mengakui bahwa sebagian besar novel ini berdasarkan kisah nyata dan juga hasil riset. Meskipun demikian, untuk menjaga privasi, Milea dan Dilan sebagai sosok dirinya sendiri yang di novel dan di filmkan tetap dirahasiakan.

Terlepas dari sosok sesungguhnya mengenai tokoh Dilan dan Milea di dunia nyata, bagi saya, film ini telah menghadirkan satu genre dalam film remaja Indonesia, yaitu politik baperan. Disebut demikian, karena film ini menghadirkan representasi masa lalu kepada orang-orang yang menonton sekaligus cermin kepada para remaja. Di tengah itu, mereka merepresentasikan dirinya dalam dua sosok itu sambil mencoba memastikan apakah Dilan dan Milea itu tokoh yang benar ada atau itu fiksi yang diciptakan oleh Imam Besar tersebut. Kehadiran media sosial dan daya sebarnya yang cepat dan masif memperkuat daya artikulasi baper tersebut.

Wahyudi Akmaliah peneliti di Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan (P2KK) LIPI

(mmu/mmu)