DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Senin 19 Februari 2018, 09:55 WIB

Kolom Kang Hasan

Pendidikan Seks untuk Anak

Hasanudin Abdurakhman - detikNews
Pendidikan Seks untuk Anak Hasanudin Abdurakhman (Ilustrasi: Edi Wahyono)
Jakarta - Banyak pertanyaan kepada saya tentang pendidikan seks untuk anak. Kapan sebaiknya dimulai? Bagaimana cara menjelaskannya?

Hal pertama yang harus disadari oleh para orangtua bahwa pendidikan seks tidak selalu bicara soal senggama. Pendidikan seks adalah upaya untuk memberikan informasi dan pemahaman tentang seksualitas. Apa itu seks? Seks itu kelamin. Mengenalkan soal seks sesederhana memperkenalkan bahwa manusia dan makhluk-makhluk lain punya jenis kelamin yang berbeda.

Kapan sebaiknya anak dikenalkan dengan materi seks? Ini pertanyaan yang sering diajukan. Menariknya, pertanyaan ini sering pula diajukan orangtua mengenai banyak hal, bukan hanya soal seks. Jawaban saya adalah, tidak ada standar. Anak-anak itu unik. Perkembangan mereka pun unik. Maka, untuk memulai sesuatu soal anak, kita tidak bertanya tapi mencari jawabnya dari anak kita sendiri. Jangan pernah menjadikan anak orang lain sebagai acuan. Kalau kita biasa berkomunikasi dengan anak, kita akan tahu kapan saat yang tepat untuk melakukan atau mengajarkan sesuatu.

Kalau kita memandang seks sebagai soal yang bukan melulu soal senggama, maka sebenarnya soal pendidikan seks bukan hal yang sangat spesifik. Ini hanya soal informasi biasa, sesederhana memperkenalkan bahwa ayah adalah laki-laki, dan ibu perempuan. Selanjutnya, secara alami kita jelaskan apa beda laki-laki dan perempuan. Dari situ kita bisa mulai menjelaskan soal perbedaan anatomi.

Menjelaskan soal kelamin memang sering jadi hambatan bagi banyak orang. Banyak orang merasa rikuh atau sungkan. Apa masalahnya? Masalahnya bukan pada topik yang dibahas, tapi soal persepsi yang ada di benak orang tentangnya. Kita semua dibesarkan dengan memandang seks sebagai tabu. Maka, kita enggan membicarakannya.

Untuk menyederhanakannya, ingatlah bahwa alat kelamin hanyalah salah satu bagian dari tubuh. Dalam pelajaran biologi, anak-anak belajar soal sistem kerangka tubuh, otot, peredaran darah, saraf, dan sebagainya. Kelamin adalah bagian dari sistem reproduksi. Tidak ada yang istimewa soal itu dari sudut pandang anatomi. Maka, tidak perlu pula pembahasannya dilakukan secara istimewa.

Maka jelaskanlah bagian-bagian tubuh secara apa adanya. Dengan cara itu anak-anak akan memandang soal seksualitas secara alami. Rasa malu atau sungkan kita justru akan membuat topik ini menjadi misterius, dan sulit dijelaskan.

Anak-anak di usia dini biasanya tidak bertanya soal senggama. Mereka lebih sering bertanya soal dari mana aku berasal, atau adik bayi berasal. Ketika pertanyaan itu muncul, jawaban yang harus kita berikan adalah jawaban yang benar, dalam bahasa yang mudah dicerna anak.

Cepat atau lambat, kita memang harus menjelaskan soal senggama. Dalam soal ini, tembok kejengahan orangtua jadi menjulang tinggi. Apakah senggama demikian istimewa? Sama seperti penjelasan soal organ, senggama juga bukan sesuatu yang istimewa. Anak-anak harus belajar soal makhluk hidup yang berkembang biak. Salah satu cara berkembang biak adalah melalui perkawinan. Dalam hal manusia, itu disebut senggama.

Dari sudut pandang lain, manusia melakukan berbagai hal untuk memenuhi kebutuhannya, seperti makan, tidur, dan bergaul. Berhubungan seks hanyalah salah satu bagian dari kebutuhan itu. Anak-anak harus diajarkan untuk memahami senggama dengan cara itu.

Tapi, bukankah senggama hal yang tidak sepatutnya dilakukan secara terbuka? Ya. Ada tata krama untuk setiap tindakan. Makan ada tata kramanya. Ada makanan yang boleh dimakan, ada yang tidak. Saat makan pun ada tata krama yang harus dipatuhi. Demikian pula soal hubungan seks. Ini pun bagian dari pendidikan seks yang harus kita lakukan terhadap anak.

Ringkasnya, tidak ada hal khusus yang membuat seks itu jadi sulit untuk diajarkan. Yang membuatnya sulit hanyalah cara berpikir kita. Untuk membuatnya mudah, ubahlah persepsi kita tentang seks.

Hasanudin Abdurakhman cendekiawan, penulis dan kini menjadi seorang profesional di perusahaan Jepang di Indonesia


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed