DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Selasa 13 Februari 2018, 15:06 WIB

Sentilan Iqbal Aji Daryono

Tentang Ibu Muslimah Penyapu Gereja dan Virus Dengki di Atas Kasus Intoleransi

Iqbal Aji Daryono - detikNews
Tentang Ibu Muslimah Penyapu Gereja dan Virus Dengki di Atas Kasus Intoleransi Iqbal Aji Daryono (Ilustrasi: Edi Wahyono)
Jakarta - Baru saja terjadi peristiwa geger di Gereja St. Lidwina, Sleman, Jogja. Seorang lelaki muda membacok jemaat gereja yang sedang beribadah. Memang belum ada keterangan resmi dari polisi tentang siapa pelakunya. Namun sudah tersebar ke khalayak dari para saksi di sekitar, bahwa si pembacok melakukan itu dengan motif keyakinannya, dan membenci umat yang berbeda agama dengan dirinya.

Mendengar peristiwa itu, seorang dokter yang aktivis Muhammadiyah datang ke TKP bersama istrinya. Dokter Ahmad Muttaqin Alim namanya, datang untuk menyatakan simpati dan belasungkawa. Kebetulan Pak Dokter datang masih berkain sarung, karena rumah mereka cuma sepelemparan molotov dari gereja. Sebagai keluarga muslim yang taat, istri Pak Dokter juga memang berjilbab.

Maka, ketika dalam kunjungan mereka Bu Alim ikut bebersih lantai gereja yang masih berdebu karena remah-remah patung Yesus yang dihancurkan si penyerang, Pak Dokter gatal memotretnya. Foto itu tersebar cepat. Saya sendiri ikut menyebarkannya di akun Facebook saya, dan ada ribuan orang yang ikut membaginya.

Inilah visualisasi foto itu: Seorang ibu berjilbab memegang sapu dan pengki, membersihkan lantai gereja. Di hadapannya ada salib besar, dan di sebelahnya ada patung Yesus yang wajahnya sudah hancur. Adakah pemandangan yang lebih dramatis dari ini?

Bayangkan saja. Dada ribuan orang tengah dagdigdug karena ada kabar buruk tersebar tentang seorang pemuda muslim yang menyerang gereja dan menyabetkan parang ke beberapa jemaat termasuk ke pasturnya. Maka, foto ibu penyapu itu ibarat hydrant yang disemprotkan ke tumpukan bara. Ia setara dengan segelas es teh yang disuguhkan saat Anda megap-megap karena saking hausnya.

Adakah yang buruk dari pesan perdamaian yang tersebar lewat foto itu? Saya kira tidak sama sekali. Ia bukan ajakan kepada umat muslim untuk murtad pindah keyakinan. Ia tidak menunjukkan seorang muslimah yang ikut beribadah dengan cara Katolik. Ia juga tidak membawa secuil pun pesan agar penonton foto itu membenci Islam, membenci umat Islam, mendiskreditkan kaum muslimin, atau saling berkonspirasi untuk melemahkan ghirah keislaman yang berkobar-kobar. Sama sekali tidak.

Yang saya bayangkan akan muncul sebagai efek dari foto itu sesederhana mekanisme komunikasi publik dalam logika marketing-informasi yang paling gampang. Pertama, umat Katolik jadi percaya bahwa si pembacok bukan representasi umat Islam, dan tidak semua orang Islam berpandangan sama dengan si pembacok. Kedua, umat Islam dari kalangan awam jadi paham bahwa agamanya bukan agama yang mendukung tindakan si pembacok, dengan bukti bahwa seorang muslimah bersimpati kepada korban pembacokan. Ketiga, secara lebih luas foto itu membela kehormatan Islam dan umat Islam. Apa yang sekilas terkesan buruk dari perilaku berislam seorang oknum muslim dengan segera dinetralisasi oleh citra dalam foto itu.

Namun malang sekali, ternyata tak semua orang mengambil kesan positif seperti itu. Banyak di antara kerumunan itu yang lebih suka mengambil buruknya (entah dari warung mana mereka mengambilnya), dan justru mengekspresikan sikap-sikap dengki yang jauh dari proporsional. Saya heran luar biasa.

Lalu kenapa banyak orang Islam sendiri yang konon mengaku pencinta damai justru tidak suka dengan tersebarnya foto ibu muslimah penyapu gereja? Apakah mereka ingin proses netralisasi citra dalam benak publik awam tidak berjalan, sehingga nantinya secara "hukum marketing informasi" si tukang bacok bisa-bisa malah menjadi representasi tunggal atas Islam?

Simak saja beberapa tulisan yang tersebar luas di media sosial. Di situ dikatakan bahwa umat Islam juga korban, terbukti dari dua kasus yang terjadi di Jawa Barat beberapa waktu lalu, tentang ulama yang dipukuli dan dibunuh. Dengan kenyataan itu, kenapa para pejabat dan tokoh seperti Buya Syafii Maarif hanya mendatangi Gereja St. Lidwina? Begitu mereka menggugat, sembari mengatakan bahwa semua itu merupakan sikap tidak adil kepada umat Islam.

Lebih nyelekit lagi ketika tak kalah banyaknya orang membagi unggahan dangkal di Facebook yang secara spesifik menghujat Buya Syafii Maarif. Buya digugat karena mengunjungi Gereja St. Lidwina untuk menyatakan prihatin, padahal beliau tidak mendatangi para ulama yang dianiaya. "Ulama dianiaya dan dibunuh ente diam saja. Tapi begitu ada yang nyerang gereja, ente ribut!"

Suara-suara dengki seperti itu menyebar dengan cepat, gampang, diiringi umpatan-umpatan. Saya berdecak kagum dan tak habis pikir. Betulkah segampang itu umat Islam mendengki? Apa iya mereka tidak berpikir sebentaaaar saja, lalu secara lebih cermat mengukur porsi masalahnya?

Begini lho, Mas, Mbak. Membandingkan antara dua kasus di Bandung kemarin hari dengan peristiwa di Gereja St. Lidwina Jogja itu ngawur dan waton suloyo. Kiai Umar Basri alias Mama Sentiong dipukuli, Ustaz Prawoto dianiaya hingga akhirnya meninggal. Siapa pelaku-pelakunya? Tidak ada kabar jelas tentang itu, selain keterangan resmi bahwa salah satu pelakunya gila (kabar terakhir, penganiaya Ustaz Prawoto tidak gila dan bisa diproses hukum). Artinya, tidak ada isu benturan antara dua agama yang berbeda pada kedua kasus tersebut. Sekali lagi: tidak ada potensi isu benturan antaragama.

Bandingkan dengan peristiwa di Jogja. Korbannya jelas jemaat gereja Katolik, identitas pelakunya sudah tersebar di masyarakat sebagai muslim dan motifnya juga terkait dengan keyakinan dia. Iya, iya, saya paham, belum ada keterangan resmi dari polisi. Tapi kita sedang bicara tentang komunikasi publik dan mekanisme riil persebaran informasi di zaman medsos, bukan? Artinya apa? Jelas sekali, kasus di Jogja membawa potensi gesekan, potensi kecurigaan, potensi prasangka, dan potensi remuknya kohesi sosial karena melibatkan dua agama yang berbeda.

Maka, kedatangan para pamong masyarakat ke Gereja St. Lidwina adalah upaya meredam potensi konflik yang lebih besar. Saya mendukung-mendukung saja jika para pejabat dan Buya Syafii datang ke Bandung. Tapi skala persoalannya beda jauh, Bro. Kalaulah datang ke Bandung, yang akan dijalankan adalah ekspresi simpati berbelasungkawa. Tidak ada misi peredaman potensi konflik antaragama di sana. Dengan istilah lain, dalam kacamata skala prioritas, tidak ada yang keliru ketika kehadiran ke Jogja lebih diprioritaskan daripada ke Bandung.

Akan beda kasusnya ketika yang terjadi adalah seorang radikalis Kristen menghajar seorang mubaligh di sebuah masjid. Itu baru perbandingan kasus yang setara. Nah, jika itu terjadi (semoga itu tidak pernah terjadi), haqqul yaqin kasus itu pun akan menjadi prioritas dalam upaya komunikasi publik dalam meredam potensi konflik.

Maka pertanyaannya, rasa dianaktirikan dan imajinasi bahwa umat Islam mengalami ketidakadilan itu datang dari mana? Saya bantu menjawabnya: dari rasa dengki yang muncul dari kacamata yang buram dalam melihat persoalan.

Yang lebih parah lagi sebenarnya ketika kedatangan Buya Syafii ke St. Lidwina dipersoalkan. Sebab ada faktor teknis yang tidak diketahui publik luas terkait itu, yakni fakta keras bahwa memang rumah Buya Syafii di bilangan Nogotirto hanya sejarak lima menit perjalanan dari lokasi Gereja St. Lidwina hahaha! Anda juga pasti baru tahu sekarang, to? Mereka memang tetanggaan. Dan kalau Buya bertetangga dengan Ustaz Prawoto, dengan jarak rumah yang sama-sama lima menit perjalanan, mustahil beliau tidak datang melayat.

Hufff. Ya sudah. Mungkin sikap-sikap dengki semacam itu akan selalu muncul sebagai fitrah dalam sebuah negeri yang penuh keragaman. Entah, apakah ajakan untuk menalar persoalan secara lebih proporsional akan bermanfaat ataukah tidak, di saat imajinasi dan teori konspirasi menguasai alam pikiran kita sehari-hari. Namun saya sendiri lebih suka berdiri bersama Bu Alim yang menyapu lantai Gereja St. Lidwina, bersama Haji Bambang di Kuta Legian, bersama bapak-bapak Relawan Pembersih Masjid at-Taqwa yang ikut memperbaiki Gereja Oikumene Samarinda.

Dengan cara-cara merekalah, Islam menemukan pembelaannya yang sangat nyata.

Iqbal Aji Daryono esais, tinggal di kampung sejarak 30 menit perjalanan dari Gereja St. Lidwina


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed