DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Jumat 09 Februari 2018, 14:20 WIB

Kolom

Tidak Ada "Musik Indie" di Indonesia!

Do Ro - detikNews
Tidak Ada Musik Indie di Indonesia! Foto: Dyah Paramita Saraswati
Jakarta - Januari 2018 majalah musik ternama dan terakhir di Indonesia, Rolling Stone Indonesia (RSI) resmi tutup buku. Meski franchise, RSI saya sebut paling akhir salah satu media arus utama yang bergelut di bidang musik setelah sebelumnya ada HAI, Gitar Plus, Trax, Kort dan Newsmusik mengakhiri masa terbitnya. Banyak yang menyayangkan, bahkan cenderung melebihkan seolah ketika RSI mengumumkan berhenti terbit, media musik Indonesia sudah mati, sementara media musik daring masih belum dianggap "ada" lantaran isinya kurang berani menonjolkan kritik selain promosi band/penyanyi saja.

Anda boleh sependapat dan tidak sependapat sedangkan hingga kini mungkin sudah selayaknya kita sepakat tak ada lagi dikotomi antara "musik indie" dan "non indie". Label rekaman besar berguguran di Indonesia bahkan yang juga franchise macam Sony Music dan Warner Music. Pemusik Indonesia zaman sekarang sudah berubah, tak sama lagi seperti 4-5 tahun lalu yaitu harus beranjangsana ke label besar, masuk televisi dan radio, baru ke panggung. Salah satu perubahan yang kurang disadari kini adalah sekarang semua pemusik Indonesia sejatinya sudah indie, independen dari segala hal apalagi didukung perangkat teknologi informasi yang memudahkan mereka untuk dipublikasikan tanpa harus melalui jenjang macam itu.

Bagaimana dengan musisi senior, yang sudah jadi legenda, yang ternyata seperti halnya di mancanegara sana masih merilis album? Ya, sama saja, Bung! Masalahnya, label besar sudah habis tak tersisa kok, ya, sudah 2018 masih memakai istilah "indie", "non indie"? Masih kurang bukti apalagi ketika band rock yang pernah dikenal 1990-an macam Kidnap mau muncul lagi pada 2018, juga dengan God Bless yang masih merilis album baru 2017 lalu toh nyatanya ya juga sudah tidak memakai label besar lagi, dan memanfaatkan jejaring media sosial mengumumkan "come back"-nya?

Awak media, pun penggiat musik, termasuk pemusiknya sendiri, mohon berhentilah terus-menerus menggunakan istilah "indie" dan "non indie"! Zaman sudah berubah! Masak, ketika istilah "underground" dan "indie" yang pernah di era 1990-an sampai 2000 seolah hanya berlaku kepada band beraliran rock-metal belum sadar juga kalau sekarang semua pemusik rata-rata mampu memproduksi single dan albumnya, pun manajemen artisnya tanpa harus berkutat dulu dengan label besar yang dianggap mewakili "selera pasar"?

Dan, sekarang apa yang dimaksud "selera pasar" pun boleh jadi sudah tidak berlaku lagi lantaran di hampir semua area publik yang menggunakan musik sebagai pengiring toh masih berkibar musik yang tren di era 1960-2000? Belum untuk pasar rilisan fisik kaset, vinyl dan CD yang sempat dianggap "kuno" toh belum punah! Sudahlah, akui saja tak ada lagi penemuan baru di era musik!

Tantangan zaman sekarang hanyalah bagaimana tetap mencipta dan memainkan musik sebaik, sebagus mungkin, selain memperkuat posisi masing-masing di panggung lokal dan internasional! Tulisan ini juga sekaligus menutup perdebatan usang tentang istilah "Rock N Roll is Dead" yang juga sudah basi banget dengan bukti setiap band dan penyanyi baru yang muncul, baik lokal dan internasional sulit dilepaskan dari pemusik sebelumnya yang kebanyakan adalah rock!

Selamat berpikir, sobat!

Do Ro CEO Roundabout Music Blok M Square dan Bakoel Didiet, gerai buku dan music online di Jakarta sejak 2011


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed