DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Jumat 09 Februari 2018, 13:46 WIB

Kolom

Potret Raja Jawa Menolak Eksklusivisme

Rizka Nur Laily Muallifa - detikNews
Potret Raja Jawa Menolak Eksklusivisme Foto: Bayu Ardi Isnanto
Jakarta - "Itu keraton kita ya?" Suara anak kecil yang atraktif itu hadir begitu sahaja ketika film dibuka dengan menampilkan wajah sayu Keraton Surakarta Hadiningrat. Sekali lagi, keraton kita.

IGP Wiranegara, filmmaker jebolan Institut Kesenian Jakarta (IKJ) itu menggarap film dokumenter yang ia beri judul Paku Buwono XII: Berjuang untuk Sebuah Eksistensi. Sejak kenal dengan mendiang Sinuhun Paku Buwono (PB) XII, Wiranegara mengaku menjadi teman berkisah mulai dari hal-hal sepele sampai yang paling serius sekaligus. Kedekatan inilah yang kemudian memotori lahirnya film dokumenter yang menang dalam Festival Film Indonesia 2005 untuk kategori Film Dokumenter Terbaik. Di Solo, film ini diputar sebagai rangkaian dari acara Panggung Gesang pada 28 Januari 2018 di Cinema Omah Sinten.

Sebagai insan film, Wiranegara agaknya paham betul bagaimana membuat karya yang fokus dan tak hendak pamrih dengan menampilkan terlalu banyak kisah. Film berdurasi 45 menit ini fokus pada gejolak hidup PB XII menghadapi masa transisi dari pemerintahan kerajaan menjadi pemerintahan republik.

Derita Nasionalisasi

Diangkat sebagai raja menggantikan mendiang ayahnya, Paku Buwono XII saat itu masih belia. Usianya 20 tahun. Saat itu, harta-harta keraton termasuk prajurit-prajuritnya masih lengkap. Pengangkatannya sebagai raja riuh oleh sentimen-sentimen di kalangan keluarga, khususnya paman-pamannya. Usia yang dinilai terlalu muda untuk duduk di tahta utama kerajaan membuat para paman menyangsikan kepemimpinannya kelak.

Kepada Wiranegara dan tentu saja kamera perekam audio-visual penghasil film dokumenter tersebut, Sinuhun PB XII menuturkan dengan tenang gejolak yang terjadi di tengah keluarga sambil sesekali mengembuskan asap rokok ke penjuru udara. Mata Sinuhun menembus batas kenangan mengingat masa-masa bersama ayahandanya.

"Jadi raja itu harus kurang makan, kurang tidur, mendekati Tuhan, mengheningkan cipta. Raja itu harus memiliki kekuatan pribadi yang kokoh. Dari kecil saya sudah disiapkan, diajari begitu," kenang Sinuhun PB XII atas nasihat ayahnya. Masa-masa kelam Keraton Surakarta Hadiningrat timbul sebab penyerahan aset-aset kerajaan kepada republik. "Bedil, kuda, alat-alat prajurit keraton diserahkan kepada republik. Prajurit keraton tak boleh lagi memakai bedil karena itu menyamai tentara republik. Tapi baju prajurit keraton tetap ada, tidak kami serahkan," ujar Sinuhun PB XII.

Lebih jauh lagi, aset-aset penting yang selama masa itu menjadi sumber pendapatan keraton seperti pabrik kopi, pabrik tembakau, serta perkebunan-perkebunan dinasionalisasi pada masa kepemimpinan Sinuhun PB XII. Termasuk terlepasnya beberapa daerah kantong keraton Surakarta seperti Sragen, Boyolali, Karanganyar, Wonogiri. Penyerahan segala aset keraton dinilai sudah selaiknya dilakukan sebab keraton menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang berdaulat.

Keputusan Sinuhun PB XII tersebut diapresiasi pihak republik secara institusional-formal yang sifatnya sangat temporer. Semenjak nasionalisasi, keraton kekurangan sumber pendanaan. Akibatnya, keraton sempat terbakar. Kebakaran ini menurut penuturan Prof. Sardono W Kusumo ialah buntut dari ketiadaan dana perawatan atas bangunan-bangunan keraton yang memang purna usia itu.

Melalui penuturan salah satu putri Sinuhun PB XII, masa itu Sinuhun juga kebingungan untuk mendanai penyelenggaraan-penyelenggaraan upacara ritual leluhur. Sehingga beberapa aset keraton yang tersisa dijual untuk pelaksanaan upacara-upacara ritual.

Penyerahan harta-harta keraton sebagai dukungan kepada republik ini sedikit sekali dibahas dalam sejarah tertulis yang kemudian dipelajari-diakui khalayak. Sejarah lebih banyak menyoroti kedekatan keraton dengan para penjajah, yang kemudian memang tidak ditampik oleh Gusti Puger, putra ke-17 Sinuhun PB XII. "Yang kita ketahui kan pokoknya keraton ini dekat dengan penjajah. Untuk hal-hal taktis, memang beliau –Sinuhun PB XII– dekat dengan Jepang, Belanda. Saya kira wajar untuk kepentingan-kepentingan taktis kedekatan itu dijalin. Tidak banyak yang mengulas, tidak banyak yang mau tahu tentang harta-harta keraton yang justru disumbangkan untuk mendukung kedaulatan NKRI."

"Melawan republik saya pasti kalah, sementara keadaan keluarga di lingkungan keraton sendiri tidak rukun. Jadi ya kita ambil jalan tengahnya saja. Kita terima apa yang ada," demikian kira-kira sikap Sinuhun PB XII menghadapi masa-masa sulit pasca-nasionalisasi aset-aset keraton oleh republik.  

Penjaga Kuil Tua

Atas peristiwa kebakaran lalu, sebagian masyarakat bersikeras menganggap Sinuhun PB XII sudah tidak kuat menghadapi gejolak kehidupan keraton. Pihak-pihak internal keraton jadi tertuduh lalai menjaga marwah keraton. Padahal, atas kebakaran tersebut, Sinuhun PB XII pun mengalami trauma.

Dikenal sebagai raja yang rendah hati, Sinuhun selalu memberi perhatian kepada para abdi dalem dalam menyiapkan upacara-upacara ritual. Salah satu scene film menampilkan Sinuhun sepuh ketika menilik dan bercakap-cakap dengan para abdi dalem yang sedang asyik-masyuk menyiapkan rangkaian bunga melati.

Di masa-masa tuanya, Sinuhun PB XII lebih suka tinggal di hotel atau lebih tepat disebut penginapan sederhana dan bukan di keraton. Beliau sengaja menciptakan jarak dengan menciptakan pengalamannya meruang sendiri. Bukan di hiruk-pikuk kehidupan keraton. Kendati begitu, perhatian beliau sepenuhnya tetap tercurah demi kehidupan-kemaslahatan keraton.

Salah satu scene film jelang pengakhiran sempat menampilkan Sinuhun PB XII sedang melakukan kegiatan fitness ringan di salah satu pusat kebugaran di Solo. Ini menjadi semacam pembuktian bahwa sekalipun ia seorang raja, ia tetap manusia pada umumnya. Laku hidup Sinuhun PB XII yang dihadirkan dalam film berupaya memberi pengertian khalayak-penonton, bahwa jabatan atau kekuasaan sebagai raja keraton tidak lagi identik dengan eksklusivisme melainkan rupa-rupa hidup manusia sebagai bagian dari masyarakat pada umumnya.

IGP Wiranegara masih merampungkan studi S3-nya. Publik-penonton yang hadir dalam diskusi film di Solo sudah kadung mendengar slentingan bahwa masih ada film lain tentang Sinuhun Paku Buwono XII yang ia kerjakan. Di masa yang entah kapan, publik-penonton tentu dengan senang hati kembali ke acara serupa untuk menyelami lebih jauh nilai-nilai kebersahajaan hidup seorang raja jawa.  

Rizka Nur Laily Muallifa tertarik dengan isu seputar perempuan, lingkungan, seni-budaya.


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed