DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Senin 05 Februari 2018, 15:38 WIB

Kolom

Demokrasi dan Buku (Biografi)

Bandung Mawardi - detikNews
Demokrasi dan Buku (Biografi) Foto: Ragil Ajiyanto
Jakarta - Sejarah kekuasaan di Indonesia disusun dari buku-buku. Dulu, orang memiliki pelbagai sebutan untuk tulisan demi pengukuhan, penegakan, dan penghancuran kekuasaan. Di keraton-keraton, para raja memiliki kemauan menulis serat atau babad. Raja pun berhak memberi perintah ke kaum pujangga. Perintah memuat pujian dan hukuman. Pujangga diwajibkan menulis penguasa dalam teks-teks bertaburan imajinasi. Warisan teks-teks dari masa lalu itu gampang dicurigai para peneliti adalah siasat penguasa mengekalkan kekuasaan atau mencipta diri terpuji dalam bentang peradaban Nusantara. Dulu, para penguasa sudah memahami buku itu cespleng.

Pada awal abad XX, tradisi menulis kitab atau buku di arus kekuasaan berlanjut meski mendapat saingan dari kaum intelektual berkiblat Eropa. Di tanah jajahan, buku-buku ditulis membenarkan atau menampar kekuasaan feodal dan kolonial. Mesin cetak berdatangan ke Hindia Belanda. Penerbit dan toko buku bermunculan di kota-kota. Bisnis itu sering milik Eropa, Indo, peranakan Tionghoa, dan Arab. Buku-buku beragam tema menggerakkan tanah jajahan. Buku-buku itu tulisan orang-orang berpegangan pelbagai aksara. Buku tak lagi harus milik atau dikeluarkan dari pusat-pusat kekuasaan. Kerja kaum partikelir mengubah tata pustaka, sejak pertengahan abad XIX.

Di hadapan kekuasaan, para penulis belum getol bertarung biografi dalam menalar politik, ekonomi, sosial, pendidikan, dan kultural. Penulisan buku masih enggan memunculkan tumpukan biografi. Persaingan tema cenderung menantang di embusan perubahan tata kehidupan di tanah jajahan. Buku-buku ideologis, sastra, agama, ekonomi, kesehatan, dan pendidikan terbit semakin berlimpah. Sekian penulis menjadi panutan. Sebutan atau penulisan para tokoh diulas dalam buku dan pengutipan pemikiran para tokoh moncer masih berurusan ide-ide, belum bergerak jauh ke biografi.

Dulu, kaum pergerakan kebangsaan belum tentu mengetahui biografi Wahidin Soedirohoesodo, Soetomo, Radjiman Wediodiningrat, Tjipto Mangoenkoesoemo, Agoes Salim, H.O.S. Tjokroaminoto, Soewardi Soerjaningrat, Sukarno, Mohammad Hatta, Semoaen, M. Hoesni Thamrin, dan Achmad Soebardjo. Buku biografi mengenai mereka terbit belakangan saat mereka tampil sebagai pemikir, penulis, orator, dan pemimpin. Mereka masih belum tebal niat menulis autobiografi saat melawan feodalisme dan kolonialisme. Mereka suguhkan ide, membarakan impian-impian Indonesia. Di benak, mereka tentu tak memesan ke para penulis atau jurnalis agar menulis biografi berpamrih moncer dan panen pujian. Buku-buku belum berselera biografi untuk merubuhkan kekuasaan kolonial. Kaum pergerakan memilih menulis ide-ide ketimbang memamerkan diri

Serpihan-serpihan biografi mereka kadang tampil di koran atau majalah, selalu tak lengkap dan "meragukan". Tata cara penulisan biografi dan autobiografi belum menular di alur keaksaraan Indonesia. Pada masa 1920-an dan 1930-an, pengetahuan tentang tokoh atau pemimpin sering berupa cerita dari mulut ke mulut. Cerita pun sering terpenggal, pecah, dan amburadul. Foto atau gambar belum gampang diproduksi dan beredar ke publik. Penasaran pada tokoh mending mengandalkan cerita. Orang-orang mencari dan mendatangi pelbagai acara demi melihat dan memastikan ketokohan. Penglihatan atau perjumpaan menghasilkan tepuk tangan, doa, dan sambungan cerita. Biografi masih berada di lisan, belum menjadi tulisan-tulisan bermisi politis atau bisnis.

Pada masa 1940-an dan 1950-an, ikhtiar mengedarkan biografi para tokoh dan pemimpin semakin semarak di majalah dan penerbitan buku. Orang-orang perlahan mengenali tokoh melalui tulisan, tak tergantung (lagi) pada suara-suara dari ribuan mulut. Biografi dituliskan berharap berpengaruh ke pembesaran nasionalisme dan pembentukan Indonesia. Cara penulisan biografi dengan lacak pustaka dan wawancara pernah dikerjakan di majalah Minggu Pagi. Rubrik bernama "Apa dan Siapa" menampilkan tokoh-tokoh penggerak sejarah dan penentu nasib Indonesia. Tokoh-tokoh besar dari pelbagai negara turut dihadirkan sebagai selingan. Pilihan tokoh di rubrik itu menghasilkan buku susunan Tjiptoning tetap berjudul Apa dan Siapa (1951).

Penerbitan buku-buku biografi di Indonesia memang terasa telat tapi memberitahukan keengganan atau penundaan para tokoh menuju pamer diri dan minta pujian. Penerbit-penerbit partikelir perlahan mengerjakan buku-buku biografi para tokoh bangsa. Djambatan pada masa 1950-an termasuk rajin menerbitkan buku biografi: Kartini, Soetomo, dan Tjipto Mangoenkoesoemo. Pada masa penerbitan, sekian tokoh sudah meninggal. Di penerbitan Panjebar Semangat, Imam Supardi pun menulis buku biografi, bermaksud mengingatkan misi para tokoh bangsa. Bentuk penulisan biografi belum dipaksa jadi drama atau puitis.

Buku-buku biografi memastikan memberi pengaruh menentukan dalam terbit-tenggelam kekuasaan di Indonesia. Autobiografi Sukarno terbit pada masa akhir kekuasaan. Pilihan waktu itu seperti mengabarkan ada salah dan keraguan. Soeharto tampil dalam buku biografi malah pada awal menjadi penguasa. Buku dikerjakan oleh O.G. Roeder. Indonesia pada masa Orde Baru semakin berlimpahan buku biografi dan autobiografi. Buku-buku itu bertokoh pejabat, ulama, seniman, militer, pengusaha, dan artis. Indonesia memiliki ribuan tokoh ampuh, dikenalkan ke publik dengan buku. Penampilan di media cetak (koran dan majalah), radio, panggung, televisi, dan ruang publik semakin disahkan penerbitan buku-buku. Pada masa akhir kekuasaan Soeharto, publik mungkin jemu sering mendapatkan biografi melulu kaum politik, pengusaha, dan militer. Jemu agak diselingi kemunculan buku biografi-autobiografi artis: menghibur dengan gosip.

Masa-masa itu berlalu. Indonesia mulai kehilangan daftar ingatan masa lalu. Pada abad XXI, buku-buku itu iklan atau suguhan berdalih kekuasaan. Pada masa-masa menjelang hajatan pemilu atau pilkada, buku-buku mengenai tokoh terbit dan berkerumun di toko buku. Buku-buku berisi pesan agar publik memilih mereka menjadi presiden, gubernur, bupati, atau wali kota. Buku-buku anggaplah propaganda berselubung keaksaraan berdemokrasi. Para penulis rajin menulis demi menghasilkan buku-buku biogragi. Para tokoh pun berlagak menulis autobiografi. Bentuk biografi perlahan diserupakan atau sengaja menjadi novel. Konon, pembaca diharapkan terharu dan takjub. Buku itu kadang lekas menjadi film. Fantastis! Tata cara demokrasi telah menempuhi jalur-jalur meraup pengaruh politik dan untung berlimpahan.

Alinea-alinea itu ditampilkan tanpa argumentasi matang dan bukti-bukti bermutu. Sekian alinea mengantar kita mengerti maksud penerbitan buku berjudul Anak Negeri: Kisah Kecil Ganjar Pranowo (2018) garapan Gatotkoco Suroso. Dulu, penulis itu sudah menghasilkan buku biografi Joko Widodo. Pada hari-hari masih berhujan dan orang-orang memikirkan pilkada di Jawa Tengah, Ganjar Pranowo menjadi tokoh utama dalam peluncuran buku yang berlangsung di "tengah sawah". Acara diadakan di Sawit RT 15 RW 05, Kunti, Andong, Boyolali, Jawa Tengah, 24 Januari 2018. Buku itu mutlak mempengaruhi alur demokrasi mutakhir. Buku telah mengesahkan siasat berdemokrasi dan penokohan (harus) dramatis. Kini, demokrasi tergantung penulisan dan penerbitan buku bercap biografi atau autobiografi meski sering tak bermutu. Begitu.

Bandung Mawardi kuncen Bilik Literasi Solo


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed