DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Kamis 01 Februari 2018, 13:38 WIB

Kolom

Ketika Telinga Mendengung

Arie Saptaji - detikNews
Ketika Telinga Mendengung Arie Saptaji (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta - Beberapa hari belakangan ini—atau malah sudah beberapa minggu—telinga saya berdengung. Kiri-kanan. Rasanya ada selaput tipis di dalam sana, membuat saya tidak bisa mendengar secara optimal. Sudah begitu kepala terasa hangat, terutama saat bangun tidur. Meriang, tapi hanya di bagian kepala.

Mula-mula saya curiga, jangan-jangan kemasukan air saat renang, lalu lama-kelamaan jadi infeksi. Untuk memastikan, saya periksa ke klinik keluarga dengan memanfaatkan BPJS. Dokter memberikan rujukan ke dokter THT.

Setelah dokter THT memeriksa—telinga saya kiri-kanan dibersihkan, lalu daya pendengaran saya diuji dengan garpu tala—saya mendapatkan kabar baik dan kabar buruk.

Kondisi fisik telinga saya terhitung masih bagus, bersih, tidak infeksi karena kemasukan air atau penyebab lain. Jadi, saya leluasa melanjutkan kesukaan berenang. Dokter juga menyarankan tidak perlu membersihkan telinga dengan cotton bud. Telinga punya mekanisme sendiri untuk membersihkan dirinya. Itu kabar baiknya.

Kabar buruknya, masalahnya ternyata pada saraf pendengaran saya yang memburuk. Saat diuji dengan garpu tala, telinga kiri saya relatif masih normal, tetapi telinga kanan saya nyaris sudah tidak bisa menangkap getaran penala.

Sekitar satu-dua tahun yang lalu, telinga saya pernah diuji dengan audiometer, dan memang daya pendengaran telinga kanan saya sudah menurun tajam. Hanya, saat itu tidak disertai dengan dengungan dan demam. Kali ini tampaknya saraf telinga saya kian melemah.

Dokter terdahulu mengatakan, ada terapi, tetapi rumah sakit terdekat yang memiliki alatnya, kalau saya tidak salah dengar, ada di Purwokerto dan Semarang. Lumayan jauh dari Yogyakarta. Itu pun tanpa jaminan bakal memulihkan daya pendengaran saya. Saya pun memilih membiarkannya saja. Walaupun tidak optimal, toh masih bisa mendengar.

Dokter yang sekarang kembali meneguhkan hal itu. Kerusakan saraf pendengaran kecil kemungkinannya untuk pulih—kecuali kalau terjadi mukjizat. Yang bisa dilakukan paling banter adalah periksa rutin tiga bulan sekali, mengkonsumsi obat untuk menstabilkan saraf, dengan harapan proses kerusakan bisa diperlambat. Juga untuk meredakan efek berupa dengungan dan demam lokal tadi. Selain itu, saya dianjurkan menghindari kebisingan. Kalau memang perlu benar, bisa pula saya mengenakan alat bantu dengar pada telinga kanan.

Saya manggut-manggut. Beginilah hidup. Beginilah tubuh. Mau apa lagi? Ada hal-hal yang masih bisa diperbaiki dan diperbarui. Namun, ada pula hal-hal yang mesti kita ikhlaskan karena meluruh, berkurang, tanggal, lepas. Meski kita sudah berupaya merawat tubuh, mengatur pola makan, rajin berolahraga, dan sebagainya, toh waktu tak bisa terus-menerus diakali. Kita pasti menua.

Rambut helai demi helai memutih, daya pendengaran dan penglihatan menurun, kulit tidak sekencang dulu lagi, ereksi tidak sekeras dan setahan lama dulu lagi, gigi berlubang kian besar dan satu per satu copot, sering merasa sudah melakukan sesuatu tapi nyatanya belum atau belum melakukan sesuatu tapi rasanya sudah, kalau malam ini begadang biasanya besok meriang, dan seterusnya dan sebagainya. Penyakit-penyakit kecil ini bisa jadi membersiapkan kita: untuk ikhlas juga ketika penyakit besar siapa tahu melawat. Siapa yang bisa menduga?

Di sisi lain, meskipun waktu terus menggelinding, sekalipun tubuh jasmani kita kian rentan dan rontok, ada pula hal-hal yang bisa terus bertumbuh, berkembang, malah semakin kuat. Ada hal-hal lain yang terus bisa dinikmati dan dirayakan. Toh hidup bukan melulu terdiri atas perkara jasmani, melainkan juga apa yang berlangsung di dalam jeroan batin, di relung hati kita.

Saya teringat Paul Brand, dokter kelahiran India yang memberikan sumbangsih penting dalam bidang bedah tangan dan terapi tangan, khususnya bagi para penderita kusta. Ia melontarkan pernyataan menarik sehubungan dengan penuaan. "This is how to grow old. Allow everything else to fall away until those around you see only love (Inilah caranya untuk bertambah tua. Biarkanlah segala sesuatu yang lain jatuh berguguran sampai orang-orang di sekitarmu hanya melihat cinta yang kaumiliki)," katanya.

Daya pendengaran saya memang pelan-pelan luruh. Namun, kiranya daya menyimak saya tidak ikut-ikutan rusak, bahkan mudah-mudahan saya tergerak untuk lebih cermat dalam mendengarkan dan memperhatikan. Karena, kesediaan untuk mendengarkan dan memperhatikan adalah suatu ungkapan cinta yang paling mendasar. "Don't you think they are the same thing? Love and attention? (Tidakkah menurutmu keduanya adalah hal yang sama? Cinta dan perhatian?)" kata kepala sekolah dalam Lady Bird (Greta Gerwig, 2017).

Saya juga teringat pada Ashoke Ganguli dalam film The Namesake (Mira Nair, 2016). Ia memberi nama anaknya Gogol. Ketika Gogol kuliah, nama yang diambil dari pengarang Rusia yang depresi itu membuatnya diolok-olok kawan sekelasnya. Gogol kecewa pada sang ayah, sampai suatu saat Ashoke menjelaskan mengapa ia memberikan nama itu. Ketika mengalami kecelakaan maut kereta api yang nyaris merenggut nyawanya, ia sedang membaca buku karya Nikolai Gogol. "Baba, itukah yang kaupikirkan ketika engkau memikirkan saya? Apakah saya mengingatkan engkau akan malam naas itu?" Ashoke menjawab, "Sama sekali tidak. Engkau mengingatkan saya akan segala sesuatu sesudahnya. Setiap hari sesudah peristiwa itu adalah suatu karunia, Gogol."

Telinga kanan yang nyaris budek bukanlah kecelakaan fatal atau vonis hukuman mati. Toh saya masih bisa menikmati kegenitan suara Vina Panduwinata dan Waljinah, atau keelokan lagu-lagu soundtrack The Greatest Showman. Saya masih bisa mendengar desau angin, kicau burung, dan kecipak air di kolam renang. Yang terpenting, saya masih bisa menanggapi percakapan dengan orang-orang yang saya cintai—sekali lagi, semogalah dengan daya perhatian yang justru kian kuat.

Saya ingin terus menikmati dan merayakan hari-hari yang masih dikaruniakan oleh Tuhan. Sekalipun dengan telinga mendengung dan kepala meriang.

Arie Saptaji penulis serabutan dan tukang nonton, tinggal di Yogyakarta.


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed