DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Rabu 24 Januari 2018, 11:34 WIB

Kolom

Seleb Media Sosial dan Cita-cita Anak Masa Kini

Annisa Steviani - detikNews
Seleb Media Sosial dan Cita-cita Anak Masa Kini Annisa Steviani (Foto: istimewa)
Jakarta - Beberapa hari lalu, timeline media sosial diramaikan oleh tagar #BloggerGate antara YouTubers Elle Darby dengan Paul Stenson, pemilik Hotel Charleville Lodge di Dublin. Sebabnya, Elle menulis email pada Paul meminta akomodasi gratis 5 malam dengan imbalan review berupa vlog di kanal YouTube-nya yang punya pengikut lebih dari 90 ribu orang.

Paul menolak tawaran Elle, dan mempublikasikan screenshot email (dengan menutup nama Elle) serta balasannya. Paul menyebut, jika Elle tidak membayar, siapa yang akan membayar staf hotel yang membersihkan kamarnya? Siapa yang akan membayar pelayan di restoran? Email-email itu kemudian viral. Netizen turut menyebut Elle sebagai pecinta gratisan, dan mempermalukan diri dengan "mengemis" seperti itu.

Elle tak terima karena ia merasa di-bully. Ia pun membuat sebuah video dengan judul I was exposed (SO embarassing). Ia menilai Paul sebagai orang yang tidak mengerti bagaimana bisnis media sosial bekerja. Perempuan 22 tahun itu juga berulang kali menyebut bahwa menjadi social media influencer adalah pekerjaannya. "It's the only job that brought me happiness," ujar Elle.

Setelah video itu muncul, Paul dan pihak hotel pun malah semakin mengolok-olok Elle dengan membuat konferensi pers sindiran di YouTube. Paul juga membuat invoice senilai 5,2 juta Euro yang ditagihkan pada Elle karena justru merasa dirinya yang membuat Elle jadi lebih terkenal.

Video pembelaan diri Elle berdurasi 17 menit itu membuat saya berpikir. Sebagai seorang ibu bekerja yang hobi menulis di blog tanpa pernah mengirim email proposal pada brand, ingin rasanya bicara bertatap muka dengan Elle dan bilang, "Learn some real skills and get a real job, darling!"

Karena saya sendiri pernah mendengar kasus seperti ini di ranah lokal. Seorang blogger yang bahkan tidak menjelaskan berapa views dan pengunjung per post di blog-nya meminta kamar hotel gratis ke sana-sini sampai jadi perbincangan di kalangan humas hotel.

Mengejutkan? Tidak sama sekali. Banyak blogger/vlogger yang merasa punya power untuk membuat review hanya dengan modal blog atau vlog, tapi pertanyaannya adalah: biaya satu kamar hotel yang diberikan gratis untuk blogger, bisa mendatangkan berapa tamu? Sepuluh? Sepuluh ribu? Seberapa banyak orang yang akan membaca atau menonton review itu? Seratus ribu pembaca? Dua ratus ribu pembaca?

Kadang para "social media influencer" atau seleb media sosial itu merasa mereka sebegitu terkenal dan berpengaruhnya di dunia maya, kebetulan mendatangkan uang, dan langsung merasa ini pekerjaan, a real business. Ketika ada brand yang tidak mau memakai jasanya, langsung dinilai sebagai "tidak mengerti model marketing baru". Padahal, mungkin pihak brand merasa lebih efektif beriklan di Facebook atau Google. Tidak semua brand merasa butuh seleb media sosial sebagai sarana untuk beriklan.

Menariknya, jadi seleb di media sosial terutama YouTube juga jadi cita-cita masa kini! Ya, sering sekali kan kita mendengar anak usia SD bercita-cita jadi YouTubers? Mereka kemudian membuat video di rumah, membuat slime, atau me-review mainan. Menjadi YouTubers terkesan glamor, hidup enak dengan mudah karena sering mendapat undangan bepergian gratis sampai ke luar negeri dan dihujani berbagai barang dari brand favorit.

Tidak ada yang salah jika mengidolakan artis YouTube. Bercita-cita ingin seperti idola itu sama sekali tidak apa-apa tapi jangan lupa untuk punya skill dan karya!

Menjadi seleb di media sosial itu memang bisa menghasilkan uang untuk saat ini, tapi jangan lupakan bahwa media sosial selalu punya batas kedaluwarsa. Ayo, anggap media sosial adalah saluran untuk menampilkan hasil karya! Jika kemudian hasil karyamu disukai orang dan brand mulai berdatangan untuk memasang iklan, itu adalah poin plus karena kamu punya massa.

Itu sebabnya banyak pula YouTubers atau blogger yang menolak disebut seleb media sosial, dan lebih memilih disebut sebagai content creator. Ya, karena mereka membuat konten, dan punya skill lain selain hanya menjual jumlah followers.

Jadi jika suatu hari YouTube bubar, mereka masih punya sesuatu untuk dijual dan jadi pekerjaan di medium yang lain. YouTubers kecantikan bisa jadi make-up artist, YouTubers yang senang me-review gadget bisa jadi penulis khusus gadget, YouTubers yang jago editing bisa menjadi editor untuk film layar lebar atau bahkan sutradara.

Jadi, ya, bercita-cita eksis di media sosial itu tidak apa-apa. Tetapi, eksislah dengan skill dan karya yang jelas. Media sosial hidup karena tren semata, tapi skill bisa kita kuasai selama kita mau. Jangan jadi seleb media sosial semata!

Annisa Steviani ibu satu anak, bekerja dan hobi nge-blog; bisa disapa di Twitter @annisast


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed