DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Jumat 19 Januari 2018, 11:20 WIB

Kolom

Darmanto Jatman (1942-2018): "Mesem" untuk Indonesia

Bandung Mawardi - detikNews
Darmanto Jatman (1942-2018): Mesem untuk Indonesia Foto: istimewa
Jakarta - Ia sudah menunaikan ibadah menulis puisi. Kini, ia mewariskan puisi-puisi itu pada kita. Ia bernama Darmanto Jatman, pemggubah puisi dan cerita. Ia pun rajin menulis esai-esai mengajak pembaca tertawa dan merenung, bergerak dari adab Jawa sampai urusan-urusan global. Penelitian ditunaikan selaku manusia akademik meski tak mampu meruntuhkan predikat diri sebagai pujangga. Darmanto mulai menulis puisi saat SMA, 1958. Hari-hari terus berpuisi sampai berpamit dari dunia, 13 Januari 2018.

Dulu, ia sempat mengeluh dengan gubahan puisi berjudul Tak Ada Lagi jang Mengurus Puisi Sekarang. Puisi bertahun 1966, masa Indonesia berkecamuk ideologi dan maut. Pada saat rambut mulai rimbun, Darmanto mengisahkan situasi diri dan Indonesia melalui puisi. Ia menganggap suasana kesusastraan semakin menekan akibat sengketa Lekra dan kaum penganut humanisme-universal. Puisi jadi kesaksian berbarengan politik membara meminta tumbal dan mencipta dendam.

Darmanto menulis: Tak ada lagi jang mengurus puisi sekarang/ segala perdjuangan ditudjukan untuk politik/ dimana katanja kekuasaan adalah rahmat. Para elite politik dan militer sibuk mengurusi politik berdalih membuat tata kekuasaan baru dan mapan. Politik membedakan kawan dan lawan. Pidato-pidato digenapi penculikan, pembunuhan, kekerasan, pembantaian, dan penghinaan menguak kebiadaban berpolitik. Si pujangga ingin waras. Puisi pun ditulis saat malam-malam terasa bimbang dan hari-hari bergerak cemas.

Puisi itu tak berlaku pada masa sekarang. Orang-orang masih mau mengurusi puisi meski kesibukan politik semakin tak keruan. Di politik, para elite malah biasa pamer puisi untuk raihan pamor atau menaruh kekuasaan di renungan.

Pada saat puisi dan politik bergandengan dalam hajatan demokrasi 2018 dan 2019, Darmanto tak lagi urun puisi. Ia telah menulis puisi-puisi berlatar masa lalu tapi pantas mendapat pembacaan ulang pada hari-hari bertaburan janji dan keberlimpahan bualan politik. Darmanto memang berpamit tapi seperti memberi pesan-pesan ingin terbaca bagi mata-sastra dan mata-politik. Dulu, Darmanto menulis puisi berjudul Golf untuk Rakyat saat Indonesia sedang bercerita golf. Para pelaku tentu elite, pengusaha, dan artis. Orde Baru turut moncer oleh golf.

Gandrung golf pernah menjadi berita utama di Tempo edisi 17 Desember 1983, dijuduli Wah, Golf! Pertandingan Kejuaraan Dunia yang Pertama di Indonesia. Indonesia jadi perhatian dunia. Para pejabat bertepuk tangan telah mengumumkan Indonesia memiliki lapangan golf terindah dan memastikan negara sudah makmur-sejahtera. Berita di Tempo memiliki judul Golf Itu Kurang Merakyat. Darmanto malah menjuduli puisi Golf untuk Rakyat. Puisi mengumbar sindiran, tak takut terkena pukulan dan pelarangan. Judul sudah memiliki kesan pembenaran golf dan keberpihakan demi kepentingan rakyat.

Darmanto pamer lelucon parah mengenai Indonesia: Ini perkara pembangunan lapangan golf di awal PJPT II di Indonesia:/ Den Mas Mantri Jerohan ngendika: Golf dapat meningkatkan/ kesejahteraan rakyat!/ Sedang Mantri Kanuragan bilang: Golf pertanda masyarakat/ kita sudah lebih sejahtera!/ Lha ya berapa banyak lapangan golf mesti dipasang/ untuk menyejahterakan 200 juta rakyat!/ Berapa tumbal mesti dikorbankan/ untuk mengempiskan kantong-kantong kemiskinan?

Puisi itu masa lalu. Darmanto tak membuat ramalan bahwa kasus-kasus korupsi di Indonesia memiliki kaitan dengan golf. Para koruptor rajin main golf. Koruptor malah mengongkosi elite dan rekan bisnis main golf menggunakan uang dari korupsi. Kaum sejahtera itu memilih bermain golf, malu bermain olahraga murahan atau bertaraf jelata. Golf masih terpahamkan uang dan gengsi.

Darmanto mewariskan puisi-puisi bercerita Indonesia berlumuran sindiran, kritik, protes, lelucon, dan satire. Kita mungkin sedih atas kepergian si pujangga tapi puisi-puisi tak turut pergi. Kita masih berhak memberi tafsir ke puisi-puisi, bukti penghormatan atas laku kapujanggan Darmanto Jatman, sejak remaja sampai menua. Indonesia ada di puisi-puisi mencampurkan bahasa Indonesia, Belanda, Jawa, Inggris, dan lain-lain. Si pujangga sudah menganggap Indonesia itu tempat berkecambah segala bahasa demi modernisasi atau pembangunan nasional tergantung negara-negara besar. Indonesia dalam puisi berbeda dari Indonesia dalam pidato-pidato pejabat atau riset-riset para peneliti ampuh.

Pada masa rezim Orde Baru bermimpi sampai ke langit ketujuh, Darmanto memberi puisi berjudul Patriotisme Kromo. Puisi dipersembahkan pada negara berkembang bernama Indonesia. Darmanto sodorkan satire: Kalau mau gemah ripah loh jinawi/ Indonesia mestinya jadi perusahaan saja/ Ada presiden direkturnya, ada presiden komisarisnya,/ satpam, serikat pekerja/ tapi yang penting, ada basic philosophi-nya/ Ini bukan sekadar transformasi budaya/ Ini memorphoses bangsa!

Larik-larik itu mustahil tercantum di pidato-pidato resmi Soeharto. Publik cuma mengetahui Indonesia memang "perusahaan" bagi keluarga dan kroni Soeharto. Perusahaan mencari untung besar bagi pemilik dan menganggap itu bukti patriotisme. Nasib kaum kromo tetap merana dan miskin sepanjang masa. Patriotisme kromo pun dinantikan meski abad demi abad berlalu.

Usulan dalam puisi gampang dituduh sembrono dan mengganggu stabilitas politik di Indonesia masa 1980-an dan 1990-an. Darmanto tak sedang berorasi di jalanan atau gedung parlemen. Ia menulis puisi, menantikan pembaca tertawa, mesem, dan marah. Pada bait puisi mau berakhir, ejekan atas tata hidup di naungan seribu perintah Orde Baru. Ia pun menulis: Jadi, tak ada alasan untuk ewuh aya mas/ mari kita ubah republik jadi kumpeni/ Satu negara perusahaan yang tak terbayangkan/ juga oleh Sun Tzu, Musashi atau Panembahan Senopati.

Puisi tak diniatkan turut dalam peruntuhan rezim Orde Baru. Darmanto cuma menunaikan ibadah menulis puisi, bukan tampil sebagai penendang atau penampar Orde Baru di ruang-ruang politik.

Darmanto, lahir dan besar dalam adab Jawa malah menerabas etika kolot demi mengisahkan Indonesia. Dampak menempuh studi dari UGM sampai London semakin mengesahkan ia sebagai manusia insaf atas keapesan Indonesia akibat politik dan bisnis merajalela. Ia memilih jadi penulis puisi sembari mengajar di kampus dan setor tulisan-tulisan di Tiara, Humor, Kompas, dan Jawa Pos. Ia bukan pemarah tapi pujangga mengumbar tawa dan penebar renungan. Ia senang mesem ketimbang cemberut.

Pada detik-detik menjelang berakhir, ia sempat mesem pada istri dan keluarga. Kini, kita diajak mesem dengan membaca puisi-puisi, warisan dari kegemasan mengartikan Indonesia, sejak puluhan tahun silam. Begitu.

Bandung Mawardi kuncen Bilik Literasi Solo


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed