DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Kamis 18 Januari 2018, 15:46 WIB

Kolom

Bishwa Ijtema dan Pesona Jamaah Tabligh

Ibnu Burdah - detikNews
Bishwa Ijtema dan Pesona Jamaah Tabligh Bishwa ijtema 2018 (Foto: istimewa)
Jakarta - Sejauh ini, kelompok-kelompok Islam trans-nasional tak bisa memperoleh pengikut dalam jumlah besar di Tanah air. Taruhlah misalnya kelompok Salafi, Hizbut Tahrir, Darul Arqam, dan sebagainya. Mereka sangat sulit untuk berkembang secara pesat kendati memiliki dukungan pendanaan atau militansi kader. Sebabnya bermacam-macam tapi secara umum formulasi dan kemasan ajaran yang mereka sampaikan kurang sesuai dengan kecenderungan masyarakat muslim dunia termasuk Indonesia.

Namun, Jamaah Tabligh lain sama sekali ceritanya. Jamaah Tabligh berkembang sangat pesat di ujung-ujung demografis daerah berpenduduk muslim. Dakwah mereka seperti semut, sangat pelan, nampak tidak bertenaga tetapi massif dan konsisten. Tak heran jika pertemuan tahunan mereka, bishwa ijtema, bisa dihadiri jutaan muslim dari lebih 150 negara. Acara tahunan internasional yang biasanya dipusatkan di dekat kota Dhaka, Bangladesh ini biasa dihadiri oleh jamaah dari dua juta hingga lima juta orang.

Acara tahun ini diselenggarakan pada 12-14 Januari dan 19-21 Januari. Kendati tak dihadiri "imam" kharismatik mereka, Maulana Saad al-Kandahlawi, perhelatan agung itu berjalan lancar dan damai. Acara tiga hari bagian pertama mulai dari Ambayan, Fazar ,dan Akheri Munajat diberitakan berlangsung lancar sebagaimana biasanya. Acara tiga hari gelombang kedua akan dilaksanakan pada tanggal 19-21 ini. Perhelatan ini merupakan salah satu pertemuan muslim terbesar di dunia selain haji, arbaiin di Masjid Nabawi, dan peringatan wafatnya Sayyidina Husein di Karbala.

Jamaah Tabligh yang diinisiasi oleh Syekh Maulana Ilyas al-Kandahlawi kendati berpenampilan "eksklusif", sangat mudah memperoleh pengikut dalam jumlah besar. Tak hanya di berbagai wilayah Asia Selatan dan sekitarnya tetapi juga di wilayah Timur Tengah, Asia Tengah, dan Asia Tenggara termasuk di Indonesia.

Kelompok yang anggota laki-lakinya biasanya mengenakan jubah putih panjang, celana "congkrang", berjenggot tebal, dan sering ber-toh hitam di dahi ini relatif bisa masuk ke tengah-tengah masyarakat muslim di Indonesia. Secara umum lambat laun mereka bisa diterima di tengah-tengah masyarakat. Mengapa nasib sejarah kelompok ini berbeda dengan kelompok-kelompok Islam trans-nasional lain di Tanah Air? Apa kekuatan mereka sehingga mereka mampu berkembang sedemikian rupa di Indonesia?

"Anti-Politik"

Salah satu sikap yang dimiliki kelompok ini adalah menghindari aktivisme politik. Sekalipun jamaah mereka sangat besar baik di Indonesia maupun di negara-negara lain di dunia Islam, mereka sepertinya sama sekali tak tergoda untuk membangun partai politik, apalagi untuk merebut kekuasaan. Karena sikap inilah mereka diterima oleh para penguasa mana pun sebab dipandang tak memiliki potensi untuk mengganggu kekuasaan.

Ini berbeda sekali misalnya dengan kelompok Salafi, kendati keduanya sama-sama memiliki doktrin "anti-politik". Kelompok Salafi di Mesir yang dikenal sangat anti dengan demokrasi dan partai politik ternyata tergoda untuk membangun partai politik dan berkompetisi merebut kekuasaan melalui pemilu begitu kesempatan pasca jatuhnya Mubarak terbuka. Bahkan partai yang mengatasnamakan Salafi ternyata tidak hanya satu tapi banyak. Tentu penulis di sini tak berbicara tentang kelompok-kelompok Islam trans-nasional yang berorientasi politik secara tegas.

Ini sangat berbeda dengan Jamaah Tabligh. Kendati mereka memiliki peluang besar untuk menjadi kekuatan signifikan di India, Pakistan, Bangladesh, dan Indonesia mereka tetap pada pakem tak tergoda membangun partai. Di Pakistan dan Bangladesh, bahkan peluang mereka untuk merebut kekuasaan melalui proses demokratis cukup besar sebab besarnya jumlah pengikut.

Sikap konsisten di jalan dakwah inilah yang membuat kelompok ini berkembang sangat pesat. Ini sangat menarik bagi banyak kalangan di Tanah Air yang sudah bosan dengan pembicaraan tentang pertikaian politik. Hampir tak terdengar terjadi perpecahan-perpecahan internal Jamaah Tabligh dalam skala besar sebagaimana yang terjadi misalnya di kelompok Ikhwanul Muslimin dan berbagai varian namanya di berbagai negara, Salafi, dan sebagainya. Kunci semua itu sepertinya adalah konsistensi sikap dalam menempuh dakwah.

Menghindari Khilafiyah

Kekuatan penting lain adalah doktrin untuk menghindari persoalan khilafiyah baik fikih, kalam, maupun tasawuf. Mereka bermazhab, bertarekat, dan menganut paham kalam tertentu. Tapi mereka sama sekali tak mempersoalkan berbagai perbedaan yang terjadi antara mereka dengan penganut mazhab lain. Mereka juga sama sekali menghindari mencaci maki, membid'ahkan apalagi mengkafirkan praktik-praktik keislaman di Indonesia ataupun di daerah-daerah lain sebagaimana kelompok "Wahabi". Caci maki benar-benar mereka hindari.

Tipologi kelompok ini adalah "bijak" dalam berhubungan dengan siapa pun dan saleh dalam amaliah pribadi. Mereka sangat menekankan pembangunan kehidupan pribadi dengan cara berupaya menghidupkan sunah Nabi sebaik mungkin dalam kehidupan sehari-hari. Mereka sangat rajin mengetuk pintu untuk mengajak salat berjamaah, rajin melakukan kajian kesilaman secara bersama, juga hidup penuh kebersamaan setidaknya saat-saat acara khuruj.

Mereka mendoktrinkan kewajiban berdakwah keluar rumah (khuruj) tiga hari setiap bulan, 40 hari setiap tahun, dan 4 bulan selama hidup. Kegiatan yang dilakukan selain berupaya mempraktikkan kehidupan Nabi secara baik dan rinci juga berdakwah mengajak kaum muslimin untuk bersama-sama menjalankan salat berjamaah di masjid dan ibadah lainnya.

Pada praktiknya, saat khuruj mereka melaksanakan salat berjamaah lima waktu bahkan juga menunaikan hampir semua salat sunah, melakukan kajian keislaman dari kitab-kitab Riyadhus Shalihin, Hayah al-Shahabah, dan lainnya, makan bersama dalam satu nampan untuk banyak orang, dan jika ada satu saja anggota jamaah tidak hadir maka mereka akan menunggunya. Mereka mengajak umat di sekitar untuk datang ke masjid saat saat, dan seterusnya. Egalitarianisme dan kebersamaan sangat menonjol dalam kelompok khuruj itu. Kebersamaan ini sering menjadi daya tarik luar biasa di tengah masyarakat yang semakin terfragmentasi berdasarkan kekayaan, profesi, dan seterusnya.

Dalam kelompok-kelompok khuruj itu seorang dokter spesialis dan ahli, misalnya, biasa bersatu makan satu nampan dengan petani gurem, seorang manajer dengan buruh, dan seterusnya. Dan ikatan persaudaraan mereka begitu mendalam. Itu barangkali juga hal yang sangat menyentuh secara mendalam bagi kehidupan pribadi-pribadi jamaah.

Di samping semua itu, kebetulan amaliah mereka dalam ibadah sangat dekat dengan amaliah kebanyakan muslim di Indonesia. Mereka menghargai sufisme, menghormati kiai dan ulama, melaksanakan amaliah dzikir bersama, ikut merayakan maulid, ziarah ke kubur, dan semacamnya.

Hal-hal di atas menurut penulis merupakan poin penting bagi kuatnya penyebaran Jamaah Tabligh, dan mudahnya mereka diterima di masyarakat muslim baik di Indonesia maupun di belahan dunia Islam lain kendati penampilan pakaian mereka tampak eksklusif.

Dr. Ibnu Burdah, MA pemerhati Timur Tengah dan dunia Islam, dosen UIN Sunan Kalijaga; bukan anggota Jamaah Tabligh

(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed