DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Kamis 18 Januari 2018, 11:20 WIB

Analisis Zuhairi Misrawi

Kaum Muda Tunisia Membara

Zuhairi Misrawi - detikNews
Kaum Muda Tunisia Membara Unjuk rasa anti-pemerintah di Tunisia (Foto: Courtesy of Twitter/@Fadilaliriza via Reuters)
Jakarta - Pemandangan politik di Timur Tengah terus memanas, tidak pernah sepi. Setelah aksi demonstrasi meluas di Iran, kini protes pun merambah ke Tunisia. Dulu, saat musim semi Arab bergelayut pada 2011 dari Tunisia, lalu menjalar ke Mesir, Yaman, Libya, Bahrain, dan Suriah.

Intinya, negara-negara Timur Tengah sedang berproses dari demokrasi yang bersifat prosedural menjadi demokrasi yang bersifat substansial. Uniknya, Tunisia merupakan satus-satunya negara di Timur Tengah yang selama ini paling dibanggakan karena mampu meletakkan fondasi demokrasi melalui konstitusi yang menjamin tumbuhnya demokrasi berkeadilan dan berperikemanusiaan. Tapi, kenapa justru Tunisia masih terseok-seok dalam menapaki transisi demokrasi?

Tunisia membuktikan kembali, betapa kaum muda menjadi faktor penting dalam konsolidasi dan implementasi demokrasi. Mengabaikan aspirasi dan kehendak kaum muda bisa berujung pada instabilitas politik, yang jika tidak direspons dengan baik akan berakibat fatal.

Belajar dari peristiwa politik pada 1984 dan 2011, Tunisia selalu mempunyai tradisi politik yang sangat menarik. Siapapun yang tidak mampu mengemban amanat rakyat untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari, biasanya akan berhadapan dengan protes dari warga dalam gelombang yang lumayan besar.

Di satu sisi transisi demokrasi di Tunisia sangat mengagumkan, karena mampu melahirkan konstitusi yang mencerminkan substansi demokrasi, konsolidasi para elite yang mampu membangun kebersamaan, serta tradisi oposisi yang hidup, baik dari partai politik maupun masyarakat sipil. Tapi di sisi lain, Tunisia menghadapi persoalan ekonomi yang tidak mudah. Kata kuncinya adalah keberpihakan terhadap mereka yang tidak mampu dan terpinggirkan. Jika hal ini tidak mampu diatasi dengan baik, maka jalan revolusi akan meledak, cepat atau lambat.

Kaum muda turun ke jalan melakukan protes terhadap kebijakan pemerintah Tunisia terkait dengan anggaran tahun 2018 yang dianggap tidak berpihak kepada warga miskin. Desain ekonomi yang cenderus pro-pasar bebas, dan tidak memberikan perhatian terhadap warga tidak mampu dianggap mencekik mereka.

Desain anggaran 2018 yang menekankan pada naiknya pajak berakibat melonjaknya harga bahan-bahak pokok dan pelayanan publik. Kebijakan ini ditentang kaum muda, karena hampir bisa dipastikan akan menaikkan jumlah pengangguran dan tidak akan mampu menekan inflasi yang berada di angka 6,3%. Akibatnya, nilai tukar mata uang dinar terhadap mata uang asing terus terperosok.

Kebijakan yang seperti ini dianggap oleh kaum muda hanya melanjutkan rezim Ben Ali yang digulingkan pada musim semi 2011 lalu. Tidak ada kreativitas dalam menciptakan lapangan pekerjaan, dan tidak ada prioritas pada program-program pro-kerakyatan. Selain itu, ada masalah dalam transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan dana-dana yang didapatkan dari hasil utang dari lembaga keuangan internasional (IMF).

Sementara itu, kaum muda saat ini hidup dalam zaman digital, yang mana semua informasi bisa diakses. Ben Ali bisa bertahan lama menikmati kue-kue ekonomi karena pada masa itu informasi tidak seterbuka seperti sekarang ini. Tapi kini kaum muda lebih cerdas dan tanggap dalam menghadapi kebobrokan politik. Sebab itu, aksi demonstrasi yang digelar di alun-alum membawa slogan fech nestannew (Apa yang kita tunggu lagi?). Mereka mendesak pemerintah agar mengurungkan kembali rencana kenaikan pajak dalam anggaran 2018, yang sejatinya akan diberlakukan mulai awal Januari 2018.

Hanya saja sangat disayangkan aksi protes yang dimotori oleh kaum muda tersebut tidak berjalan damai, karena menjadi aksi yang merusak perkantoran dan diwarnai dengan aksi penjarahan. Akibatnya aparat keamanan tidak ada pilihan lain untuk memulihkan keamanan dengan menangkap setidaknya 300 orang.

Pada dasarnya, aksi demonstrasi yang digelar bersamaan dengan peringatan 7 tahun revolusi Bou Azizi ini merupakan alarm bagi para elite politik di Tunisia untuk bekerja lebih keras lagi mewujudkan keadilan dan kesejahteraan, khususnya bagi kaum muda dan mereka yang selama ini terpinggirkan.

Kesenjangan antara kelompok kaya dan kelompok miskin masih sangat kentara. Mereka yang hidup di Tunisia bagian selatan adalah kelompok yang selama ini kurang mendapatkan perhatian. Mereka hidup dalam kondisi yang mengenaskan, dan tidak mendapatkan pelayanan publik yang baik. Mereka yang hidup mewah bisa dengan mudah berobat ke Prancis dan menikmati kartu kesehatan. Sementara mereka yang miskin tidak mendapatkan pelayanan kesehatan yang layak.

Secara politik, partai yang berkuasa khususnya Partai Nidaa Tunis dan Partai Nahda harus merespons dengan baik tuntutan kaum muda. Sebab yang disampaikan mereka merupakan problem riil yang harus menjadi prioritas, sehingga isu kenaikan pajak dan melonjaknya harga bahan-bahan pokok tidak menjadi menjadi celah meluasnya aksi protes dan bahan empuk partai oposisi untuk menyudutkan partai penguasa.

Menurut Sami Hamdi dalam Seven Years On: Why Tunisians are Still Angry, publik mempunyai harapan terhadap Partai Nahda sebagai partai besar agar menjadi penyelamat. Sayangnya Nahda lebih memilih untuk melakukan manuver daripada menjalankan agenda-agenda serius di bidang ekonomi. Komentar para elite Partai Nahda saat meletusnya aksi demonstrasi sama sekali tidak menunjukkan empati terhadap aspirasi kaum muda.

Memang, prioritas Partai Nahda dalam 7 tahun terakhir, yaitu konsolidasi demokrasi bersama dengan partai-partai sekuler lainnya. Nanda tidak ingin nasib yang menimpa Mesir, Libya, dan Yaman juga terjadi di Tunisia. Karenanya prioritasnya membangun konsolidasi dengan partai-partai politik lainnya.

Pelajaran terpenting dari aksi protes yang berlangsung massif itu sejatinya Partai Nidaa Tunis dan Partai Nahda dapat mengambil pelajaran berharga. Saatnya isu ekonomi menjadi prioritas utama. Apalagi sekarang sektor pariwisata mulai menggeliat dan beberapa sektor lainnya juga sudah tumbuh. Artinya, perlu skala prioritas untuk memecahkan persoalan kemiskinan dan kesenjangan sosial.

Aspirasi kaum muda perlu direspons dengan cepat. Apalagi pada tahun ini sudah memasuki tahun politik, karena akan digelar pemilu presiden. Jika isu ini tidak dikelola dengan baik, maka akan menjadi makanan empuk bagi pihak oposisi. Suara kaum muda adalah suara yang tidak bisa diremehkan. Saatnya elite politik Tunisia mendengarkan suara kaum muda untuk fokus pada program ekonomi dalam rangka memecahkan masalah kemiskinan dan kesenjangan sosial yang kasat mata.

Zuhairi Misrawi intelektual muda Nahdlatul Ulama, analis pemikiran dan politik Timur-Tengah di The Middle East Institute, Jakarta


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed