DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Selasa 16 Januari 2018, 13:32 WIB

Sentilan Iqbal Aji Daryono

Para Sarjana, Menulislah di Jagat Maya!

Iqbal Aji Daryono - detikNews
Para Sarjana, Menulislah di Jagat Maya! Iqbal Aji Daryono (Ilustrasi: Ivon/detikcom)
Jakarta - Judul tulisan ini beraroma mulut trainer. Biasanya kalimat senada dilontarkan pada pelatihan-pelatihan kepenulisan, sebagai motivasi agar para peserta bersemangat menulis sampai kesetanan. Menulislah maka Anda akan kaya!

Haha. Maaf, bukan itu yang saya maksud. Ini sesederhana permohonan agar orang-orang sekolahan mengisi lalu lintas dunia maya dengan gagasan dan perspektif bermutu. Kira-kira begitu.

***

Pada era ini, informasi di lini masa selalu menggerakkan kita. Menggerakkan persepsi kita, menggerakkan imajinasi-imajinasi kita, menggerakkan cara kita menyikapi peristiwa demi peristiwa. Bahkan, pada satu titik ia mampu menggerakkan fisik kita dalam tindakan-tindakan kasat mata.

Semangat masyarakat dalam membaca terbukti melonjak luar biasa. Membaca celotehan di grup Whatsapp, membaca unggahan di Facebook, membaca caption Instagram, termasuk membaca tulisan-tulisan dari situs-situs web yang akurasinya ada pada level wallahualam. Lho, ini bukan sarkas lho. Semua kegiatan itu tetap merupakan aktivitas membaca, to?

Keriuhan dunia baca-membaca di zaman ini dihidupi oleh siapa pun. Revolusi media sosial menyajikan parade kebebasan bersuara ala demokrasi superliberal dalam layar kecil di genggaman tangan kita. Mulai profesor hukum hingga anak geng motor yang menyentuh buku saja seumur-umur belum pernah, semua bisa menyajikan cerita. Semua orang sekarang bisa menulis, dan semua jenis tulisan bisa terbaca!

Luar biasa, bukan? Indonesia adalah gudangnya penulis produktif! Ini harus kita rayakan! Cheers!

Nah, setelah bersulang, mari duduk sebentar. Kita lihat dulu, sebagian besar tulisan yang tersebar hingga WAG Karang Taruna itu tulisan yang seperti apa? Betulkah sebagian besar tulisan-tulisan itu mencerdaskan, memberikan data akurat dan bertanggung jawab, atau minimal mengajarkan pembenahan cara berpikir dan bersikap?

Tidak? Kenapa begitu? Ya karena yang lebih tekun menulis adalah populasi "penulis lepas" dan "penulis liar" yang memang tidak melandasi aktivitas mereka dengan pertanggungjawaban ilmiah apa pun. Contohnya: saya sendiri.

Bukan, ini bukan omongan genit sok rendah hati. Tapi saya memang tidak memiliki kualifikasi keilmuan tertentu. Saya menulis asal sesuai dengan apa yang terlintas di pikiran, asal merasa bahwa yang saya pikirkan itu benar. Itu thok, tanpa landasan ilmiah yang sepantasnya. Dan malangnya, spesies seperti saya inilah populasi terbanyak penulis dunia maya!

Sampai di sini, muncul pertanyaan pentingnya: lalu di mana para sarjana kita? (Ketika saya menyebut istilah "sarjana", maksud saya tentu tidak sesederhana lulusan S1 perguruan tinggi, melainkan mereka yang memiliki kualifikasi akademis hebat, hingga level master dan doktor sekalipun.)

Memang sih, lumayan juga ada beberapa orang berpendidikan tinggi yang mengisi keriuhan dunia maya. Namun bisa dibilang cuma itu-itu saja, dan terlalu sedikit jika dibandingkan dengan angka jumlah sarjana atau master atau doktor kita secara keseluruhan. Nggak usah jumlah sarjana S1, lah. Di antara para doktor Indonesia yang jumlahnya cuma 31 ribu orang itu, cuma ada berapa biji yang mendominasi percakapan di dunia maya?

***

Saya menduga, penyebab minimnya jumlah sarjana aktivis dunia maya setidaknya ada tiga.

Pertama, para sarjana terlalu membatasi diri dengan menulis jurnal ilmiah. Harga diri intelektual mereka ditancapkan semata dengan jurnal.

Tentu saja itu tidak salah, sebab menulis jurnal wajib hukumnya, dan memang itulah salah satu tugas utama yang harus dipenuhi oleh para akademisi. Namun jika berhenti di situ saja, gagasan mereka hanya akan disantap oleh sesama kalangan elite pengetahuan. Tidak bisa lebih dari itu.

Dalam bahasa yang lebih kejam, para sarjana yang semata menulis jurnal sekadar mengabdi kepada dunia keilmuan, tapi lupa mengabdi kepada masyarakat dari mana mereka dilahirkan.

Maka saya agak merasa nganu, ketika beberapa tahun silam seorang profesor ternama yang mengajar di sebuah universitas di luar negeri berceramah di hadapan para akademisi UGM Yogyakarta: "Kalau kalian akademisi, ya jangan nulis di koran. Itu jatahnya para penulis. Akademisi ya nulis jurnal ilmiah!"

Saya serasa mendengar sejenis kesombongan, bahkan kampanye sikap antisosial.

Mungkin saya salah, atau cuma lagi PMS saja. Tapi belakangan muncul di beranda Facebook saya tulisan Asit Biswas, profesor di National University of Singapore, dan Julian Kirchherr, peneliti di Oniversity of Oxford. Keduanya membuat pengamatan dan estimasi bahwa sebuah tulisan di jurnal ilmiah rata-rata hanya dibaca hingga tuntas oleh 10 orang. Ya, sepuluh orang!

Bayangkan, betapa elitisnya wacana yang dibagikan dalam jurnal-jurnal, dan betapa terbatas jangkauannya. Lalu bagaimana gagasan orang-orang pintar di universitas memberikan faedah berlimpah bagi para jelata sudra pengetahuan macam kita-kita?

Kedua, kalau toh menulis untuk publik, banyak sarjana yang masih berpikir bahwa media cetak tetap lebih berwibawa. Maka mereka terus menulis di media cetak, sembari tak percaya media online. Ini riil, saya pernah menjumpai beberapa di antaranya. Mungkin satu-dua masih membawa jargon klasik, "Ah, rasanya bau kertas tetap romantis, dan tak tergantikan oleh bau layar sentuh semutakhir apa pun."

Mereka tak sadar, bahwa salah satu koran cetak terkuat di Indonesia saja oplahnya konon sekarang cuma 300 ribu eksemplar. Anda menulis opini di koran tersebut, belum tentu terbaca oleh separuh dari ke-300 ribu pelanggan. Sebab terlalu banyak pelanggan yang tak punya waktu untuk membaca halaman opini.

Bandingkan dengan tulisan di dunia maya. Sebuah tulisan laris sangat mungkin dibaca oleh lebih dari sekadar 300 ribu orang. Sebab ada satu mekanisme di dunia online yang tidak dimiliki dunia cetak, yakni viral. Secara teknis, membagi sebuah tulisan di dunia maya sangat mudah. Dalam hitungan menit, sebuah gagasan tertulis bisa tersebar kilat ke puluhan grup Whatsapp, grup BBM, juga dibagi di laman-laman media sosial.

Anda tak mungkin menjalankan mekanisme viral pada tulisan di koran cetak, bukan? Atau Anda punya waktu untuk memfotokopinya, lalu menyebarkannya di masjid-masjid bersebelahan dengan buletin jumatan?

Maka kadang saya malah geli kalau ada penulis yang memaksa diri memviralkan tulisan cetak dengan cara memotretnya, mengunggahnya di akun Facebook, lalu orang-orang membacanya sambil memicing-micingkan mata hehehe.

Ketiga, karakter dunia maya yang cair agaknya membuat martabat intelektual para sarjana terluka. Tulisan-tulisan dunia maya sering diracik dengan enteng, lentur, kadang sangat dipengaruhi warna tradisi oral. Sementara banyak sarjana yang masih percaya bahwa tulisan bermutu adalah tulisan yang bisa membikin stroke pembacanya, dengan tumpukan istilah ilmiah, kutipan-kutipan hebat, serta nukilan referensi yang menggetarkan hati.

Maka, dunia maya pun terlalu nista untuk dijadikan wadah gagasan adiluhung mereka.

***

Masyarakat kita ini, saya rasa, membuat lompatan peradaban yang tidak taat silabus. Kita belum selesai dengan budaya literasi cetak, tahu-tahu tradisi literasi online sudah berkuasa dengan begitu cepatnya. Fondasi kita belum cukup kuat untuk menyaring banyak hal dan menyingkirkan sampah-sampah yang terlalu cepat memenuhi ruang-ruang akses informasi kita.

Maka di sinilah para akademisi, para sarjana, para orang pintar yang jelas kualifikasi keilmuannya, ditantang untuk ngeli ning ora keli, kalau orang Jawa mengungkapkan. Menghanyutkan diri tapi tidak terhanyut. Menunggangi arus yang sudah sedemikian tak terlawan, masuk ke dalam pusaran keributan-keributan dunia maya, namun sembari berjuang agar di atas rapuhnya fondasi literasi tersebut semua orang bisa terus belajar.

Yaaa, kecuali Anda-Anda ikhlas pergulatan wacana di tengah publik berhenti di level begini-begini saja.

Iqbal Aji Daryono esais tanpa kualifikasi, tinggal di Bantul


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed