Demokrasi sebagai sebuah drama sukar untuk dilihat secara telanjang. Dia hanya mampu dimengerti dan dipahami ketika subjek yang mendekatinya terbuka dengan segala macam tafsir. Tak ada ruang tunggal dalam demokrasi. Serupa halnya, akan selalu ada rahasia di balik rahasia dalam politik.
Kendati demikian, demokrasi nyatanya bukan soal lakon drama dan larik yang puitik. Demokrasi dalam praktis politik telah berubah menjadi sebuah hamparan angka-angka statistik. Sebuah alasan yang akan menjadi jembatan elektoral bagi politisi pergi ke medan palagan pemilihan. Tersebutlah dia, kandidasi dalam pilkada, dibangun di atas survei tentang elektabilitas dan popularitas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sukar untuk dapat dikatakan pilkada serentak 2018 bukan menjadi jembatan antara. Dalam sebuah kompetisi, sudah sewajarnya setiap kandidat mengincar kemenangan. Namun, di level makro, kandidasi dalam pilkada serentak 2018 dapat juga dimengerti sebagai sarana memanaskan mesin partai menjelang pertarungan yang sesungguhnya di 2019. Karena itu, untuk beberapa partai politik, kepentingan mengetahui peta kekuasaan secara real jauh lebih penting dibanding harus menghabiskan energi berebut tampuk juara.
Dalam momen politik yang akan berlangsung paralel hingga tahun depan, momentum kandidasi dalam pilkada serentak 2018 harus menjadi sarana reflektif bagi publik. Dia dapat menjadi cermin dalam melihat tipologi partai ketika dihadapkan pada momentum merebut dan mempertahankan kekuasaan. Partai mana yang bekerja berdasarkan ideologi dan visi politiknya, dan partai mana yang bekerja demi kekuasaan an sich.
Mengapa publik harus menaruh perhatian secara serius pada partai politik? Karena partai politik adalah instrumen demokrasi. Tak ada demokrasi tanpa partai politik. Partai politik adalah salah satu elemen vital guna membentuk kualitas demokrasi yang mapan. Tak ada demokrasi yang benar-benar baik, tanpa dibangun oleh partai politik yang dapat menjadi tauladan.
Dalam konteks proses kandidasi pilkada serentak 2018, harus daikui proses pelembagaan partai politik melalui desentralisasi pengambilan keputusan masih memiliki banyak catatan. Untuk sebuah kontestasi di aras lokal, banyak partai politik belum mampu keluar dari kuasa DPP. Sehingga, tak jarang untuk konteks politik daerah, cara pandangnya masih menggunakan lensa Jakarta.
Oleh karena itu, pilkada serentak 2018 harus benar-benar kita sambut dengan gembira. Sebagai sebuah pertunjukan, mari kita simak dengan penuh rasa nyaman. Sebagai sebuah proses belajar, mari kita catat guna mencegah kesalahan yang sama kembali terulang di pilpres tahun depan. Tak lebih, sebagaimana pesan bijak yang sering kita dengar, pemilu semata-mata bukan hanya untuk memilih yang terbaik, namun jauh lebih penting dari itu, ada guna mencegah yang terburuk untuk dapat terpilih. Tabik.
Nanang Suryana peneliti muda PSPK UNPAD
(mmu/mmu)











































