Kolom

Yon Koeswoyo Sang Legenda

Aris Setiawan - detikNews
Jumat, 05 Jan 2018 15:04 WIB
Foto: Palevi S/detikHOT
Jakarta - Yon Koeswoyo, sang vokalis Koes Plus itu telah berpulang untuk selamanya di usia ke-77 tahun pada 5 Januari 2018 karena sakit yang dideranya. Lewat Yon, Koes Plus menjadi The Beatles-nya Indonesia. Karakter warna vokalnya begitu digandrungi oleh segala lapis generasi, dari masyarakat akar rumput hingga kalangan aristokrat. Yon Koeswoyo banyak menggores kisah, terutama bagi perkembangan dan sejarah musik pop di Indonesia.

Bukan Vokalis Biasa

Yon Koeswoyo adalah jiwa Koes Plus. Band idola itu berjaya saat Orde Baru berkuasa, kala saling-silang budaya (terutama Barat) dibuka lebar. Maklum saja, Orde Lama di bawah rezim Sukarno melarang keras masuknya kebudayaan beraroma "ngak-ngik-ngok" (baca: Barat). Musik-musik Barat dianggap sebagai representasi bunyi yang tak mampu memberi pencerahan bagi kultur dan adab ketimuran. Bahkan, Yon dan personel Koes Bersaudara sempat dibui pada 1 Juli 1965 karena dianggap penyebar faham kapitalis dengan seringnya menyanyikan lagu-lagu Barat terutama Beatles.

Koes Bersaudara tak bertahan lama karena keluarnya Koesnomo (Nomo). Murry serta Totok A.R. kemudian menjadi personel baru. Kehadiran Murry dan Totok A.R. mengharuskan penambahan nama "Plus" (setelah kata Koes) di tahun 1969. Tak sekadar beralih nama dari Koes Bersaudara menjadi Koes Plus, band baru itu bermetamorfosis; lebih berani dengan menggarap lagu-lagu beraroma Jawa seperti Tul Jaenak dan Ojo Nelongso. Serta berwarna Melayu seperti Mengapa dan Cinta Mulia. Tak ketinggalan pula rasa keroncongnya yang berjudul Penyanyi Tua.

Walaupun berciri lintas etnik, Yon dengan suara vokalnya justru mampu memberi penguatan dan ciri yang tipikal. Saat bernyanyi dalam etnis Jawa, ia terasa Jawa sekali, begitu pun kala bersenandung dalam tema Melayu dan keroncong. Perjalanan Yon bersama Koes Plus tak semanis yang dibayangkan. Ia sempat gusar gara-gara album piringan hitam pertama berjudul Kelelawar tak laris di pasaran, dan ditolak oleh banyak toko kaset. Namun, setelah Radio Republik Indonesia (RRI) memutar lagu tersebut barulah banyak masyarakat yang terpesona dan memburu kasetnya. Terlebih karya-karya Koes Plus berikutnya seperti Derita, Kembali ke Jakarta, Malam Ini, Bunga di Tepi Jalan hingga lagu Cinta Buta mendominasi tangga lagu musik Indonesia waktu itu.

Nama Yon Koeswoyo semakin melambung. Warna suaranya cukup unik, menjadi panutan generasi muda di zamannya. Aksentuasi vokalnya tidak banyak berpamer teknik, terkesan sederhana, namun memiliki ciri dan karakter yang kuat. Ambri Rahayu lewat tulisannya Perjalanan Karir Koes Plus 1969-1987 (2012) menjelaskan, karakter suara Yon Koeswoyo menjadikan gaya musikal Koes Plus lebih kaya dan variatif. Tak hanya mengacu pada Beatles, namun lebih akulturatif dengan memasukkan unsur dangdut, keroncong dan pop Jawa. Yon Koeswoyo adalah musisi lintas batas yang mampu menangkap fenomena zaman.

Ia menyadari bahwa tradisi (etnik) tidaklah beku oleh waktu. Tradisi memberi pilihan untuk diornamentasi dan diaransemen ulang. Tradisi adalah sumber olah kreatif. Oleh karena itu, lagu dan gaya bermusik Koes Plus menjadi berciri Indonesia, lokal, unik, dan tipikal. Karya-karyanya mampu menarik simpatik publik, baik tukang becak maupun para petani. Yon Koeswoyo menjadikan masyarakat Indonesia tak semata sebagai pendengar, namun seolah menjadi tokoh utama dalam setiap lagunya.

Lihatlah Pak Tani, Bujangan, Mobil Tua, Cubit-cubitan. Mendengarkan lantunan vokal Yon kala itu seolah menarasikan tentang realitas kehidupan masyarakat Indonesia. Tema lagunya sederhana, namun mengena. Liriknya tidak muluk apalagi puitis, namun juga tak terkesan kacangan.

Yon Koeswoyo lewat Koes Plus memberi variasi agar musik tak selalu berkisah tentang cinta-cintaan dan asmara semata. Tapi juga perjuangan hidup, doa, dan cinta tanah air. Suara vokalnya menjadi hal penting yang memberi "nyawa" dan karakter bagi Koes Plus. Di zamannya, radio-radio tiada habis menyuluh musik Koes Plus. Band itu menjadi acuan garap bagi kelompok musik lain. Koes Plus tak ubahnya virus yang mengharuskan banyak produser rekaman musik tanah air menjadikan band-band baru menirunya.

Lihatlah Favourites, Panbers, Mercy's, D'Lloyd yang selalu meniru apa yang dilakukan Koes Plus, terutama membuat album musik berwarna pop Jawa, Melayu dan Keroncong. Menjadikan musik etnik sebagai sumber penciptaan bukannya tanpa ketakutan. Banyak kelompok musik dan perusahaan rekam yang takut merugi alias bangkrut kala bersentuhan dengan tradisi. Dengan alasan tak begitu digemari, kuno, dan tak laku di pasaran. Musik etnik dianggap telah membasi. Yon Koeswoyo dan Koes Plus berusaha mendekonstruksi anggapan itu. Album-albumnya yang mengambil musik etnik sebagai pijakan justru laris manis di pasaran seperti kacang goreng; renyah, dan disukai.

Yon Koeswoyo bersama Koes Plus meraih puncak popularitas pada 1972 hingga 1976. Koes Plus menjadi band terbaik dalam Jambore Band di Senayan 1972. Mereka menjadi satu-satunya band yang berani menyanyikan lagu-lagu karyanya sendiri dengan bahasa Indonesia, sementara band-band peserta lain justru malu dan menggunakan lagu-lagu berbahasa Inggris agar lebih dianggap modern (Ilunk, 2009).

Pada akhirnya, Koes Plus dinobatkan sebagai kelompok band legendaris dengan mendapatkan tanda penghargaan berupa "Legend Bas Award" pada 1992 atas jasanya dalam bidang musik. Yon bersama Koes Plus telah menghasilkan 121 album, sebuah pencapaian yang monumental. Sayang, di balik banyaknya album tercipta, Koes Plus di eranya tak mengenal arti royalti atas penjualan album-albumnya. Karena itulah, konon ketika masa jayanya berakhir, salah satu personel Koes Plus sempat berjualan batu akik demi mencukupi kebutuhan hidupnya.

Abadi

Dendang suara Yon Koeswoyo telah membeku alias abadi dalam blantika musik Indonesia, tak lekang oleh waktu. Banyak forum-forum musik digelar dengan mengambil lagu Koes Plus sebagai materi utama. Di pelbagai daerah Indonesia lahir Koes Plus Mania, yang melangsungkan acara Koes-Plusan dengan menghadirkan band-band masa kini yang membawakan lagu-lagu Koes Plus.

Di balik itu semua, Yon Koeswoyo dan Koes Plus memberi pelajaran penting akan arti bermusik. Ia menggurat satir bagi musisi dan karya musik masa kini yang cenderung glamor namun dangkal kreativitas dan makna. Lagu-lagu baru di era mutakhir hanya menjadi "etalase kapitalis" yang didengar kemudian ditinggalkan. Tak mampu membekas dan memberi goresan penting bagi pembabakan sejarah musik di Indonesia.

Kini Yon Koeswoyo telah tiada, namun suara dan kisahnya akan senantiasa dapat kita dengar. Dirinya dan Koes Plus melegenda, menjadi "pilar" yang pernah menyangga denyut hidup musik pop tanah air. Kita pantas berduka atas kepergiannya. Selamat jalan, Yon Koeswoyo!

Aris Setiawan etnomusikolog, Pengajar di Institut Seni Indonesia Surakarta
(mmu/mmu)