DetikNews
Jumat 05 Januari 2018, 14:18 WIB

Kolom

Menyantap (Bahasa) Makanan

Setyaningsih - detikNews
Menyantap (Bahasa) Makanan Ayam geprek (Foto: Lusiana Mustinda/detikFood)
Jakarta - Pada November 2017, teman saya semasa kuliah membuka sebuah warung makan bermenu ayam di dekat sebuah kampus di Kartasura, Jawa Tengah. Dia menamakan warungnya Omah Makan Ayam Nyokot. Secara anatomis, ayam tentu bukan makhluk yang bisa "nyokot" atau menggigit. Justru satu hal yang pasti di jagat kuliner bahwa selalu manusia yang nyokot atau menggigit ayam.

Teman saya ingin membawa nuansa yang seru, mantap, dan meyakinkan lewat istilah "nyokot" yang didukung penuh oleh lumeran sambal ulek nan pedas dan biadab. Meski di masa kuliah dulu teman saya adalah seorang aktivis pergerakan yang cukup getol dan berani, dia tentu enggan mengambil risiko menamai makanan dengan "wacana ayam kritis", "ayam teoritis", "ayam berdialog", "ayam melawan", atau "ayam aktif". Hal ini semacam menyalahi nama sajian ayam yang belakangan menjadi tren, seperti ayam bledek, ayam geprek, ayam penyet, atau ayam setan.

Warung-warung makan lokal keindonesiaan dan agak berbau kerakyatan memang harus berinovasi dalam soal nama untuk mengalahkan pamor gerai makan asing, seperti gerai ayam ala Amerika. Nama yang mengadopsi bahasa Indonesia atau daerah memunculkan kesan nonjok secara penyajian, rasa, atau terutama sambal mahapedas yang melumuri. Kepercayaan diri yang bersifat lokal ini bisa sejenak menertawakan gerai-gerai kue bikinan para selebritis Indonesia yang tengah menjamur di pelbagai kota.

Di Solo, ada Solo Pluffy milik Jessica Mila, dan Vallens Cake oleh Via Vallen. Di Jogja, kita tiba-tiba ditabrak Jogja Scrummy kepunyaan Dude Herlino yang sempat ganteng pada masanya. Dion Wiyoko pun membuka restoran makanan laut, O! Fish pada 2016. Para selebritis biasanya tidak hanya memilih nama berkesan asing, tapi juga memajang foto mereka besar-besar untuk promosi sekaligus ketidakpercayaan diri. Mereka menggunakan kepopuleran wajah untuk menjamin makanan memang enak.

Saat ini, ketika kita mendatangi pelbagai tempat kuliner, mata akan disodori nama-nama yang "ada-ada saja". Ada mendem duren, es pocong, es kuntilanak, mie kegelapan, mie setan, sosis naga, ceker mercon, ceker duerrr, bakso rudal, bakso granat, es buto ijo, nasi goreng gila. Segala macam diksi dari jagat militer, kriminal, dan horor bisa sedemikian manjur dipakai menamai santapan. Orang tidak lagi merasa terancam, takut, atau berdosa.

Nama-nama itu seolah menantang setiap orang menjadi penyantap paling berani. Bahasa makanan bertaut dengan psikologis. Semakin nama terdengar inovatif, keren, dan misterius, semakin kuat bahasa mempengaruhi mental, perasaan, dan suasana hati.

Bahasa yang Habis

Di novel terbaru Leila S. Chudori, Laut Bercerita (2017) ada sajian jelata yang diangkat pamornya, mie instan, berjuluk makanan penuh dosa. Para penikmat mie instan adalah mahasiswa aktivis 1998 pelengser Soeharto dan Orde Baru. Makanan penuh dosa yang mengabaikan segala petuah gizi dan kesehatan justru mengantarkan para penikmatnya pada aksi-aksi perlawanan yang berakhir pada maut atau penghilangan. Mie instan yang iklannya sering berhasil membawa misi kenusantaraan dan keindonesiaan, tidak memerlukan bahasa muluk, kebaratan, atau asing untuk mengumpulkan jamaah.

Kita cerap prosesi memasak mie instan nan agung. Tokoh Laut memang memilih abai pada bumbu kemasan demi mencipta rasa yang melampaui sadis. "Mas Laut mengeluarkan ulekan ibu dari lemari bawah, menggerus dua buah cabe besar, satu cabe keriting, lima cabe rawit, dua suing bawang putih, dan tiga siung bawang merah, sedikit terasi bakar, garam, dan dua tetas minyak jelantah. Dengan semangat dia menguleknya di bawah tatapan Alex dan aku yang penuh liur karena sambal itu adalah kunci segalanya. Mie instan sudah masak. Kami segera saja menikmati kuah mie kuah dengan kaldu ayam buatan Mas Laut yang kemudian dicampur kornet dan dikupyur dengan bawang goreng dan sambal rawit…oh segera saja membakar lidah."

Namun, ada nostalgia rasa yang mampu menghabisi bahasa. Kita menemukannya di sebuah adegan dalam film animasi Ratatouille (Brad Bird, 2007) saat sang kritikus kuliner dihidangkan sepiring sajian khas Prancis, ratatouille. Begitu kritikus kuliner menyendok sesuap, matanya langsung membulat. Dia seketika melepaskan pena di genggaman dan menyusut ke masa kecil saat ibu menyajikan makanan yang sama di dapur rumah.

Tidak ada ucapan mantap, lezat, maknyus, amazing, apalagi delicious; sekadar ujaran "hemmm" nan liris. Kenangan masa kecil dan masakan ibu, sebuah momentum kecil di masa lalu yang mengendap di perigi ingatan, yang menghabisi segenap bahasa, pujian, penyebutan, atau merek-merek.

Sajian bahasa dan nama hadir untuk membuat kita membayangkan santapan sebelum benar-benar mengecap dan menelan. Raga menanggapi dengan penasaran, semangat berlipat, atau malah ketidakpercayaan dan memilih berbalik pada sajian menu (bahasa) yang biasa saja. Inovasi sajian membuat bahasa Indonesia, bahasa daerah, dan bahasa asing bertaruh memperebutkan porsi di hadapan jamaah kuliner Indonesia.

Setyaningsih esais, tinggal di Boyolali. Penulis buku Bermula Buku, Berakhir Telepon (2016)

(mmu/mmu)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed