DetikNews
Sabtu 30 Desember 2017, 13:16 WIB

Kolom

Catatan Akhir BUMN 2017

Toto Pranoto - detikNews
Catatan Akhir BUMN 2017 Menteri BUMN jajal kereta bandara (Foto: Rengga Sancaya)
Jakarta - Tahun 2017 segera akan berakhir. Coretan prestasi dan stagnasi tentu mewarnai semua korporasi di Indonesia, tidak terkecuali BUMN. Prestasi menjadi pemacu untuk ditingkatkan di masa depan, sementara stagnasi menjadi evaluasi untuk bangkit di masa depan.

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno menargetkan jumlah perusahaan yang merugi pada akhir tahun 2017 sebanyak 13 hingga14 perusahaan. Jumlah itu menurun dibanding sebanyak 24 BUMN yang mengalami defisit pada semester I 2017. Hal itu disampaikan dalam Rakor BUMN di Toba pada Desember 2017. Rini menjelaskan, faktanya ada BUMN yang merugi karena kalah bersaing di pasar, ada yang rugi sudah puluhan tahun. Ada juga BUMN yang mengalami kerugian karena ketidakmampuan manajemen untuk mencetak laba.

Sebelumnya, pemerintah pada 2015 telah memberikan Penyertaan Modal Negara (PMN) kepada beberapa Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan lembaga. Namun, faktanya ada beberapa perusahaan yang justru merugi setelah mendapatkan suntikan modal tersebut. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati pada September 2017 mengatakan, dari sejumlah BUMN yang mendapatkan suntikan modal terdapat 26 BUMN sesudah dilakukan PMN mereka mendapatkan laba bersihnya naik, 4 BUMN sesudah mendapatkan PMN tingkat kerugian mereka mengecil, serta 6 BUMN yang sesudah mendapatkan PMN kerugiannya malah bertambah.

Pertanyaan kenapa BUMN mengalami kerugian? Bukankah sebagian dari mereka juga sudah berkali-kali menerima suntikan modal pemerintah dalam bentuk PMN? Jawaban klasik adalah karena BUMN juga mengemban tugas negara dalam pelayanan publik dengan menjalankan misi PSO. Penugasan ini terkadang membuat mereka sukar bergerak dan kesulitan memperbaiki kinerja keuangan.

Namun apabila perusahaan negara sekelas Garuda atau Krakatau Steel mengalami kerugian cukup besar, kemungkinan jawabannya karena bermasalah dalam pengelolaan struktur biaya. Garuda Indonesia mengalami kerugian karena meningkatnya harga bahan bakar serta masih ruginya beberapa rute domestik dan internasional. Sebagai pembanding, Singapore Airlines sebagai pesaing regional di triwulan 1 tahun 2017 mampu mencatatkan keuntungan sebesar $ 235 juta, meskipun juga mengalami penurunan laba hampir $ 22 juta dibandingkan periode sebelumnya. Pengaruh gejolak harga avtur dunia disiasati dengan proses hedging yang ketat untuk meminimalisasi kerugian. Sementara sumbangan anak perusahaan seperti SIA Cargo juga meningkat.

Pada kasus Krakatau Steel (KS), kinerja pada triwulan pertama tahun 2017 mengalami kerugian sebesar US $ 22,24 juta atau relatif membaik dibandingkan kerugian pada periode yang sama pada tahun sebelumnya sebesar US $ 62,84 juta. Beban kerugian ini timbul karena masih meruginya banyak anak perusahaan di bawah KS, dan tingginya beban biaya akibat financial charges. Sementara beberapa raksasa perusahaan baja dunia seperti POSCO mencatatkan hasil positif, di mana pada Q1 tahun 2017 mencatatkan laba sebesar US $ 748 juta. Kabar baiknya sudah ada kesepakatan baru dengan Grup POSCO untuk membangun integrated steel plant di Cilegon dan kesepakan dengan Sango Corporation Jepang untuk membangun fasilitas pabrik wired-rod yang dapat mencukupi kebutuhan industri otomotif lokal.

Catatan kritis atas kinerja beberapa BUMN yang masih merugi pada 2017 ini, selain disebabkan faktor eksternal yang bersifat uncontrollable juga sebagian disebabkan lemahnya daya saing. Kelemahan tersebut bersumber dari lambatnya antisipasi bisnis karena dinamika lingkungan yang berubah, kualitas SDM dan leader yang kurang memadai, serta kemungkinan terlalu panjangnya birokrasi dalam pengambilan keputusan.

Terkait talent management tentu dibutuhkan kapasitas pemimpin yang kuat dan berpengalaman. Untuk grup sekelas Temasek, mereka masih mempekerjakan pemimpin bisnis kelas dunia seperti Robert Zoellick (mantan Presiden Bank Dunia), Peter Voser (mantan CEO Royal Dutch Shell), dan Marcus Wallenberg (mantan CEO SAAB). Demikian pula di Khazanah yang mempekerjakan banyak expat dalam grupnya. Dalam hal ini, kelihatannya BUMN kita tertinggal jauh. Kelihatannya tidak mudah mendapatkan sosok sekaliber Robby Djohan atau Ignasius Jonan dalam pengelolaan BUMN.

Antisipasi pengelolaan BUMN yang lebih responsif dan fokus untuk sebagian sudah terjawab dengan mulai digulirkannya pembentukan Holding Company (HC) baru di akhir 2017 ini. Pembentukan HC ini sebagai upaya menghasilkan kerja sama yang bersifat win-win dan memutus mata rantai aktivitas yang tidak efisien. Intinya, HC menghasilkan value creation; apabila tidak terjadi peningkatan nilai maka lebih baik BUMN tersebut dibiarkan stand alone. Tentu pembentukan HC ini memerlukan pengawalan yang ketat supaya tidak melenceng dari tujuan positif yang diinginkan.

Catatan lainnya adalah perlunya segera dilakukan perampingan jumlah BUMN. Saat ini masih terjadi pareto condition dari 112 BUMN yang dikoordinasikan di Kementerian BUMN. Perlu dilakukan pemetaan BUMN yang lebih ringkas dengan memisahkan BUMN sehat dan berdaya saing; dipisahkan dari BUMN yang tidak sehat dan kontribusi kepada sektor publik juga sudah menurun. Opsi untuk kelompok BUMN terakhir bisa berupa langkah likuidasi atau dikembalikan ke kementerian teknis untuk pembinaan selanjutny. Model seperti ini dikerjakan di Malaysia, di mana seiring pembentukan Khazanah pada 2004 maka BUMN yang bersifat non komersial dikembalikan kepada kementerian teknis. Pemetaan ini diharapkan akan menghasilkan struktur BUMN yang lebih ringkas namun memiliki daya saing tinggi.

Catatan akhir BUMN 2017 diharapkan memberikan semangat baru dalam mengarungi era 2018 yang pasti akan bergerak lebih dinamis. Revolusi industri ke-4 dengan technology disruption sebagai motornya akan mempengaruhi secara signifikan lansekap bisnis masa depan. Kunci bertahan dan bertumbuh adalah daya saing. Saatnya BUMN bisa bergerak lebih lincah dan responsif dalam perubahan zaman ini.

Dr Toto Pranoto Managing Director Lembaga Management FEB UI

(mmu/mmu)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed