DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Kamis 28 Desember 2017, 16:03 WIB

Kolom

Menebak Langkah Trump Selanjutnya

Siti Siamah - detikNews
Menebak Langkah Trump Selanjutnya Ilustrasi: Zaki Alfarabi/detikcom
Jakarta - Bersama detik-detik pergantian tahun 2017 menuju 2018, dunia dibayang-bayangi kecemasan bakal meluasnya konflik Palestina-Israel, terkait perkembangan di Dewan Keamanan PBB dalam merespons keputusan Donald Trump yang mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel, dan hendak memindahkan kantor kedutaan besar Amerika dari Tel Aviv ke Yerusalem yang kemudian ditentang sejumlah negara.

Dengan tegas Trump mengancam negara-negara yang menentangnya. Sekarang, bisa jadi Trump sedang menyusun langkah-langkah selanjutnya yang akan dilaksanakannya, terkait dengan ancamannya.

Dengan tipe karakter jagoan atau petarung tangguh yang dimilikinya, langkah-langkah selanjutnya yang akan dilakukan Trump mungkin bertujuan untuk menghancurkan negara-negara yang menentangnya.

Caranya, tentu saja yang paling kecil risikonya bagi tentara Amerika. Artinya, menghancurkan sejumlah negara yang menentang Amerika tak perlu menerjunkan tentara Amerika melainkan cukup dengan memasok senjata dan uang kepada sel-sel organisasi kekerasan yang berpotensi menjadi pemberontak di masing-masing negara.

Trump tentu tahu, semua negara yang menentang Amerika memiliki problem politik dan keamanan di dalam negeri masing-masing. Bisa dibayangkan, apa jadinya jika sel-sel kekerasan yang berpotensi menjadi pemberontak mendapat cukup pasokan uang dan senjata untuk melawan pemerintahan yang ada di masing-masing negara. Pastilah negara-negara itu akan kacau, konflik makin membara dan meluas, seperti yang pernah terjadi di Libya, Syria, dan Yaman.

Cara menghancurkan negara penentang Amerika yang pernah dilakukan terhadap Irak tak perlu diulang lagi karena sudah jelas mengorbankan banyak tentara Amerika. Terlalu berharga jika tentara Amerika diterjunkan untuk menghancurkan negara lain, karena banyak senjata canggih bisa diberikan kepada sel-sel kekerasan atau pemberontak.

Kalau perlu, sel-sel kekerasan atau pemberontak didesain seperti ISIS sehingga mampu melakukan segala macam teror untuk menghancurkan negaranya sendiri dengan sangat kejam. Toh jika cara demikian yang dipilih, tangan Amerika tetap bersih. Artinya, sulit dibuktikan Amerika terlibat langsung melahirkan dan membesarkan sel-sel kekerasan atau kelompok pemberontak atau teroris di negara lain.

Amerika sekarang amat sangat kuat, baik dari segi senjata maupun ekonomi, tidak akan kesulitan memasok senjata dan uang untuk sel-sel kekerasan atau pemberontak di negara-negara yang tidak mendukung Amerika. Yang lebih menarik, hal-hal tersebut bisa berlangsung senyap, tanpa pemberitaan, karena ditangani secara rahasia. Kalaupun rahasia tersebut sampai bocor, mudah disangkal.

Sekarang, Yaman sedang dalam proses kehancuran, oleh serangan Arab Saudi yang didukung Amerika, dengan alasan hendak melumpuhkan pemberontak yang sangat membahayakan keamanan kawasan. Dalam hal ini, siapa yang bisa menyalahkan Amerika jika nanti Yaman betul-betul hancur lebur, kemudian Arab Saudi juga ikut hancur akibat aksi serangan balas dendam pemberontak yang sangat mungkin berkolaborasi dengan ISIS?

Model memperluas konflik yang sangat destruktif seperti di Libya, Syria, Yaman tentu bisa juga diterapkan di seluruh kawasan Timur Tengah. Bahkan bukan tidak mungkin juga bisa diterapkan di Indonesia. Dalam hal ini, semua negara berpenduduk mayoritas muslim selalu rentan konflik karena beda aliran, sehingga kalau pihak yang berkonflik mendapat pasokan uang dan senjata bisa memanaskan konflik.

Pengalaman menghancurkan Libya tanpa perlu mengorbankan banyak tentara Amerika adalah pelajaran sangat baik untuk diterapkan di negara-negara berpenduduk mayoritas muslim. Bagi Amerika, tidak akan kesulitan kalau mau memasok senjata untuk kelompok radikal yang hendak memberontak atau mendirikan negara baru di Indonesia.

Bisa juga dibayangkan, betapa konflik akan meluas kalau misalnya sel-sel kekerasan atau kelompok radikal di Indonesia memegang senjata canggih untuk melawan aparat negara yang bersenjata relatif kuno, misalnya.

Yang lebih menarik, selama ini selalu ada kelompok teroris di Indonesia yang nekat melakukan aksi teror kecil-kecilan dengan bom rakitan yang ternyata hanya membunuh diri mereka sendiri selain sejumlah kecil targetnya. Bisa dibayangkan apa jadinya kalau kelompok teroris yang berani mati dipasok senjata canggih!

Tergantung Amerika

Selama masalah Palestina tetap ada, selama itu suhu politik di kawasan Timur Tengah akan panas, sehingga mudah dikobarkan. Pada titik ini, senjata-senjata buatan Amerika akan laris manis. Karena itu, jika masalah Palestina tampak dingin-dingin saja, Amerika harus memanaskannya, seperti yang sekarang sedang berlangsung. Jika Timur Tengah membara, Amerikalah yang untung.

Masalah Palestina tergantung Amerika, itu sudah jelas. Bisa saja banyak negara mendukung Palestina, tapi kalau di dalam Palestina sendiri muncul konflik internal yang sama-sama memegang senjata canggih tentu akan saling melibas sehingga Palestina selalu lemah di hadapan Israel. Dalam hal ini, tak ada sedikit pun kesulitan bagi Amerika untuk mengadu domba pihak-pihak yang berkonflik di dalam Palestina.

Hingga sekarang, Palestina relatif lemah karena tidak solid menghadapi Israel. Sementara itu, negara-negara yang mendukung Palestina juga tak mampu berbuat banyak kalau Israel terus menggempur Palestina. Pada titik ini, yang diuntungkan tetap saja Israel, sehingga Israel makin kuat.

Tentu, Israel akan makin kuat lagi kalau kantor duta besar Amerika sudah berada di Yerusalem. Ibarat main catur, menempatkan kantor duta besar Amerika di Yerusalem bisa seperti skakmat yang akan mematikan gerak Palestina. Dalam hal ini, kalau sampai Palestina menyerang kantor duta besar Amerika di Yerusalem, sama artinya bunuh diri.

Tapi, bagi Amerika, terlalu sayang jika masalah Palestina cepat berakhir. Amerika Serikat punya banyak kepentingan yang menguntungkan terkait masalah Palestina. Masalah Palestina harus selalu menarik perhatian dunia, selalu menjadi perdebatan global, memecah belah kubu-kubu yang membela maupun tidak membela Palestina, sehingga pengaruh Amerika terhadap banyak negara bisa direvisi lagi agar lebih menguntungkan lagi bagi Amerika.

Siti Siamah peneliti di Global Data Reform




(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed