DetikNews
Kamis 28 Desember 2017, 13:10 WIB

Kolom

Anekdot Singkong "Mogol"

Manaf Maulana - detikNews
Anekdot Singkong Mogol Foto: iStock
Jakarta - Suatu ketika sejumlah Kiai Nahdlatul Ulama (NU) berkumpul. Hidangan yang disajikan adalah singkong goreng. Kiai A mengambil sepotong singkong goreng dan menggigitnya, lalu tiba-tiba tersenyum sambil berkata, "Waduh, singkongnya mogol."

Kiai B menimpali, "Singkong mogol itu kayak penganut radikalisme."

Kiai C juga menimpali, "Betul, tokoh radikal memang seperti singkong mogol, tidak enak."

Kiai D pun menimpali, "Singkong mogol baru enak kalau kembali digoreng sampai tidak mogol lagi."

Kiai E ikut menimpali, "Singkong disebut mogol artinya belum cukup matang atau masih setengah matang, terasa keras ketika digigit atau dipijit, karena itu sering dibuang ke tempat sampah. Dalam hal ini, orang akan malas untuk kembali menggoreng singkong yang mogol karena memang ada jenis singkong yang tetap mogol meskipun sudah digoreng lagi sampai gosong."

Kiai F tak mau tinggal diam, "Singkong yang tetap mogol walau sudah digoreng sampai gosong jangan dibiarkan tumbuh di mana-mana agar tidak terus-menerus merusak citra singkong secara keseluruhan. Jangan sampai gara-gara ada satu-dua singkong yang mogol kemudian semua singkong dianggap mogol."

Kiai G ikut bicara, "Masalah singkong mogol ternyata bukan hal sepele, bisa menjadi bahan diskusi serius. Kalau dilanjutkan bisa menjadi seminar yang memerlukan kajian mendalam berdasarkan rujukan dalil-dalil pelbagai disiplin ilmu."

Begitulah anekdot yang beredar di lingkungan NU. Anekdot tersebut memuat pelajaran: betapa tokoh radikal atau penganut radikalisme yang suka kekerasan bagaikan singkong mogol. Perlu digoreng lagi sampai betul-betul matang.

Digoreng lagi berarti belajar dan ngaji lagi dengan membaca lebih banyak buku dan kitab berisi pelbagai ajaran Islam dan wawasan humanisme universal agar bisa mengerti bahwa sesungguhnya Islam adalah rahmatan lil-alamin, bukan radikal, bahkan sesungguhnya tidak ada Islam radikal.

Dengan kata lain, di mata kiai NU, siapapun yang menjadi tokoh radikal atau penganut radikalisme pasti kurang ngaji. Referensinya pasti masih kurang lengkap. Karena itu, cukup berbahaya jika mendapat kesempatan berdakwah di hadapan umat yang sama-sama kurang ngaji atau bahkan tidak pernah ngaji.

Meski demikian, faktanya, memang ada jenis orang yang tetap radikal meskipun sudah cukup lama ngaji dan banyak membaca. Orang demikian mirip dengan jenis singkong yang mogol alias tidak bisa matang walaupun telah digoreng sampai gosong.

Sekolah dan Ngaji

Jika pemerintah kita memang ingin mencegah dan mengatasi radikalisme agar tidak berkembang di negeri ini, selayaknya meniru NU dalam mendidik santri-santrinya. Misalnya, di samping sekolah umum, santri diharuskan ngaji.

Sudah terbukti sejak dulu bahwa sistem pendidikan yang dipilih NU, yakni sekolah dan ngaji, ternyata sangat mujarab untuk mencegah generasi muda menjadi radikal. Belum ada santri yang sudah layak disebut lulus sekolah dan ngaji di lingkungan NU yang menjadi tokoh radikal atau penganut radikalisme.

Sebaliknya, semua yang telah lulus sekolah dan ngaji di lingkungan NU pasti menjadi tokoh moderat. Fakta ini tak bisa dibantah lagi. Kalau misalnya ada tokoh radikal yang mengaku pernah sekolah dan ngaji di lingkungan NU, pasti dia belum layak dianggap sudah lulus. Ibarat singkong, dia masih mogol, perlu digoreng lagi. Atau, bisa jadi dia memang seperti jenis singkong yang mogol walaupun telah cukup lama digoreng sampai gosong, maka tidak layak dijadikan pemimpin, apalagi teladan.

Sejarah juga membuktikan bahwa tokoh radikal tidak mungkin dianut oleh warga NU, karena warga NU sudah mengerti bahwa dia tak layak diikuti. Dalam hal ini, mengikuti orang yang kurang ngaji sama dengan bersedia disesatkan atau ikut tersesat.

Memilih Pemimpin

Di lingkungan NU juga berlaku sikap rendah hati dan ikhlas. Misalnya, kalangan kiai NU sama-sama mengerti kekurangan masing-masing dan setiap menunaikan tugas didasari dengan niat ikhlas.

Karena itu, pemerintah perlu juga belajar kepada NU dalam memilih pemimpin lembaga-lembaga pemerintahan yang ada, agar tidak ada kasus korupsi atau penyalahgunaan wewenang yang merugikan bangsa dan negara. Dalam hal ini, NU terbukti selalu memilih pemimpinnya dengan seleksi ketat berdasarkan integritas dan kualitas intelektual.

Faktanya, dulu Gus Dur dipilih menjadi Ketua Umum PBNU karena memang paling banyak membaca kitab dan buku dibanding ulama NU yang lain.

Begitu pula KH Said Aqil Siroj dipilih menjadi Ketua Umum PBNU, antara lain karena pernah menulis disertasi dengan lebih 1000 referensi; konon belum pernah ada tokoh lain di negeri ini yang mampu melakukannya.

Terkait seleksi kepemimpinan NU, sudah menjadi tradisi bahwa jajaran kiai NU tidak pernah rebutan jabatan karena semua sudah sama-sama mengerti mana yang layak dipilih jadi pemimpin. Artinya, semua yang merasa kurang layak menjadi pemimpin karena ada tokoh lain yang lebih layak akan menolak dicalonkan untuk mengikuti proses pemilihan pemimpin NU.

Misalnya, dalam Muktamar Ke-33 NU di Jombang 2015 lalu, Gus Mus menolak dipilih menjadi Rais Aam PBNU karena ada KH Ma'ruf Amin yang dianggap lebih layak dipilih. Dalam hal ini, KH Ma'ruf Amin memang lebih tua dibanding Gus Mus.

Sebetulnya, sistem memilih pemimpin yang berlaku di NU sama dengan sistem memilih imam salat sesuai syariat Islam. Yakni, yang paling alim dan paling tua. Paling alim sudah pasti paling lengkap ilmunya, yang bisa dibuktikan antara lain paling fasih membaca ayat-ayat suci. Sedangkan paling tua biasanya paling banyak pengalaman memimpin dan dipimpin, sehingga paling ideal dipilih untuk menjadi imam salat.

Dengan sistem memilih pemimpin versi NU atau versi syariat Islam, mustahil akan diwarnai suap-menyuap, kolusi, dan nepotisme yang berbuntut merajalelanya korupsi.

Dulu dan Kini

Radikalisme (menurut KBBI artinya: 1. Paham atau aliran yang radikal dalam politik; 2. paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik dengan cara kekerasan atau drastis; 3. Sikap ekstrem dalam aliran politik.

Jika membuka sejarah, dulu semua pejuang kemerdekaan bangsa dan negara Indonesia juga dianggap sebagai tokoh-tokoh radikal oleh kaum penjajah. Bahkan kaum penjajah punya istilah lebih negatif lagi untuk menyebut mereka: ekstremis.

Konkretnya, semua pejuang memang radikal dalam memperjuangkan kemerdekaan bangsa dan negara Indonesia. Andai mereka tidak radikal dalam berjuang, barangkali bangsa dan negara Indonesia belum merdeka sampai sekarang.

Namun, untuk masa kini, di Indonesia khususnya, tokoh radikal dianggap negatif karena bersikap dan berperilaku radikal yang identik dengan suka kekerasan. Sialnya lagi, semua teroris terbukti memang bersikap dan berperilaku radikal dan layak dianggap berbahaya bagi siapa pun karena memang telah terbukti tega membunuh siapapun termasuk membunuh diri sendiri.

Selain itu, dalam konteks bangsa dan negara Indonesia yang telah merdeka, tokoh radikal atau penganut radikalisme tidak layak mengaku sama dengan para pejuang kemerdekaan, karena radikalisme setelah merdeka identik dengan pemaksaan kehendak alias kekerasan terhadap bangsa sendiri yang terdiri dari bermacam-macam suku, agama, ras, golongan, yang seharusnya masing-masing bersikap moderat dan saling toleran.

Oleh karena itu, di negeri ini tokoh radikal memang layak dianggap seperti singkong mogol, sikap dan perilakunya perlu dilunakkan dengan belajar dan ngaji lagi, agar mengerti pula pentingnya sikap moderat dan toleransi sebagai syarat utama menghayati hidup damai dan nyaman dalam berbangsa dan bernegara yang merdeka.

Cuma masalahnya, inilah yang sangat runyam: tokoh radikal lazimnya merasa paling benar dan paling pintar sehingga tidak sadar betapa sesungguhnya dirinya perlu belajar dan ngaji lagi.

Untuk konteks global, yang layak dijadikan contoh mutakhir tokoh radikal pada masa kini ternyata justru Donald Trump, karena sikap radikalnya dipertegas dalam bentuk pengakuannya terhadap Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Dalam hal ini, Trump perlu diingatkan agar bersedia belajar lagi dan juga ngaji agar tidak mempertahankan sikap radikalnya tersebut yang sangat berbahaya bagi perdamaian dunia!

Manaf Maulana peneliti budaya politik


(mmu/mmu)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed