DetikNews
Senin 25 Desember 2017, 11:48 WIB

Kolom

Menikmati Perdamaian

Hasanudin Abdurakhman - detikNews
Menikmati Perdamaian Hasanudin Abdurakhman (Ilustrasi: Edi Wahyono)
Jakarta - Saya bersama keluarga menikmati libur Natal di Yogyakarta. Sejak Jumat sore kota ini sudah dipadati pelancong dari berbagai kota. Perjalanan dari Jakarta memerlukan waktu lebih panjang dari biasa. Saya yang berangkat Jumat pagi, baru tiba 14 jam kemudian. Orang yang saya temui di Yogya ternyata menghabiskan waktu lebih lama, 24 jam perjalanan.

Sekitar pukul 7 malam, kawasan sekitar Tugu macet cukup parah. Kendaraan bergerak merayap ke arah Malioboro. Saya bisa bayangkan bagaimana macet dan padatnya kawasan itu. Di angkringan KR tempat saya makan malam padat luar biasa. Ini malam Natal. Tapi, yang riuh rendah meramaikan kawasan Tugu dan Malioboro, bisa siapa saja. Kristen atau bukan, semua orang menikmati berkah yang datang bersama perayaan kelahiran Yesus: libur panjang.

Tapi, ada satu hal lagi yang sebenarnya sangat penting, yaitu perdamaian. Ya, perdamaian sering kali tidak kita sadari arti pentingnya. Sebagaimana matahari terbit tiap pagi, adakah yang menyadari kehadirannya? Kita sudah berpuluh tahun hidup dalam damai. Jiwa raga kita terbiasa menganggap bahwa perdamaian itu selalu ada, sebagaimana matahari terbit setiap pagi. Padahal tidak demikian.

Perdamaian bukan sesuatu yang gratis. Perdamaian itu ada sebagai buah usaha kita menjaganya. Di tempat-tempat lain seperti Syria, Irak, Yaman, Palestina, dan lain-lain orang tidak mendapatkan perdamaian. Bahkan di negeri kita dulu, juga tidak. Kita pernah menyaksikan kepedihan akibat tidak damai, di Aceh, Timor Leste, Ambon, Poso, Sambas, dan Sampit. Dalam situasi itu, orang tak bebas lagi untuk berkumpul dengan keluarga dan teman. Juga tak aman untuk berjalan keluar rumah, menikmati kota. Maut dan bahaya mengintai di mana-mana.

Hanya yang sudah merasakan hilangnya perdamaian yang benar-benar tahu rasanya ketika perdamaian itu tiada. Tapi cukuplah kita belajar dari mereka, tidak perlu mengalami sendiri. Yakinlah bahwa tidak damai itu sangat tidak enak. Itu adalah neraka dunia. Maka, mari usahakan perdamaian.

Kenapa ini penting untuk diingatkan? Setiap hari kita menyaksikan orang-orang yang tidak paham makna perdamaian, baik di media sosial maupun kehidupan nyata. Ada cukup banyak orang yang memelihara permusuhan terhadap orang yang berbeda dengan mereka. Berbeda suku, dan terutama berbeda agama. Orang lain mereka anggap musuh yang harus ditekan. Atau sebaliknya, pihak lain dianggap musuh yang menekan dan hendak menguasai.

Benarkah pihak lain itu hendak menguasai? Tidak ada faktanya. Gagasan itu timbul dari kesalahan dalam menafsirkan teks-teks suci, atau kesalahan memaknai fakta-fakta. Sebagian kesalahan itu akibat kebodohan, sebagian lain karena kebencian yang dikobarkan sekelompok orang, mungkin untuk kepentingan politik.

Besarkah gejala ini? Mungkin kecil saja. Tapi justru itu kita harus waspada. Api kecil itu bisa tiba-tiba membesar tak terkendali kalau kita lengah. Karena itu jangan lengah.

Saya melihat ada kelompok-kelompok yang terus menyampaikan narasi korban, bahwa mereka sedang dizalimi dan disingkirkan. Tapi tindak tanduk mereka justru mencerminkan keinginan untuk menguasai dan menyingkirkan pihak lain. Ilusi bahwa mereka sedang dizalimi mereka jadikan legitimasi psikologis untuk menguasai pihak lain. Dengan berbagai cara mereka hendak memaksakan keinginan.

Salah satu jalurnya adalah memaksakan norma hukum, yang basisnya adalah iman segolongan orang. Dengan norma itu, orang dengan iman apapun, harus ikut pada norma yang mereka anut. Kenapa begitu? Karena kami ini mayoritas, kata mereka. Karena kalian selama ini yang menguasai kami dengan norma kalian, dan sekarang giliran kami yang menguasai.

Sikap ini mencederai kesepahaman yang sudah dibuat oleh para pendiri negara ini, bahwa kita sepakat untuk berbagi ruang hidup, berbasis pada nilai yang kita sepakati. Bila tidak, mungkin kita harus membagi ruang hidup itu menjadi negara-negara yang lebih kecil. Kasarnya, bila terus dipaksakan, negara ini mungkin saja akan pecah. Yang mengerikan, pecah atau berpisahnya tidak dengan damai.

Untuk mencegah itu, kita harus terus memelihara kesadaran bahwa perdamaian jauh lebih penting dari keinginan sekelompok orang untuk memaksakan nilai yang mereka anut. Perdamaian juga jauh lebih penting dari cita-cita sekelompok orang untuk menguasai pihak lain. Kita harus ingatkan orang banyak bahwa perdamaian hari ini bukan berkah gratis. Perdamaian didapat dengan mengusahakannya, dan ada yang harus dikorbankan untuk itu. Yang pertama kali harus dikorbankan adalah ego kita masing-masing.

Selamat Natal bagi yang merayakannya, selamat berlibur bagi yang sedang berlibur, dan selamat bekerja bagi yang sedang bekerja.

Hasanudin Abdurakhman cendekiawan, penulis dan kini menjadi seorang profesional di perusahaan Jepang di Indonesia


(mmu/mmu)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed