DetikNews
Jumat 22 Desember 2017, 11:00 WIB

Kolom

Ibu dan Anak-Anak Ibu

Arie Saptaji - detikNews
Ibu dan Anak-Anak Ibu Arie Saptaji (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta - "Dalam dunia kehidupan ada dua macam ibu," kata Mamid, narator dalam novel Arswendo Atmowiloto yang amat bagus, Dua Ibu. "Pertama, ialah sebutan untuk perempuan yang melahirkan anaknya. Kedua, ialah sebutan untuk perempuan yang merelakan kebahagiaannya sendiri buat anak orang lain. Yang paling istimewa adalah jika dua sifat itu bergabung dalam satu pribadi."

Ibu membesarkan sembilan anak, tidak semua anak kandungnya. Dengan welas asih ia merengkuh dan mengasuh mereka satu per satu tanpa membeda-bedakan status masing-masing. "Semua anak yang ada di sini adalah anak Ibu," katanya, yang membuat Mamid bingung.

Kebaikan ibu ditandai oleh pengorbanan diri, suatu kebaikan tanpa pamrih, seperti diuraikan Mamid berikut ini:

Kalau aku mencoba menanyakan kenapa ibu bersikap baik seperti itu, ibu tak bisa menjawab dengan kata-kata jawaban. Bahkan kadang mengubah pertanyaan itu menjadi dongeng.

"Kaulihat burung merpati itu? Kaulihat induknya? Makanan yang dicari dengan susah di tempat jauh, yang sudah masuk dalam paruhnya pun diberikan kepada anaknya."

Semua diceritakan tanpa kebanggaan. Tanpa dibebani bahwa induk merpati menjadi burung yang paling berjasa.

Ibu adalah induk merpati, tetapi juga induk harimau. Yang dalam keadaan paling lapar dan marah sekalipun tak akan memangsa anaknya.

Nantinya Mamid menyadari bahwa "anak ibu" pun, dengan demikian, bukan terbatas pada mereka yang dilahirkan oleh seorang ibu, melainkan setiap orang yang mewarisi dan meneladani kemurahan dan keluasan hati Ibu dalam berkorban dan merengkuh orang lain.

***

Seperti Mamid, kita mestinya memiliki kenangan akan ibu masing-masing. Saya berkesempatan menikmati kebersamaan dengan ibu sampai kelas 2 SMP ketika ibu meninggal dunia karena sakit. Sampai saat itu saya belum bisa memotong kuku karena sebelumnya ibu yang secara berkala memotong kuku saya. Selama beberapa waktu saya mesti meminta bantuan kakak atau teman untuk memotong kuku sampai saya bisa melakukannya sendiri.

Ibu dan ayah saya membesarkan anak-anak dalam semangat bhinneka tunggal ika. Mereka orang Jawa yang berpandangan bahwa agama adalah ageming aji (baju kehormatan diri). Anak-anak dibebaskan memilih agamanya masing-masing. Saya sendiri mengenal kekristenan, sederhana saja, karena diajak tetangga sebelah pergi ke Sekolah Minggu.

Syukurlah, sejauh ini perbedaan agama itu tidak pernah menjadi sumber konflik dalam hubungan persaudaraan kami. Ibu saya pernah berkomentar dengan bangga, "Kami di sini ini Pancasila, kok. Ada Alquran, ada Injil, ada Tripitaka. Mau apa saja, silakan."

Meskipun beliau sendiri tidak pergi ke gereja, ibu selalu mendukung saya untuk beribadah. Ia mengajari saya dan kakak saya untuk berdoa sebelum tidur. Sebuah doa generik: doa tanpa "di dalam nama Yesus". Baru setelah saya lumayan besar dan meniru kebiasaan berdoa di gereja, saya tambahkan sendiri frasa itu.

Istimewanya, setiap saya hendak pergi ke Sekolah Minggu, ibu menyediakan uang saku khusus untuk saya berikan sebagai pisungsung (persembahan). Karena itu, pisungsung saya bisa mencapai seratus rupiah. Kalau tidak salah ingat, waktu itu, dengan uang sebanyak itu, kita masih bisa menikmati dua-tiga mangkuk bakso.

Ibu melakukannya secara teratur. Alasannya? "Kalian itu, kalau sudah Natalan, Paskahan, atau acara apa lagi, kan pasti keluar uang banyak. Padahal, semuanya tanpa pungutan biaya. Kalau mau memberi sumbangan sebelum acara, belum tentu uangnya ada. Ya, hitung-hitung kita cicil saja seminggu sekali," kata ibu.

Ibu saya --bukan seorang teolog, bahkan seorang Kristen pun bukan-- telah mengajari saya tentang pemberian. Kebiasaan ibu tersebut secara tidak langsung menanamkan pada diri saya kesadaran bahwa kita pada dasarnya memberi karena kita telah terlebih dahulu diberi. Pemberian, dengan demikian, bukan sekadar pernyataan dukungan bagi orang-orang di sekitar kita, namun juga suatu ungkapan rasa syukur.

Dalam beberapa kesempatan, ibu meluangkan waktu untuk memenuhi undangan menghadiri Natal di gereja. Senang rasanya ikut menyanyi dalam paduan suara atau bermain drama Natal, beraksi di panggung, dan menyadari bahwa ibu sedang menyaksikan dengan penuh rasa bangga, tersenyum di antara para penonton.

***

Kenangan akan ibu menggarisbawahi peran dan sumbangsih mereka bagi kehidupan bersama. Kaum ibulah tangan pertama yang membentuk anak-anak dalam keluarga, sebelum nantinya anak-anak itu menjadi warga masyarakat. Meskipun cenderung berkiprah di balik layar, peran ibu dalam pembentukan watak sebuah bangsa jelas tak bisa ditepiskan.

Namun, kiprah para ibu ini juga tak lepas dari ruang dan peluang yang tersedia bagi mereka. Apakah kita memberikan keleluasaan dan dukungan bagi para ibu —dan kaum perempuan pada umumnya— untuk menjalankan peran ideal mereka atau malah mencekik ruang berkiprah mereka?

Dalam aspek peran biologis seorang ibu—kemampuan melahirkan keturunan—misalnya, kita masih menemukan potret buram. Tingkat kematian ibu (AKI) akibat melahirkan tergolong tinggi. Menurut data dari Kementerian Kesehatan, AKI di Indonesia pada 2015 adalah 305 orang per 100.000 kelahiran. Angka ini di atas rata-rata AKI di wilayah Asia-Pasifik, yaitu 127, dan jauh di atas negara maju yang angka rata-ratanya hanya 12 per 100.000 kelahiran.

Dua penyebab utama kematian ibu pada 2013 adalah perdarahan dan hipertensi, hal yang bisa dihindari kalau saja sang ibu mendapatkan pelayanan kesehatan yang baik. Upaya untuk mengatasinya terus dilakukan. Menurut Menteri Kesehatan Nila F. Moelek, saat ini sudah 86% ibu melahirkan di fasilitas kesehatan sehingga kondisi kegawatdaruratan cepat tertangani. Dalam periode 2014-2019, Indonesia menargetkan AKI turun menjadi 276 per 100.000 kelahiran.

Potret perempuan pada umumnya juga belum sepenuhnya menggembirakan. Perempuan di Indonesia masih rentan menjadi korban kekerasan. Menurut Catatan Tahunan 2017 Komnas Perempuan, selama 2016 terdapat 259.150 kasus kekerasan terhadap perempuan. Sebanyak 245.548 kasus diperoleh dari 358 Pengadilan Agama dan 13.602 kasus ditangani oleh 233 lembaga mitra pengadaan layanan yang tersebar di 34 Provinsi.

Kekerasan berlangsung di dalam rumah tangga (terhadap istri dan anak perempuan), di ranah pacaran, di ranah komunitas, dan di tempat kerja. Dalam KDRT, kekerasan personal tertinggi terjadi melalui kekerasan fisik (42 persen), disusul kekerasan seksual (34 persen) dan kekerasan psikis (14 persen). Sisanya berupa kekerasan ekonomi.

Ganjilnya, masih banyak perempuan korban yang malah ditimpa stigma negatif. Korban perkosaan, misalnya, masih kerap dipersalahkan oleh sebagian masyarakat dan pemuka agama. Alih-alih dilindungi dan dibela, mereka dikecam sebagai umpan yang berlenggak-lenggok memancing birahi laki-laki. Alih-alih ditolong dan dipulihkan, korban perkosaan malah dicap sebagai perempuan murahan, direndahkan, dan disingkiri. Si pelaku, yang sudah berstatus tersangka sekalipun, tetap leluasa berlenggang dengan gagah. Betul-betul runyam.

Menurut Komnas Perempuan, negara juga ikut berperan dalam melaksanakan kekerasan. Saat terjadi penggusuran di DKI Jakarta, misalnya, tercatat 304 korban perempuan.

Kita tentu ingat ibu-ibu pegunungan Kendeng, Jawa Tengah yang berjuang menolak pembangunan pabrik Semen Indonesia di daerah mereka, antara lain dengan melakukan aksi memasung kaki dengan semen. Salah seorang ibu, Patmi (48 tahun), pada Selasa, 21 Maret 2017 meninggal dunia usai melakukan bagiannya dalam aksi tersebut.

Dalam Aksi Kamisan yang sudah berlangsung sepuluh tahun lebih, ibu-ibu keluarga korban berdiri di garis depan perjuangan, gigih menolak lupa, menagih pertanggungjawaban negara atas pelanggaran HAM dan kekerasan terhadap warga. Kita menyaksikan para ibu yang berjuang sebagai induk merpati atau induk harimau.

Kekerasan terhadap perempuan bisa jadi akan menurun tajam apabila kita benar-benar menyadari bahwa perlakuan terhadap seorang perempuan sesungguhnya adalah pantulan perlakuan terhadap ibu kita, terhadap saudara perempuan kita. Penindasan terhadap kaum ibu dan perempuan tidak lain adalah penindasan terhadap kehidupan itu sendiri.

Dalam lagu klasik itu, Ibu Pertiwi —lambang bumi, tetapi juga wakil kaum ibu— digambarkan sedang bersusah hati dan berlinang air mata. Pada Hari Ibu ini, mestinya kita tidak berhenti pada romantisisasi peran dan teladan kaum ibu, tetapi benar-benar bergandeng tangan untuk memperkuat narasi anti-kekerasan terhadap perempuan. Kiranya kita menjadi anak-anak ibu yang berbakti, yang menghibur hati dan menyeka linangan air matanya.

Arie Saptaji penulis serabutan, tinggal di Yogyakarta


(mmu/mmu)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed