DetikNews
Kamis 21 Desember 2017, 16:08 WIB

Kolom

Tragedi Sabun Pembersih dan Para "Believer"

Rakhmad Hidayatulloh Permana - detikNews
Tragedi Sabun Pembersih dan Para Believer Rakhmad Hidayatulloh Permana (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta - Bangun pagi hari dengan wajah berminyak tentu saja tak enak. Maka setiap pagi saya selalu membiasakan diri untuk langsung mencuci wajah dengan sabun pembersih. Kegiatan sudah rutin saya lakukan sejak usia remaja. Apalagi di musim penghujan seperti ini wajah jadi lebih mudah lembap.

Maka tibalah pada suatu pagi, saya bangun dengan wajah berminyak dan langsung menuju kamar mandi. Seperti biasa, saya mengambil sikat gigi dan odol untuk menyikat gigi. Usai itu saya langsung mengambil sabun pembersih wajah yang biasa saya selipkan di ventilasi kamar mandi.

Sialnya, pagi itu pembersih wajah saya habis. Saya berusaha menekan-nekan wadahnya, barangkali masih ada sisa. Tapi sabun saya memang sudah habis dan kering. Dan saya pikir sudah kepalang tanggung jika dalam kondisi seperti ini pergi ke toko untuk sekedar membeli sabun pembersih wajah. Siasat praktisnya adalah memakai sabun pembersih wajah yang masih ada. Beruntung ada sabun pembersih milik Bibi saya, yang terkemas dalam botol berwarna abu-abu.

Pada botol itu tak ada label merk atau sekedar cara penggunaan. Saya keluarkan beberapa cairan dari botol. Cairannya seperti cairan sabun, warnanya kuning dan harum. Saya gosokkan di kedua telapak tangan hingga sedikit berbusa. Tapi busanya tak sebanyak busa sabun pembersih wajah yang biasanya saya pakai. Lantas, saya balurkan sabun itu merata ke seluruh area wajah. Kemudian membilasnya sampai bersih.

Setelah kering, seperti ada yang berbeda pada wajah saya. Kulit wajah rasanya licin dan wangi sekali. "Hebat sekali sabun ini, baru sekali pemakaian khasiatnya sudah terasa maksimal," pikir saya kala itu. Saya juga sempat berpikir untuk berganti sabun pembersih ini saja.

Bibi tiba-tiba langsung bertanya kepada saya mengenai sabun mandi itu setelah ia masuk ke kamar mandi. Ia pasti curiga. Saya juga mungkin lupa meletakkan sabunnya pada posisi semula. Lantas, saya pun ditanyai.

"Kamu pakai sabun yang ada di botol abu-abu itu?"

"Iya. Emangnya kenapa, Bi?"

"Ngawur aja kamu itu. Nggak tanya dulu."

"Halah. Minta dikit aja nggak boleh. Pelit banget."

"Itu sabun pembersih daerah kewanitaan."

Mendengar pernyataan bibi saya itu, sejenak saya menghela napas. Jantung saya rasanya seperti ditusuk oleh benda tajam. Hati saya diliputi antara perasaan jeri dan malu. Perasaan jeri itu semakin menjadi ketika saya memegangi sekujur wajah yang jadi licin itu. Saya juga malu kepada bibi saya atas tindak-tanduk ngawur itu.

Otomatis saya langsung merasa menjadi makhluk paling bodoh sedunia. Namun, kejadian tersebut sekaligus memberikan pelajaran tentang betapa berbahayanya sikap tak mau bertanya dan sikap sok tahu itu. Saya bersyukur, untung bukan bahan kimia berbahaya yang saya pakai.

Saya rasa, pepatah yang berbunyi "malu bertanya sesat di jalan" memang benar adanya. Barangkali terdengar sudah sangat klise. Tapi, saya percaya bahwa kebenarannya memang tak pernah lekang oleh zaman. Sebab setiap zaman selalu melahirkan orang-orang yang malu bertanya. Bahkan di zaman ini, kata 'malu' diganti kata 'enggan'. Sebab kini kebenaran melulu soal pendapat masing-masing saja.

Dan saya rasa, sikap sejenis itu bukan hanya melanda saya. Paling tidak, dalam beberapa pekan ini beberapa orang telah melakukan sikap sok tahu itu.

***

Sikap sok tahu yang kini sedang banyak diidap oleh banyak orang, sepertinya mirip dengan istilah believer yang diperkenalkan oleh Dale Carnegie—penulis buku How To Win Friends and Influence People. Dalam bukunya itu, ada sebuah kisah tentang orang yang hanya mau percaya kepada pendapatnya sendiri. Inilah, yang disebut Carnegie sebagai para believer itu.

Dalam sebuah acara makan malam besar yang diselenggarakan di London, Carniege mendengar salah seorang tamu melontarkan kalimat yang terdengar familiar. Kalimat itu berbunyi: "Ada kekuasaan mahatinggi yang menetapkan nasib hidup kita, sekalipun kita tak memedulikannya."

Sang tamu kemudian menjelaskan bahwa kalimat yang baru saja ia ucapkan tadi dikutip dari kitab Injil. Sontak Carniege pun tersedak. Ia berusaha mengoreksi kutipan tersebut dan menjelaskan bahwa sesungguhnya kutipan itu bukan berasal dari injil, melainkan dari salah satu karya Shakespeare.

Kebetulan sekali, di samping Carniege ada Frank Gammond, kawan lama Carniege yang dikenal giat mempelajari karya-karya Shakespeare. Carniege dan si tamu itu pun bersepakat untuk bertanya kepada Frank Gammond yang memang dianggap ahli.

Namun, alih-alih menguatkan pendapat Carniege, Frank Gammond justru membenarkan pernyataan si tamu, "Dale, kau keliru. Tuan ini benar. Kutipan itu betul berasal dari kitab suci."

Carniege kaget dengan perkataan kawannya dan merasa dongkol. Maka setelahnya, di tengah perjalanan pulang ia memprotes Frank Gammond. "Bukankah kau tahu, kutipan itu berasal dari Shakespeare?"

Frank Gammond pun langsung memungkasi pertanyaan itu dengan enteng saja: "Tentu saja. Hamlet bagian kelima, babak kedua. Tapi ingat Dale, tak ada gunanya berdebat dengan orang yang tidak tahu. Orang-orang yang tidak mau tahu. Orang-orang yang tidak mau mengalah. Orang-orang yang hanya meyakini pendapatnya paling benar. Mereka tidak memerlukan pendapatmu. Mereka believer sejati, setidaknya untuk pendapat mereka sendiri.

Dan Indonesia, kita bisa menemukan para believer itu dengan mudah. Setidaknya, untuk membedakannya Anda hanya perlu melihat dua kejadian yang beberapa waktu lalu ramai diperbincangkan.

Kejadian pertama adalah kejadian merebaknya kembali penyakit difteri. Sejenis infeksi berbahaya yang menyerang saluran hidung dan tenggorokan. Persebarannya sendiri sudah terjadi pada 20 provinsi di Indonesia. Setidaknya, sudah ditemukan 593 kasus yang dipastikan terjangkit difteri.

Padahal, sudah bertahun-tahun penyakit ini tereliminasi dari Indonesia. Namun, anehnya kini merebak lagi. Pihak Kementerian Kesehatan menyatakan bahwa penyebab kejadian ini bermula dari program vaksinasi yang tidak lengkap. Dan salah satu pangkalnya adalah gerakan anti-vaksin yang akhir-akhir ini menguat.

Ada sekelompok orangtua yang secara tegas menolak vaksinasi pada anaknya. Alasannya karena mereka menganggap vaksin justru membahayakan dan status halalnya meragukan. Padahal, Majelis Ulama Indonesia pun sudah membuat aturan tentang vaksinasi ini. Namun, tetap saja ada kelompok yang resisten terhadap vaksin dan anaknya kini jadi korban. Mereka semata-mata percaya bahwa anak mereka memang tak butuh vaksinasi.

Kejadian kedua adalah putusan Mahkamah Konstitusi (MK) tentang penggolongan kumpul kebo dan Lesbian Gay Biseksual Transgender (LGBT) dalam Undang-undang KUHP. Keputusan ini disalahpahami sebagai legalisasi tindakan LGBT dan kumpul kebo. Padahal, dalam putusan hakim MK sama sekali tak ada amar yang menyebutkan seperti itu.

MK hanya berusaha berdiri dalam ranah wewenangnya saja. Keengganan untuk memberi tafsir pada delik pasal KUHP itu beralasan. Sebab, itu bukan wewenang Mahkamah Konstitusi, melainkan wewenang pembuat undang-undang.

Penjelasan ini bahkan ditekankan kembali oleh mantan Hakim MK, Mahfud MD. Dalam akun Twitter-nya Mahfud berusaha dengan jelas dan gamblang menerangkan duduk perkara kesalahpahaman terhadap putusan MK tersebut. Mahfud MD juga berusaha sebisa mungkin menjelaskannya dalam bahasa yang ringkas dan sederhana.

Tapi hingga hari ini, saya masih menemukan para believer yang percaya bahwa MK adalah pendukung LGBT. Bukan hanya itu, kesalahpahaman ini juga dikaitkan dengan kejadian gempa yang melanda Jawa Barat dan Jawa Tengah sehari setelah putusan MK. Dan seperti biasa, narasi azab Tuhan dirangkai dengan begitu mengerikan. Lebih gawat lagi, kepercayaan seperti ini terus dilipatgandakan dan disebarkan melalui berbagai macam platform media sosial. Padahal mereka sudah diberitahu apa yang sesungguhnya terjadi dalam putusan MK. Namun, mereka tetap menolak percaya dan terus menyalakan api kebenciannya. Inilah golongan para believer dengan kebebalan akut.

Ketidaktahuan dan keengganan untuk bertanya kepada orang lain itu memang berbahaya. Apalagi jika sampai tak mau hirau sedikit pun—meski sekedar menengok—kepada kebenaran yang disodorkan oleh orang lain. Maka jangan heran bila para believer bisa dengan mudah kita temukan.

Contohnya adalah kasus sabun pembersih yang saya alami, kasus virus difteri yang dialami anak yang orangtuanya curiga pada vaksin, dan kasus orang-orang yang dengan mudah tahu alasan Tuhan menurunkan azabnya.

Namun tentu, kasus-kasus tersebut bisa jadi pelajaran untuk kasus yang lain. Kasus-kasus di mana sikap sok tahu yang bebal selalu jadi pangkal masalahnya. Sebentar lagi tahun 2017 akan segera tuntas. Sudah semestinya kita jadi seorang believer dalam hal lain. Misalnya, menjadi believer yang percaya bahwa negeri ini perlu dirawat dengan cinta yang sebesar-sebesarnya.

Rakhmad Hidayatulloh Permana tinggal di Subang. Kegiatan sehari-harinya bermain dengan ikan-ikan air tawar

(mmu/mmu)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed