DetikNews
Selasa 19 Desember 2017, 14:35 WIB

Kolom

Kesengsaraan Pikiran Akibat Perubahan Iklim

Fiel Kautsar - detikNews
Kesengsaraan Pikiran Akibat Perubahan Iklim Foto: Rengga Sancaya
Jakarta - Tahun 2017 berpotensi menjadi satu dari tiga tahun terpanas yang pernah kita rasakan. Pernyataan itu ditulis oleh World Meteorological Organization (WMO) dalam situs resminya November lalu.

Tahun terpanas yang pernah kita rasakan adalah 2016. Menurut data National Oceanic and Athmospheric Administration (NOAA), suhu rata-rata global pada 2016 adalah 0,94℃ di atas suhu rata-rata global abad ke-20. Sementara pada 2017, sejauh yang dicatat sepanjang Januari-Oktober, peningkatannya mencapai 0,86℃. Namun, peningkatan itu tidak disertai dengan peristiwa El Nino —fenomena iklim di Pasifik Selatan yang bisa meningkatkan suhu rata-rata global secara tajam.

Mencermati laju perubahan iklim memang telah menjadi agenda internasional. Dua tahun lalu, tepatnya Desember 2015, disepakati komitmen internasional bertajuk Kesepakatan Paris. Poin utama Kesepakatan Paris adalah menjaga peningkatan suhu rata-rata global di bawah 2℃, dan memaksimalkan upaya untuk menekannya sebatas 1,5℃ di atas suhu rata-rata global era pra-industri.

Dua titik suhu yang ditetapkan sebagai limit dalam Kesepakatan Paris —1,5℃ dan 2℃— memang hanya berbeda 0,5 secara literer. Tapi, perbedaan yang secuil itu memiliki dampak riil yang substansial.

Carl-Friedrich Schleussner, dkk. misalnya, dalam jurnal berjudul Differential Climate Impacts for Policy-relevant Limits to Global Warming: The Case of 1,5℃ and 2℃ menuliskan bahwa jika peningkatan suhu mencapai 2℃, mampu mengakibatkan: degradasi terumbu karang secara drastis, kenaikan muka air laut yang signifikan, gelombang panas ekstrem yang menandakan rezim iklim baru, ketersediaan air dan produksi pertanian lokal yang makin tidak merata, dan musim kemarau berkepanjangan di beberapa wilayah.

Dampak perubahan iklim tentu akan terasa nyata bagi manusia. Bencana-bencana yang timbul karenanya dapat meluluhlantakkan tempat tinggal, menenggelamkan suatu daerah, mengacaukan kesehatan, merusak infrastruktur, meniadakan lahan produktif, memunahkan biodiversitas, dan mengganggu ekosistem yang menopang kehidupan.

Di sisi lain, perubahan iklim memiliki dampak nonmaterial yang tak kalah relevan bisa menghambat keberlanjutan hidup manusia: ia sanggup memudarkan kapabilitas manusia untuk mengalami kondisi sejahtera lahir dan batin.

Kehilangan tempat tinggal atau lahan produktif akibat abrasi, misalnya, relatif sanggup menumbuhkan sikap putus asa, mengikis status dan martabat, menghapus sistem pengetahuan lokal dan tradisi, dan mengendurkan identitas, interaksi, dan kelekatan sosial komunitas.

Pudarnya Kapabalitas

Kampung Beting, Desa Pantai Bahagia, Kabupaten Bekasi sejak beberapa tahun lalu daerahnya terkikis oleh abrasi. Infrastruktur dan lahan produktif banyak yang semrawut, seperti jalan, tiang listrik, air bersih, masjid, sekolah, makam, dan lahan tambak. Kesempatan untuk bekerja, yang mayoritasnya sebagai nelayan, mulai tersendat akibat perkara ini.

Belum lagi rumah-rumah warga yang diterjang banjir. Seringkali warga harus menguras air bah yang menyapu isi rumah, membersihkan sampah akibat banjir yang mengotori, dan membetulkan rumah yang menjadi rusak karena ulah banjir. Sampai-sampai banyak rumah yang ditinggikan berkali-kali agar tidak diterpa banjir.

Pengalaman demikian sangat mungkin memudarkan kemampuan, kapasitas, dan kesempatan untuk hidup sejahtera lahir dan batin. Bayangkan saja, berhari-hari sibuk berurusan dengan fakta keberadaan rumah yang bisa ludes karena efek abrasi. Rumah, dengan kondisi seperti itu, malah seakan hanya penanda kosong: ia tidak menyodorkan rasa aman, nyaman, dan damai untuk beristirahat.

Akan sulit kiranya untuk menyisakan, menumbuhkan, dan merawat ruang-ruang pikiran demi pemenuhan makna sejahtera lahir dan batin. Boleh jadi hanya akan ada satu hal yang menyelinap dalam ruang-ruang pikiran: bagaimana setidaknya dapat bertahan hidup.

Beberapa warga Kampung Beting ada yang meninggalkan rumah dan daerahnya karena tak tahan menghadapi kenyataan abrasi. Namun, beberapa warga lainnya ada yang tetap tinggal karena alasan personal maupun praktis. Bagi yang tetap tinggal karena alasan praktis, umumnya cenderung takut pendapatan mereka yang tak seberapa tidak bisa menghidupinya di tempat tinggal baru yang dituju.

Pindah ke daerah lain pun sejatinya bersifat problematik. Relokasi komunitas ke tempat tinggal baru, yang tidak terganggu oleh potensi dampak perubahan iklim, di satu sisi dapat memberikan rumah baru yang aman, nyaman, dan damai atau pekerjaan baru yang lebih mulus.

Namun, pada ekstrem yang lain, yang tentunya sangat tidak diharapkan, relokasi komunitas dapat pula menyebabkan kerumitan beradaptasi dengan realitas yang baru, sehingga berujung pada stres, rasa kehilangan, disorientasi, dan tidak tumbuhnya kohesi sosial dengan lingkungan anyar.

Lantas, apa yang kemudian juga rentan jika kapabilitas untuk mengalami kondisi sejahtera lahir dan batin pudar akibat perubahan iklim?

Salah satu jawabannya bisa Anda temukan dalam laporan Peter Schwartzstein berjudul Climate Change and Water Woes Drove ISIS Recruiting in Iraq. Laporan Peter menuliskan bahwa faktor penting yang menstimulasi pertumbuhan ISIS, kelompok yang melegitimasi kekerasan untuk meraih tujuannya, di Irak adalah perubahan iklim.

Bencana-bencana yang menimpa Irak sebagai dampak perubahan iklim, seperti kekeringan, angin kencang, curah hujan rendah, dan gelombang panas yang meningkat membuat banyak petani di Irak penat dengan krisis-krisis yang mengenai lahan produktifnya. Hal itulah yang dieksploitasi oleh ISIS.

ISIS menawarkan fantasi kepada petani di Irak untuk mengalami kembali kondisi sejahtera lahir dan batin, melalui pemberian hal-hal material dan doktrin-doktrin agama. Eksploitasi ISIS kepada petani di Irak tidak berhenti sampai di situ. ISIS bahkan menyebarkan politik identitas dengan jubah perubahan iklim kepada petani Sunni.

Laporan Peter menuliskan, ISIS menyebarkan desas-desus bahwa pemerintah yang didominasi Syiah menunda pembayaran hasil tanam dan menghambat aliran air ke petani Sunni. Padahal sebenarnya, klaim laporan Peter, hal itu merupakan taktik yang dirancang untuk membuat kecewa petani Sunni dengan lahan produktifnya. Putus asa, ditambah adanya krisis-krisis sebagai dampak perubahan iklim, menjadikan banyak petani Sunni yang memercayai desas-desus itu.

Dalam hal ini, intinya bukan tentang ISIS dan petani di Irak. Namun, jika kapabilitas seseorang untuk mengalami kondisi sejahtera lahir dan batin pudar, ia rentan untuk dimobilisasi oleh kelompok-kelompok dengan kepentingan politis tertentu. Dengan menyerukan fantasi kesejahteraan dan politik identitas yang menyelundup ke dalam benak, seseorang yang pudar kapabilitasnya mudah tersihir oleh seruan tersebut. Dan, perkara-perkara perubahan iklim menjadi salah satu yang sanggup memudarkan kapabilitas itu.

Maka, esensial tampaknya untuk mengimplementasikan pengembangan kapabilitas bagi komunitas yang rentan dampak perubahan iklim. Persisnya hal itu membutuhkan komitmen dan kolaborasi berkesinambungan antaraktor, seperti negara, pihak ketiga, sokongan industri, dan pastinya partisipasi aktif komunitas rentan itu sendiri. Supaya, komunitas yang rentan mampu mewaspadai dampak perubahan iklim, mengelola dampak perubahan iklim, dan pulih serta berdaya dari bencana-bencana dampak perubahan iklim selaras dengan nilai intrinsik komunitas tersebut.

Satu yang mendesak: kita perlu menilik ulang interelasi dengan alam. Bagaimanapun, aktivitas ekonomi dan gaya hidup kita yang tidak ramah ekologis termasuk faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya perkara-perkara perubahan iklim. Alam, beserta isinya, bukan sebatas objek yang patut dikapitalisasi dan dikonsumsi untuk egoisme manusia semata.

Fiel Kautsar lulusan Universitas Indonesia, gemar mempelajari isu Pembangunan Berkelanjutan


(mmu/mmu)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed