DetikNews
Selasa 19 Desember 2017, 12:00 WIB

Kolom

Prambanan Jadi Saksi Sejarah Bertemunya Banser NU dan Kokam Muhammadiyah

Ruchman Basori - detikNews
Prambanan Jadi Saksi Sejarah Bertemunya Banser NU dan Kokam Muhammadiyah Foto: Dok. Pemuda Muhammadiyah
Jakarta - Selama ini terkesan seperti perang dingin, antara Gerakan Pemuda Ansor dengan Pemuda Muhammadiyah. Untuk waktu yang relatif lama, tidak pernah terjadi bentrok fisik, perkelahian, dan sejenisnya antara kedua belah pihak walau mengalami perbedaan ideologis, paham, dan ajaran yang laten dan tajam. Dari urusan ubudiyah yang bersifat fikih (ijtihadi), sampai strategi dakwah dan sikap mengenai persoalan kemasyarakatan, kebangsaan, dan persoalan global.

Perbedaan khilafiyah sejak ratusan tahun yang lalu utamanya sekitar 1912-1926 bahkan sampai kini kerap mewarnai diskusi-diskusi kecil di masjid, musala, surau, warung-warung kopi, bahkan di lembaga persekolahan dan madrasi. Perbedaan qunut Salat Subuh, azan dua kali dalam penyelenggaraan Salat Jumat, bacaan ushalli dalam salat, mitoni dan ngapati dalam kehamilan, perbedaan rakaat Salat Tarawih sampai tahlil, manaqib hingga ziarah kubur.

Sikap NU yang adaptif terhadap budaya di masyarakat sering dituduh sebagai ahli tahayul bid'ah dan khurafat berbanding terbalik dengan Muhammadiyah dengan jargonnya pemurnian (purifikasi) Islam. Dalam perkembangannya, perdebatan itu mulai mereda seiring dengan munculnya kelompok Islam baru, yang disinyalir sebagai gerakan trans-nasional. Energi kedua organisasi besar wa 'ala alihi washagbihi ajmain ini seakan sibuk menangkis bahkan berhadapan dengan organisasi baru tersebut.

Mereka ingin menegakkan khilafah Islamiyah, mempertanyakan Pancasila, dan menuduh saudara sesama muslim yang menjadi pemimpin negeri ini sebagai thaghut, bahkan kerap menganggap saudara muslim yang berbeda paham sebagai kafir (takfiri). Juga, persambungannya dengan isu-isu yang di usung oleh ISIS yang jelas-jelas jauh dari spirit dan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil alamin.

Sabtu, 16 Desember 2017 menjadi momen bersejarah bagi kedua organisasi besar yang sama-sama mengusung moderasi Islam, yaitu Gerakan Pemuda Ansor-Barisan Ansor Serbaguna (Banser) dengan Kokam Muhammadiyah. Mereka bertemu dalam Apel Kebangsaan yang dirangkai dengan Kemah Kebangsaan di Plataran Candi Prambanan, Klaten, Jawa Tengah.

Ketua Umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor Yaqut Cholil Qaumas (Gus Tutut) bergandengan tangan dengan Ketua Umum Pemuda Muhammadiyah Daniel Simanjuntak. Gus Tutut di hadapan Presiden Joko Widodo bertugas membacakan teks Pancasila, sedangkan Daniel Simanjuntak membaca Deklarasi Pemuda Islam Indonesia. MC dari Pemuda Muhammadiyah, sementara Komandan Upacara dari Banser yang dilakukan oleh Komandan Satuan Koordinasi Nasional Alfa Isnaini.

Sedangkan, yang membaca doa Sekretaris Majelis Dzikir dan Rijalul Ansor KH. Mahfudz Hamid (Gus Mahfudz). Sungguh pemandangan yang langka persaudaraan lintas ideologis, dan seperti warna-warni pelangi yang sangat indah dipandang. Kurang lebih 20.000 anggota Banser dan Kokam membaur dalam sebuah apel yang digagas untuk meneguhkan komitmen kebangsaan, persatuan, dan cinta bumi.

Sungguh pertemuan yang mengharukan. Saya sendiri merinding menyaksikan peristiwa mahapenting ini. Seakan kedua pemimpin organisasi kepemudaan moderat itu melupakan semua yang pernah terjadi. Perbedaan ideologi, paham, dan ajaran diletakkan serendah-rendahnya digantikan dengan semangat persatuan, kebersamaan, dan komitmen antarsesama pemuda Islam Indonesia untuk membangun negeri.

Kegiatan ini bermula dari adanya pertemuan Gus Yaqut dan Daniel bersama Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrowi dalam sebuah acara santai. Presiden Jokowi merespons dengan baik, sampai-sampai mengagendakan khusus untuk datang dalam Apel Kebangsaan di Prambanan ini. Namun, tanpa kesadaran kedua tokoh kita ini pertemuan dan apel kebangsaan itu tak mungkin terjadi.

Ini adalah sejarah pemuda Islam Indonesia, sejarah bangsa, dan sejarah bagi siapapun yang ingin membangun ke-Indonesiaan. Benar-benar Prambanan menjadi saksi sejarah bertemunya kedua organisasi Islam moderat, Banser NU dan Kokam Muhammadiyah. Publik menaruh harapan besar terhadap kedua ormas kepemudaan ini, di saat munculnya kontestasi paham dan gerakan Islam radikal pengusung paham salafi wahabi yang anti Pancasila dan NKRI, dan khilafah Islamiyah menjadi tujuan akhir dari perjuangannya.

Dipilihnya Candi Prambanan sebagai tempat Apel Kebangsaan, menurut Menpora Imam Nahrowi adalah untuk menunjukkan bahwa Indonesia ini sangat plural dan bhinneka tunggal ika. Tema "Pemuda Hebat Menjaga Bumi" dipilih untuk menegaskan komitmen pemuda Indonesia untuk menjaga bumi Indonesia, NKRI tercinta agar tetap lestari untuk kebaikan generasi, secara ideologis dan juga ekologis.

"Perbedaan agama, suku, ras, dan budaya tidak akan mengurangi komitmen persatuan sebagai negara-bangsa yakni satu bangsa, satu nusa, satu bahasa --Indonesia," kata Imam Nahrowi. Komitmen ke-Indonesiaan harus menjadi jiwa yang selalu tertanam dalam hati setiap anak bangsa.

Pesan yang sangat jelas disampaikan Presiden Jokowi saat menjadi Inspektur Upacara dalam Apel Kebangsaan tersebut. "Ukhuwah wathaniyah, islamiyah dan basariyah yang toleran di Indonesia ini menjadikan inspirasi bagi dunia untuk menciptakan perdamaian di negaranya. Anda semua adalah sebagai pewaris darah juang para ulama, KH Hasyim Asy'ari dan KH. Ahmad Dahlan. Kita harus mencontoh mereka sebagai pejuang yang menciptakan Islam yang rahmatallil alamin di Indonesia."

Pesan lain yang disampaikan Jokowi pada para pemuda Islam Indonesia ini adalah agar GP Ansor dan Pemuda Muhammadiyah meningkatkan kapasitas diri, inovasi, dan kewirausahaan untuk menjadikan Indonesia sebagai negara yang baldatun thoyyibatun warabbun ghafur. Kegiatan apel dilanjutkan dengan penanaman pohon di sekitar candi sebagai simbol cinta bumi. Tambah lengkap lagi diakhiri dengan sesi foto bersama Presiden Joko Widodo, Menko Polkam Wiranto, Menpora Imam Nahrowi serta sejumlah menteri lainnya. Tak ketinggalan antara pasukan Banser dengan Kokam Muhammadiyah.

Sekali lagi, ini sayang untuk dilewatkan begitu saja untuk dicatat dengan tinta emas. Peristiwa ini akan selalu dikenang menjadi lembaran terindah dalam sejarah pergerakan pemuda Islam di Indonesia. Islam radikal harus dilawan dengan Islam moderat agar Indonesia tetap selamat. Wallahu a'lam bi al shawab.

Ruchman Basori Ketua Bidang Kaderisasi Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor


(mmu/mmu)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed