DetikNews
Senin 18 Desember 2017, 14:32 WIB

Kolom

Golkar, Airlangga, dan Jokowi

Aminuddin - detikNews
Golkar, Airlangga, dan Jokowi Rapimnas Golkar (Foto: Andhika Prasetia/detikcom)
Jakarta - Partai Golkar akhirnya memilih Airlangga Hartanto sebagai ketua umum menggantikan Setya Novanto yang terjerat kasus korupsi KTP Elektronik. Airlangga yang juga menjabat sebagai Menteri Perindustrian tersebut dipilih secara aklamasi oleh DPD Golkar. Terpilihnya Airlangga memang sudah diprediksi sejak lama. Sebelum Setnov diputuskan dalam praperadilan kedua, dan akhirnya menjadi terdakwa, Airlangga sudah digadang-gadang akan menjadi calon kuat menggantikannya. Bahkan desas-desus persaingan dari pihak Cendana tidak mampu menghentikan Airlangga dipilih secara aklamasi.

Harus diakui bahwa Golkar acap mengalami turbulensi pasca Akbar Tandjung. Efek tersebut menggerus terhadap perolehan suara Golkar dari masa ke masa pemilu. Dalam Pemilu 1999 Golkar memperoleh suara nasional sebesar 22,44 persen, tahun 2004: 21,58 persen, 2009: 14,5 persen, dan 2014: 14,75 persen. Bahkan sekarang, elektabilitas Golkar anjlok, dan berada di bawah Gerindra yang notabene partai baru dan "anak kandung" Golkar. Ini artinya, energi politik pembaruan dibutuhkan oleh Golkar untuk meningkatkan elektabilitasnya guna menyongsong hajatan elektoral lokal (Pilkada) 2018 dan Pemilu 2019.

Kacaunya suara Golkar dalam perhelatan politik nasional tidak lepas dari roda organisasi yang stagnan. Proses kaderisasi yang lamban, serta ketergantungan terhadap tokoh tertentu membuat Golkar semakin tertutup. Golkar seolah bermetamorfosis menjadi bisnis politik. Siapapun yang menguasai saham, dialah pemilik tunggal Golkar. Tak ayal, kader-kader potensial bertumbangan. Bahkan tidak jarang kader Golkar eksodus ke partai lain

Kini, kehadiran Airlangga sebagai ketua umum menjadi harapan baru di tengah gersangnya perubahan Golkar. Airlangga Hartanto diharapkan mampu memodifikasi Golkar menjadi partai yang lebih modern, dan terbuka. Sosoknya yang jauh dari masalah hukum diharapkan mampu membenahi kapal Golkar yang sedang karam.

Figur Airlangga yang bersih dari masalah hukum, serta masih muda tentu saja memberi harapan baru bagi Golkar ke depannya. Dengan potensi itu, Airlangga dianggap mampu menjadi figur yang mewakili generasi muda. Menjamurnya pemilih muda (pemilih milenial) dewasa ini tentu saja menjadi keuntungan tersendiri bagi Golkar. Sebab, selain tidak boleh berurusan dengan hukum, partai butuh pembaruan estafet kepemimpinan. Karena itu, menjadi penting bagi Golkar untuk mereformasi dengan baik agar tidak lagi tergantung terhadap salah satu tokoh.

Melihat hal itu, ada beberapa pekerjaan rumah yang harus segera dibenahi oleh Airlangga. Pertama, membangun kembali tradisi musyawarah yang bersifat kekeluargaan. Tradisi ini penting dilakukan dalam upaya untuk mensolidkan kader-kader Golkar. Pengalaman masa lalu Golkar yang terpecah tentu saja karena tradisi musyawarah tidak dilakukan dengan baik. Sehingga, kader Golkar yang loyal terhadap salah satu tokoh berani memberontak. Akibatnya, perpecahan menjadi keniscayaan.

Kedua, Airlangga harus bisa memenangkan pertarungan opini publik terkait Golkar. Harus diaku bahwa sejak Setnov kerap disebut-sebut dalam kasus KTP elektronik, hingga menjadi terdakwa, persepsi publik terhadap Golkar cenderung memburuk. Bayang-bayang citra negatif Setnov sulit untuk dilepaskan mengingat ia adalah ketua umum. Karena itu, salah satu strategi Golkar untuk melawan opini negatif publik adalah memberikan ruang sebesar-besarnya bagi kader potensial Golkar untuk tampil ke publik. Kader-kader Golkar yang selama ini dicampakkan dan terpasung harus dirangkul.

Ketiga, Airlangga harus mampu mencari Sekretaris Jenderal (Sekjen) dari politisi muda Golkar yang tidak bermasalah dengan hukum, serta tidak ada kaitan dengan masa lalu Golkar. Posisi Sekjen sangat penting bagi Golkar karena begitu strategis untuk menentukan arah partai.. Karenanya, memilih kader muda yang bersih serta mewakili anak-anak muda menjadi sangat penting bagi Airlangga.

Keuntungan Jokowi?

Terpilihnya Airlangga sebagai ketua umum Golkar tentu saja sangat menguntungkan bagi Joko Widodo. Sebab Airlangga merupakan tokoh Golkar yang dekat dengan pemerintah. Apalagi, Golkar sudah jauh-jauh hari mendeklarasikan dukungan terhadap Jokowi. Ini artinya, dukungan terhadap Jokowi tidak akan goyah hingga perhelatan Pemilu 2019. Namun pertanyaannya, apakah dalam politik memang seperti matematika?

Secara dukungan, mungkin saja berdampak positif. Namun jika diamati dari aspek lain, justru ini bisa menjadi jebakan bagi Jokowi. Persepsi publik yang telanjur negatif terhadap Golkar di era Setnov sedikit banyak akan mempengaruhi persepsi publik terhadap Jokowi.

Karenanya, tugas Jokowi sebagai sosok yang didukung oleh Golkar tidak boleh melakukan blunder sedikit pun terkait dengan Golkar. Misalnya mengintervensi Golkar dalam suksesi kepemimpinan pasca Setnov. Selain itu, pertaruhan Jokowi juga ditentukan oleh Airlangga di era kepemimpinannya. Jika Airlangga benar-benar mengelola Golkar dengan baik, maka Jokowi diuntungkan. Sebaliknya, Jokowi akan mendapatkan getahnya apabila Golkar tidak ada perubahan signifikan antara kepemimpinan Setnov dan Arilangga.

Aminuddin Direktur Eksekutif pada Literasi Politik dan Edukasi untuk Demokrasi (LPED). Alumnus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

(mmu/mmu)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed