DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Senin 18 Desember 2017, 13:40 WIB

Kolom

Menanti Golkar 4.0

Dito Ariotedjo - detikNews
Menanti Golkar 4.0 Dito Ariotedjo (Foto: istimewa)
Jakarta - Dalam ranah ekonomi, beberapa indikator revolusi industri generasi keempat adalah hadirnya superkomputer, robot pintar, kendaraan tanpa pengemudi, editing genetik, dan perkembangan neuroteknologi yang memungkinkan manusia untuk lebih mengoptimalkan fungsi otak. Setidaknya demikian ah yang disampaikan oleh Klaus Schwab, Founder dan Executive Chairman of the World Economic Forum dalam bukunya The Fourth Industrial Revolution.

Faktannya memang perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah mengubah dunia sebagaimana revolusi generasi pertama melahirkan sejarah ketika tenaga manusia dan hewan digantikan oleh mesin-mesin. Salah satunya adalah kemunculan mesin uap pada abad ke-18. Revolusi industri pertama dicatat dalam sejarah sebagai ayunan yang berhasil mengerek naik perekonomian secara dramatis. Selama dua abad setelah Revolusi Industri, telah terjadi peningkatan rata-rata pendapatan perkapita negara-negara di dunia sampai enam kali lipat.

Kemudian, revolusi industri generasi kedua datang, ditandai dengan kemunculan pembangkit tenaga listrik dan motor pembakaran dalam (combustionchamber). Walhasil, muncullah pesawat telepon, mobil, pesawat terbang, dan lain-lain yang mengubah wajah dunia secara signifikan. Sementara revolusi industri generasi ketiga ditandai dengan kemunculan teknologi digital dan internet.

Nah, pada revolusi industri generasi keempat, seperti yang telah disampaikan di awal, telah ditemukan pola baru ketika loncatan teknologi disruptif (disruptive technology) hadir begitu cepat dan mengancam keberadaan perusahaan-perusahaan incumbent. Sejarah telah mencatat bahwa revolusi industri keempat memang banyak menelan korban dengan matinya perusahaan-perusahaan raksasa. Lebih dari itu, pada era ini, ukuran besar perusahaan tidak lagi menjadi jaminan, namun kelincahan perusahaan menjadi kunci keberhasilan meraih prestasi dengan cepat.

Dalam bisnis, sebut saja misalnya Uber yang mengancam pemain-pemain besar pada industri transportasi di seluruh dunia. Atau, Airbnb yang mengancam pemain-pemain utama di industri jasa pariwisata. Fakta tersebut membuktikan bahwa yang cepat dapat memangsa yang lambat, bukan yang besar memangsa yang kecil. Oleh sebab itu, perusahaan harus peka untuk introspeksi diri sehingga mampu mendeteksi posisinya di tengah perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Jika kita gulirkan ke ranah politik, jelaslah sudah bahwa Partai Golkar harus ambil bagian dalam revolusi semacam ini, jika tak ingin gulung tikar dan ditinggalkan konstituen. Perubahan, katakanlah di bidang ekonomi, akan ikut memberi andil kepada perubahan sikap dan perilaku masyarakat, termasuk sikap kepada partai politik seperti Golkar. Dengan kata lain, Beringin memang pernah berjaya di revolusi industri generasi kedua, di mana Orde Baru sukses memupuk beringin menjadi nyaris sebesar Indonesia. Tapi, era itu sudah berlalu.

Golkar sempat sukses berdiri gagah di depan pintu transformasi. Pada 2004, Golkar sempat kembali berjaya dengan menduduki bangku pemenang. Sayangnya, Golkar terbilang gagal mempertahankannya. Pelan-pelan kader andalan mengetuk pintu perubahan secara sendiri-sendiri. Mereka berbondong-bondong mendirikan partai baru, yang ternyata cukup sukses untuk pemilu-pemilu selanjutnya. Tidak bisa tidak, itulah pertanda awal bahwa Golkar sudah mulai lamban.

Kader-kader yang ingin berlari cepat sudah merasa tak cocok lagi ada di dalam, kemudian menyiapkan kendaraan masing-masing yang sesuai. Sementara, Golkar nampaknya masih terlena dengan nostalgia Orde Baru. Berharap meneduhi banyak kader dan konstituen, tapi menuai sebaliknya. Golkar semakin lamban, konstituen dan kader yang gesit semakin cepat melaju di luar.

Melihat situasi semacam itu, tak bisa tidak, Golkar harus berubah cepat, bertransformasi menjadi pohon yang gesit, lincah, pun cekatan, dan indah di mata publik. Golkar harus segera memperbarui narasi ruang publiknya. Golkar harus segera menawarkan sesuatu kepada publik, yang benar-benar mampu membuka mata masyarakat bahwa Golkar masih ada, dan masih memiliki daun, dahan, ranting, dan batang yang kuat, cepat, serta layak untuk diandalkan Indonesia.

Toh Golkar yang besar, yang pernah fenomenal, dan yang sudah puluhan tahun malang melintang di dunia perpolitikan nasional, seharusnya punya banyak narasi baru yang dapat ditawarkan ke publik. Tujuannya sangat jelas, yakni menghapus narasi buruk tentang Beringin di mata pemilih. Golkar yang dianggap tidak bersih, kurang aspiratif, kurang berempati kepada kalangan bawah, elitis, jauh dari rakyat, internalnya suka berkonflik, dan tradisional harus segera direspons secara cepat dengan perubahan dan aksi-aksi nyata.

Selain pembaruan narasi, konsolidasi dengan DPD 1, DPD 2, dan sampai ke ranting harus segera dilakukan, sekaligus mensosialisasikan narasi-narasi baru tersebut, dan mengadaptasi manajemen kepengurusan yang ramping tapi efektif. Aneka ragam teknologi dan aplikasi bisa dimanfaatkan untuk mendekatkan semua kader pengurus di mana pun berada. Lalu, konflik antarberbagai kubu harus segera selesai. Di internal, kepemimpinan baru harus mampu mengakomodasi semua pihak yang berseberangan di dalam Golkar.

Jika tidak demikian, maka aksi goyang menggoyang akan terus terjadi dan fokus akan hilang, yang pada tataran tertentu bisa saja mengganggu kepemimpinan baru. Dengan kata lain, kepemimpinan baru melakukan islah besar-besaran di dalam partai agar bisa merangkul semua pihak yang memiliki potensi untuk tetap bertahan di Golkar. Tujuannya sederhana, agar Golkar bisa segera bertransformasi, dan fokus pada perubahan dan pembaruan untuk mengukir kemenangan-kemenangan di masa depan, bukan fokus pada konflik

Setelah itu, Golkar harus memikirkan berbagai macam layanan publik yang paling mungkin untuk diberikan dan dibutuhkan oleh pemilih, memetakan titik-titik krusialnya, dan memetakan kebutuhan-kebutuhan konstituen dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi yang ada. Ada banyak partai yang menawarkan ambulan gratis, jadi Golkar harus menemukan fitur layanan lain yang bisa menggugah hati pemilih untuk mencintai Golkar. Semisal layanan asuransi pendidikan bagi anak-anak kader terbaik, atau orang-orang yang bertetangga dengan ketua ranting dan ketua DPC, setahun untuk tiga atau empat orang, dengan dilengkapi teknologi pendataan yang mutakhir. Jika perlu, sekaligus dengan sistem pengelolaan aset yang mumpuni, sistem filantropi yang khusus untuk konstituen, agar Golkar kian mandiri, dan tidak bergantung kepada hasil korupsi para kader yang ada di dalam pemerintahan.

Kemudian, dari sisi SDM dan manajemen, Golkar harus berbenah, menyesuaikan diri dengan zaman. Optimasi peran-peran SDM muda yang ada untuk segera memasuki era digital. Rekruitmen pengurus harus benar-benar memakai merit system, dengan dukungan teknologi yang sesuai. Generasi muda berbakat tersebut akan menangani segala kebutuhan Golkar untuk memasuki era revolusi Beringin keempat. Sebut saja misalnya digitalisasi database keanggotaan. Digitalisasi proses registrasi anggota baru. Dan, mendekatkan diri dengan pemilih dengan cara-cara teknologis.

Jika perlu Golkar memiliki aplikasi partai, yang tidak hanya berupa direktori data-data partai, tapi juga menghadirkan gimmick, games, kompetisi, sekaligus bisa terkoneksi dengan berbagai layanan yang sering digunakan oleh pemilih. Terkoneksi bisa saja dalam artian kerja sama. Barang siapa yang memenangkan games tertentu atau kompetisi tertentu yang ada di aplikasi, berhak naik transportasi online tertentu seharga tertentu pula, misalnya. Atau, berhak belanja online di e-commerce tertentu seharga tertentu. Dan, seterusnya.

Saya yakin, ada banyak cara yang bisa dilakukan oleh Golkar untuk berbenah dan melakukan pembaharuan. Dengan strategi dan taktik yang benar, Golkar dipastikan mampu untuk bertahan, lalu bangkit dengan semangat dan penampakan baru. Bukankah Golkar adalah partai kader yang kualitas SDM-nya digembar-gemborkan nyaris merata alias tidak tersentralisasi pada satu tokoh utama saja? Artinya, Golkar seharusnya menjadi partai yang pertama yang paling berpeluang untuk berubah menyesuaikan diri dengan zaman dan pemilih.

Saya sepakat dengan Reed Hasting, CEO Netflix, yang pernah mengatakan bahwa jarang sekali ditemukan perusahaan mati karena bergerak terlalu cepat, namun sebaliknya yang seringkali ditemukan adalah perusahaan mati karena bergerak terlalu lambat. Dan, logika tersebut, saya sangat yakin, juga berlaku buat partai politik seperti Golkar. Jika mampu beradaptasi dengan cepat, memetakan perubahan-perubahan yang ada, baik di level masa maupun di level elite, lalu menetapkan segera strategi-strategi yang mumpuni, maka Golkar akan menjadi partai terdepan yang turut aktif menyiapkan Indonesia menuju revolusi keempat.

Kita semua memang harus berbenah, berubah, dan terus-menerus memperbarui segala sesuatu yang sudah tak kontekstual lagi dengan zaman. Terus mencari celah untuk berubah ke arah yang lebih baik. Saya, sidang pembaca, dan Golkar sekalipun, semuanya harus terus berintrospeksi diri dan memperbarui sikap-sikap politik kita, jika ada yang tidak pas lagi dengan kondisi kekinian. Dengan lain perkataan, kita harus senantiasa menjadi pembaharu untuk bisa sampai di keabadian. Bukankah yang abadi hanyalah pembaharuan? Salam Pembaharuan! Dan, tak lupa, salam pembaharuan untuk Partai Golkar!

Dito Ariotedjo Ketua Umum Angkatan Muda Pembaruan Indonesia (AMPI)


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed