DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Senin 18 Desember 2017, 11:27 WIB

Kolom Kang Hasan

Memahami Perjuangan Kemerdekaan Palestina

Hasanudin Abdurakhman - detikNews
Memahami Perjuangan Kemerdekaan Palestina Hasanudin Abdurakhman (Ilustrasi: Edi Wahyono)
Jakarta - Banyak orang Indonesia mendukung perjuangan orang-orang Palestina. Tapi sayangnya, tidak sedikit dari mereka yang tidak paham tentang apa yang mereka dukung. Kita dukung perjuangan Palestina. Perjuangan untuk apa? Untuk merdeka, dari penjajahan Israel. Baiklah, kita sama-sama sepakat soal itu.

Tapi kemudian mereka mulai meributkan soal eksistensi Israel. Menurut mereka Israel tidak sah sebagai sebuah negara. Jadi, Israel harus dianggap tidak ada, dibubarkan, atau dimusnahkan. Seluruh wilayah bekas jajahan Inggris yang dulu disebut Mandate of Palestine harus menjadi wilayah negara Palestina.

Lalu mereka berputar-putar dengan argumen soal tidak adilnya Partition Plan yang diusulkan PBB tahun 1948. Atau, tidak sahnya eksodus orang-orang Yahudi dari berbagai tempat di dunia ke wilayah itu. Juga mengutuki Deklarasi Balfour serta gagasan Zionisme. Bahkan kemudian berdebat soal siapa yang paling sah mengklaim wilayah itu dari tinjauan sejarah.

Terus terang harus saya katakan bahwa itu semua adalah cara pandang kuno soal Palestina. Dulu mungkin orang-orang Arab tidak mau mengakui eksistensi Israel. Tapi situasi sudah jauh berubah. Perjuangan kemerdekaan Palestina kini sudah berbasis pada pengakuan pada eksistensi Israel, yang dikenal dengan istilah two states solution. Intinya, kedua pihak saling mengakui keberadaan masing-masing sebagai negara, dengan wilayah yang batas-batasnya harus dirundingkan. Pengakuan atas hak Israel untuk wujud sudah dinyatakan oleh Yasser Arafat pada 1993 melalui sebuah surat kepada PM Israel Yitzhak Rabin.

Pihak Palestina tadinya berharap bahwa wilayah yang menjadi hak mereka adalah wilayah yang diperuntukkan bagi orang-orang Arab melalui Partition Plan. Usulan PBB ini tadinya ditolak oleh orang-orang Arab, sedangkan Israel menerimanya. Penolakan itu menimbulkan perang, bermula dari serbuan Mesir, Yordania, Syiria, dan Irak dengan tujuan menguasai wilayah bekas Mandat Palestina. Tapi serangan ini berhasil dipatahkan oleh Israel yang baru saja memproklamasikan kemerdekaan. Hasilnya, Israel justru menguasai wilayah yang lebih luas daripada yang diperuntukkan bagi mereka pada Partition Plan. Dalam Deklarasi Kemerdekaan Palestina tahun 1988 dinyatakan, bahwa meskipun mereka anggap tidak adil, pihak Palestina menerima Partition Plan, setidaknya hal ini memberi mereka legitimasi internasional.

Keinginan Palestina itu ditolak oleh Israel. Akhirnya Palestina pun melunak lagi. Mereka hanya meminta wilayah yang ditetapkan berdasarkan perjanjian perbatasan tahun 1967, meliputi wilayah Tepi Barat dan Jalur Gaza. Inilah sekarang yang diperjuangkan oleh Palestina. Yaitu hak mereka untuk berdaulat atas kedua wilayah itu.

Hamas, kelompok pejuang Palestina garis keras tadinya masih kukuh menolak mengakui eksistensi Israel. Namun belakangan Hamas pun melunak. Dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan di Doha, Kepala Biro Politik Hamas Khaled Meshal pada Mei tahun ini menyatakan menerima hak Israel untuk wujud.

Jadi, kita ulang lagi penegasan, bahwa mendukung perjuangan Palestina untuk merdeka adalah mendukung kedaulatan Palestina atas wilayah Tepi Barat dan Jalur Gaza. Israel sudah menarik diri dari Jalur Gaza pada 2005. Tapi kemudian Israel memberlakukan blokade yang sangat ketat, dengan alasan untuk melindungi dari serangan teror Hamas, terutama terhadap warga sipil Israel. Sementara itu, Israel masih menduduki sebagian wilayah Tepi Barat, dan hanya membiarkan Palestine Authority mengontrol sebagian wilayah yang dikapling Israel untuk mereka.

Inilah yang harus diperjuangkan. Israel mundur total dari kedua wilayah itu, menghapuskan seluruh pemukiman yang mereka bangun di Tepi Barat, dan mengakhiri blokade terhadap Jalur Gaza. Pendudukan atas Tepi Barat dan blokade terhadap Gaza, itulah wujud penjajahan Israel sekarang. Itulah yang harus diakhiri.

Bagaimana itu bisa dicapai? Israel membutuhkan jaminan keamanan bagi diri mereka. Hamas harus bisa mengontrol seluruh elemen kekuatan di Gaza untuk berhenti menyerang Israel. Mungkinkah? Itu yang tetap menjadi pertanyaan besar. Seriuskah pernyataan Hamas bahwa mereka mau mengakui Israel? Tiada yang tahu. Boleh jadi saja satu faksi dalam tubuh Hamas serius dengan keinginan itu. Tapi sangat sulit membayangkan Hamas akan bulat pendapat soal menerima keberadaan Israel.

Bagi kita, sekali lagi, mendukung perjuangan kemerdekaan Palestina adalah mendukung kedaulatan mereka atas kedua wilayah tadi. Tidak ada lagi agenda untuk melenyapkan Israel. Konyol sekali kalau kita yang tidak berkonflik dengan Israel justru menolak mengakui keberadaan mereka, padahal pihak Palestina sudah mengakui.

Tentu saja itu juga berarti bahwa kita mengakui bahwa konflik ini adalah konflik kedua bangsa, yaitu Palestina dan Israel. Ini bukan konflik agama, antara Islam dan Yahudi. Juga bukan konflik antara etnis Arab dan Yahudi. Sebanyak 20% dari warga negara Israel itu adalah orang Arab, dan 16% dari warga Israel itu adalah muslim.

Hasanudin Abdurakhman cendekiawan, penulis dan kini menjadi seorang profesional di perusahaan Jepang di Indonesia


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed