DetikNews
Sabtu 16 Desember 2017, 11:06 WIB

Kolom

Hari Juang Kartika: Refleksi dan Introspeksi

Jenderal TNI Mulyono - detikNews
Hari Juang Kartika: Refleksi dan Introspeksi Jenderal TNI Mulyono (Foto: istimewa)
Jakarta - Dengan tidak mengesampingkan nilai-nilai perjuangan rakyat Indonesia di belahan bumi Nusantara lainnya, semangat bersatu dalam sebuah kemanunggalan TNI AD dan rakyat lahir dalam peristiwa Palagan Ambarawa, di mana pasukan yang dipimpin oleh Panglima Divisi Pasukan di Purwokerto Kolonel Sudirman berhasil memukul mundur penjajah Belanda yang saat itu membonceng pada tentara Sekutu. Momen bersejarah itu merupakan cikal bakal kemanunggalan TNI AD dan rakyat Indonesia.

Peristiwa yang terjadi pada 15 Desember 1945 tersebut setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Ulang Tahun TNI AD atau lebih dikenal sebagai Hari Juang Kartika. Dari peristiwa tersebut tersarilah suatu jatidiri Tentara Nasional Indonesia sebagai Tentara Rakyat, Tentara Pejuang dan Tentara Nasional yang menjadi kebanggaan setiap prajurit.

Setelah tujuh puluh dua tahun berlalu, seiring perkembangan dan kemajuan teknologi, saat ini bangsa Indonesia harus menghadapi fenomena kehidupan yang tidak semuanya selaras dengan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia. Hal ini tentu berdampak pada kondisi sosial, politik, dan keamanan nasional kita sehingga menjadi sebuah ancaman dan tantangan yang harus kita hadapi bersama. Ancaman tersebut dapat berupa ancaman yang terlihat, dan ada juga ancaman yang tidak terlihat yang justru memiliki dampak yang sangat besar, misalnya serangan siber dan serangan informasi. Hal ini berakibat pada terbukanya peluang bahwa negara kita juga telah menjadi palagan operasi siber dan informasi oleh state-actor dan non-state actor yang berkepentingan.

Kita semua menjadi saksi betapa pertentangan antarpihak yang memperjuangkan kepentingan pribadi maupun kelompoknya semakin menajam. Diawali dari ujaran kebencian dan hoax di media sosial, emosi masyarakat pun dapat dengan mudah tersulut. Sebagai contoh di beberapa daerah bahkan terjadi tindakan persekusi yang mengganggu kerukunan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Dalam upaya mengantisipasi sekaligus menangkal berbagai ancaman tersebut, TNI AD merasa bertanggung jawab dan bertekad untuk menjaga keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dan melindungi rakyatnya. Tekad ini sudah kita implementasikan melalui upaya TNI AD untuk terus memperkuat Alutsista dan meningkatkan kemampuan prajuritnya sebagaimana diamanatkan oleh undang-undang bahwa TNI sebagai kekuatan utama pertahanan negara.

Selain itu TNI AD juga aktif menyiapkan diri dalam rangka melaksanakan tugas-tugas Operasi Militer Selain Perang lainnya, di antaranya membantu pemerintah dalam mendukung program ketahanan pangan melalui program cetak sawah, penyerapan gabah (sergap), dan upaya khusus luas tambah tanam (upsus LTT) sehingga pada awal 2017 ini Indonesia berhasil berswasembada beras kembali. Ke depan, TNI AD juga telah menyatakan kesiapan untuk mendukung tugas-tugas 24 lembaga dan kementerian, yang tentunya dilaksanakan tanpa mengabaikan profesionalitas dan kesiapsiagaan operasional satuan (operational readiness).

Keberhasilan yang sudah diraih oleh TNI AD baik sebagai satuan maupun oleh prajuritnya selama ini merupakan bukti nyata bahwa TNI AD masih menjaga profesionalitasnya. Misalnya dalam mengikuti lomba tembak skala internasional Australian Army Skill Arms at Meeting (AASAM) dan ASEAN Armies Rifle Meet (AARM), TNI AD selalu menjadi juara umum.

Pencapaian prestasi lainnya ialah dalam pelaksanaan Operasi Tinombala, TNI AD telah berhasil melumpuhkan teroris kelompok Santoso di Poso dan beberapa waktu yang lalu TNI AD juga turut dalam operasi pembebasan sandera di daerah Tembagapura, Papua tanpa ada korban di pihak rakyat maupun TNI/Polri. Keberhasilan dalam operasi tersebut juga berkat sinergi antara TNI dengan Polri maupun dengan lembaga pemerintahan lainnya.

TNI AD juga menyadari masih adanya harapan masyarakat Indonesia yang belum bisa terpenuhi secara maksimal. Kita tidak menutup mata masih ada ulah dari oknum prajurit-prajurit yang tidak sesuai dengan harapan masyarakat. Untuk itu, TNI AD bertekad untuk terus berbenah diri serta meningkatkan kualitas dan kuantitas pengabdiannya, sekaligus mohon doa restu seluruh rakyat Indonesia agar tekad pengabdian yang selama ini kita persembahkan kepada masyarakat, bangsa dan negara senantiasa berada pada arah yang benar. Hal ini memang sudah menjadi komitmen setiap prajurit TNI AD di tengah segala keterbatasan yang ada akan selalu memberikan yang terbaik bagi rakyat Indonesia karena yang tebaik bagi rakyat terbaik juga bagi TNI AD

Sebagaimana sudah saya sampaikan sebelumnya terkait dengan ancaman yang sedang dihadapi bangsa kita saat ini, perlu kiranya kita cermati hasil survei yang menyatakan ternyata bahwa sebagian besar Generasi Milenial masih meyakini bahwa Pancasila sebagai ideologi yang terbaik bagi Indonesia. Bagi kita hasil survei tersebut sangat menggembirakan mengingat karakter bangsa khususnya generasi muda adalah modal utama dalam membangun bangsa yang kuat dan maju serta berdaya saing.

Tidak ubahnya demografi penduduk Indonesia saat ini, bersadarkan komposisi personel yang ada mayoritas personel TNI AD adalah juga para prajurit yang masih muda yang tentunya tergolong sebagai Generasi Milenial. Oleh karenanya, secara internal, TNI AD senantiasa membangun dan memperkuat sikap, mental dan karakter para prajuritnya yang berlandaskan Sapta Marga, Sumpah Prajurit dan 8 Wajib TNI. Sedangkan secara eksternal, bersama komponen bangsa lainnya TNI AD siap berkontribusi dalam menggali, mengembangkan, memperkuat, dan menjaga nilai-nilai luhur bangsa yang saya pribadi menamakannya sebagai Imunitas Bangsa.

Imunitas Bangsa pada hakikatnya adalah sistem kekebalan yang menjaga tubuh bangsa Indonesia dari berbagai ancaman serangan virus penyakit yang mengancam kedaulatan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Imunitas bangsa bermanifestasi dalam nilai-nilai yang terangkum dalam Pancasila. Adapun nilai-nilai tersebut adalah menghormati perbedaan, semangat untuk bersatu, pantang menyerah dan rela berkorban, nasionalisme, optimisme dan harga diri, serta kebersamaan dan gotong royong. Dengan kata lain, TNI AD mengajak seluruh komponen bangsa untuk bersama-sama menggali nilai-nilai luhur yang telah diwariskan oleh para pendahulu kita dan terus memupuk imunitas tersebut sehingga dapat menjadi sumber kekuatan rakyat dan bangsa Indonesia.

Imunitas bangsa ini sesungguhnya digali dari niai-nilai luhur yang telah diyakini dan menjadi pedoman kerajaan-kerajaan besar Nusantara, seperti Majapahit, Sriwijaya, dan Singasari. Di Majapahit misalnya, Raja Hayam Wuruk dan Patih Gajah Mada meyakini betapa pentingnya sikap saling menghargai perbedaan sebagai landasan dalam menciptakan kedamaian di lingkungan kerajaan. Sikap tersebut juga merupakan kekuatan yang menyatukan seluruh rakyat Kerajaan Majapahit dalam menghadapi berbagai ancaman perpecahan dari dalam maupun serangan dari kekuatan asing. Namun, akhirnya sejarah juga yang membuktikan bahwa ketidakmampuan menjaga nilai-nilai luhur tersebut telah membawa kehancuran pada kerajaan-kerajaan yang ada di Nusantara.

Oleh karena itu, tepat kiranya apabila Peringatan Hari Juang Kartika kali ini merupakan momentum bagi TNI AD untuk meningkatkan profesionalitas diri dan memyempurnakan kekurangan-kekurangan yang ada serta bersama komponen bangsa lainnya untuk memperkuat Imunitas Bangsa Indonesia, karena terbukti Imunitas Bangsa akan selalu relevan bagi bangsa Indonesia pada masa apapun dalam menjaga dan mengawal keutuhan bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia dari berbagai rongrongan, ancaman, gangguan, dan hambatan.

Selamat Hari Juang Kartika, Dirgahayu TNI AD, 15 Desember 2017, Manunggal Bersama Rakyat, TNI AD Kuat!

Jenderal TNI Mulyono Kepala Staf TNI Angkatan Darat


(mmu/mmu)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed