DetikNews
Jumat 15 Desember 2017, 15:50 WIB

Kolom Kalis

Logika Antivaksin dan Teori Konspirasi Lainnya

Kalis Mardiasih - detikNews
Logika Antivaksin dan Teori Konspirasi Lainnya Kalis Mardiasih (Ilustrasi: Kiagoos Auliansyah/detikcom)
Jakarta - Pada 2011, saya berkunjung ke sebuah pesantren yang berlokasi di sebuah perkampungan kecil di Puncak Bogor. Saya datang bersama kelompok anak muda yang ingin melakukan dialog, kira-kira formatnya adalah input apa yang bisa kami peroleh untuk kebaikan komunitas, serta sebaliknya, masukan apa yang bisa kami berikan untuk perkembangan pesantren.

Sebelum berangkat, komunitas kami memang sepakat bahwa jika ada masalah-masalah di lingkungan pesantren, sebisa mungkin kami tidak akan memberikan solusi berupa uang atau hal bersifat material. Latar belakang kami adalah jurusan teknik, pendidikan, ekonomi, hukum, dan lain-lain, masak sih tidak bisa memberikan solusi yang sifatnya aplikatif dan berkelanjutan? Begitu konsep awal kami.

Singkatnya, ustaz perwakilan di pesantren itu bercerita kondisi bangunan yang tak layak, saluran air tidak lancar, dan perekonomian pesantren yang lemah. Beberapa teman yang jurusan teknik langsung mengecek bangunan, memeriksa saluran air untuk kemudian merancang semacam teknologi tepat guna untuk bersiasat mengatasi permasalahan.

Hingga, suasana berubah agak tegang ketika berdialog tentang peningkatan kapasitas santri. Ketika Sang Ustaz bercerita bahwa santrinya bekerja sebagai juru parkir, juru angkat barang di pasar, dan beberapa pekerjaan kasar lain untuk keberlangsungan pesantren, kami berusaha membuka perspektif peningkatan kapasitas melalui training, penawaran akses, dan santri-preneurship. Rupanya percakapan itu membuat Pak Ustaz agak tersinggung.

Ia lalu memungkasi pertemuan hari itu dengan menasihatkan sebuah dalil bahwa rezeki itu dari Allah, dan barangsiapa yang dekat dengan Al Quran niscaya akan selalu ditolong Allah. Setelah itu, kami berpamitan pulang karena tidak berhasil menjembatani dialog.

Dalam koridor yang berbeda, pengalaman itu seperti serupa dengan rombongan antivaksin yang meresahkan para orangtua pro-vaksin beberapa minggu ini. Hari ini, Dinas Kesehatan Kota Bekasi, Jawa Barat mencatat adanya penambahan pasien suspek difteri sebanyak lima orang. Kejadian ini diduga sebagai sambungan kabar status Kejadian Luar Biasa (KLB) di Jawa Barat yang ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan. KLB difteri melibatkan tiga provinsi, salah satu yang tertinggi adalah Jawa Barat.

Saya tidak memahami logika kelompok orangtua antivaksin. Dalam perdebatan di medsos, saya pernah membaca alasan semacam, "Tetangga saya divaksin DPT tetap kena tuh..." Dan, yang paling sering tentu saja argumen seperti, "Ini ujian dari Tuhan," atau, "Datangnya penyakit dari Allah adalah ujian keikhlasan serta penggugur dosa," dan, "Menjalankan perintah agama lebih mulia dibanding menjalankan perintah negara."

Awalnya saya berpikir, ah palingan pernyataan semacam itu hanya milik warganet saja. Di dunia nyata, mereka pasti seperti orangtua normal lainnya. Hingga kemudian saya teringat kembali.

Masa 2009, saya ngekos di semacam asrama binaan Lembaga Dakwah Kampus. Setiap hari, kami punya tradisi salat berjamaah dengan saling bergantian menjadi imam. Biasanya, selepas Salat Magrib, agenda bertambah dengan semacam kultum. Pada bagian itulah dua senior dakwah kampus mulai mensosialisasikan hal-hal mengerikan soal vaksin, mulai dari keharaman materinya yang mengandung gelatin babi, hingga teori konspirasi bahwa vaksin adalah upaya kaum Yahudi atau Amerika untuk menghancurkan generasi umat Islam.

Dalam forum kos-kosan itu, mereka pun mulai menambah-nambahi logika yang terkesan dipaksakan agar kami semakin percaya. Misalnya, kenapa bayi yang divaksin justru mendapat kasus sudden death, autisme, dan lain-lain. Namun, bayi-bayi Palestina yang tidak divaksin justru merupakan generasi cemerlang (sungguh, saya tak tahu ini berita dari mana asalnya).

"Dari mana sumber pengetahuan ini?" saya bertanya.

"Dari pesan SMS berantai. Dan, sudah menjadi diskusi panas di masjid kampus selama berminggu-minggu," jawab senior saya itu.

Olala, kita pasti ingat. Dulu, kabar bohong yang beredar lewat pesan berantai juga banyak, dan bisa menjadi kebenaran sekalipun itu diterima oleh mahasiswa yang katanya kaum intelektual.

Masih ingat dengan sebaran SMS soal Sunita Williams yang konon astronaut India pertama yang mendarat di bulan lalu berubah menjadi mualaf setelah mendengar azan di bulan? Begini kira-kira redaksinya: "Dari bulan seluruh bumi kelihatan hitam dan gelap, kecuali dua tempat yang terang dan bercahaya. Ketika aku (Sunita) melihat dengan teleskop ternyata tempat itu adalah Mekah dan Madinah. Dan di bulan, semua frekuensi tidak berfungsi tapi aku masih mendengar suara azan."

Sekali lagi, di masa lalu, senior saya yang rajin pergi ke mesjid kampus itu riang gembira sekali ketika menerima pesan berantai itu. Pikiran tidak logis soal suara tidak dapat merambat di ruang hampa udara, harus dikalahkan dengan pikiran kemenangan dakwah Islam. Belakangan, baru kita ketahui bahwa Sunita bukan orang India melainkan Amerika. Ia tidak pernah mendarat di bulan, dan NASA melakukan misi pendaratan terakhir di bulan pada 1976.

Itu bertahun lalu. Kini, informasi bohong lebih ganas lagi menyebar di ruang-ruang privat. Kecanggihan aplikasi pesan instan membuat manusia dapat membuat grup-grup kecil di gawai masing-masing, bahkan bisa memilih pada channel mana mereka ingin bergabung. Dan, sebagaimana kita ketahui, di media sosial, manusia hanya ingin mendengar apa yang ingin ia dengarkan. Sebanyak apa pun referensi yang kita sodorkan tak akan berguna, apalagi jika hal tersebut mencederai eksistensi seseorang di jagat maya.

Isu vaksin adalah isu serius. Ini persoalan wabah penyakit yang bisa menghabisi nyawa anak-anak kecil yang tak berdosa. Ajaran Islam mendorong umatnya untuk menjaga kesehatan. Dan, ada banyak kaidah fikih tentang medis yang telah memudahkan peradaban. Seharusnya, para orangtua di zaman seterbuka ini lebih bisa mengomparasikan informasi dari sumber ilmiah seperti dokter atau ahli agama yang mumpuni.

Ketika saya sedang memekik dalam hati itu, tiba-tiba dua orang laki-laki berkemeja rapi di sebuah bangunan perkantoran Jakarta yang kebetulan satu lift dengan saya sedang bercakap-cakap.

"Kamu tahu nggak kalau konon (ia menyebut merek sebuah produk ayam goreng renyah terkenal) itu mengandung guna-guna setan?" salah seorang dari mereka memulai percakapan.

"O ya? Kok bisa?"

"Ya, karena mereka tidak menyembelih ayam dengan bismillah. Dan biasalah, itu produk kafir anti-Palestina."

Ya Tuhan, lindungilah bangsa dan negara ini!

Kalis Mardiasih menulis opini dan menerjemah. Aktif sebagai periset dan tim media kreatif Jaringan Nasional Gusdurian dalam menyampaikan pesan-pesan toleransi dan kampanye #IndonesiaRumahBersama. Dapat disapa lewat @mardiasih

(mmu/mmu)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed