DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Jumat 15 Desember 2017, 13:30 WIB

Kolom

Di Balik Keseharian yang Biasa-Biasa Saja

Arie Saptaji - detikNews
Di Balik Keseharian yang Biasa-Biasa Saja Arie Saptaji (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta - "Butuh refreshing? Yuk! Rencanain liburan akhir tahun bareng keluarga dari sekarang!"

"Bosan liburan gitu-gitu aja? Coba nih yang lebih greget!"

Iklan sejenis itu lumayan sering bertengger di linimasa medsos belakangan ini. Iklan yang menyebalkan. Menggiurkan, tapi sekaligus menohok perasaan karena, pertama, mengingatkan bahwa hidup keseharian itu, jujur saja, memang lebih sering membosankan, kurang piknik, dan refreshing terdengar seperti mantra yang tepat untuk mengatasinya; kedua, jalan keluar yang ditawarkan itu, setidaknya bagi saya, sulit dijangkau.

Sudah sebal begitu, kok ya bertemu dengan artikel menjengkelkan tentang "hidup yang menarik" ini. Si penulis memaparkan, "Agar Anda dapat memiliki kepribadian yang menarik, pertama-tama Anda harus memiliki dan menjalani kehidupan yang menarik. Yang penuh dengan petualangan, pergaulan luas, pengalaman-pengalaman baru yang unik dan menyenangkan. Anda harus menyukai dan menikmati hidup Anda terlebih dahulu sebelum membuat orang lain tertarik ingin tahu tentang Anda dan kehidupan Anda."

Ternganga mulut saya membacanya, sekaligus jadi baper dan merasa nelangsa. "Betapa muram hidupku ini," pikir saya. Biasa-biasa saja. Tidak menarik.

Apa menariknya coba hidup seorang penulis serabutan seperti saya? Apa indahnya memelototi komputer, bergumul dengan kata, kalimat, dan paragraf di layarnya? Apa dahsyatnya bergulat dengan kebuntuan ide, tapi toh terus main Facebook? Apa asyiknya memaki koneksi internet yang lambat, atau listrik yang tiba-tiba mati? Apa hebatnya berulang-ulang memeriksa saldo rekening, menunggu transferan honor saat tagihan bulanan sudah antre? Pekerjaan sampingan saya —ternak teri alias "anter anak anter istri"— juga tidak mengundang rasa kagum. Siapa yang bakal tertarik ingin tahu dengan kehidupan seperti ini?

Karena itu, betapa terhibur saya ketika menemukan Paterson (Jim Jarmusch, AS, 2016). Film ini menjawab pertanyaan yang sering melintas di benak saya: Apa jadinya film yang menampilkan orang-orang biasa, dengan kejadian yang biasa-biasa pula?

Paterson berkisah tentang Paterson (Adam Driver), seorang sopir bus kota dan sekaligus penyair, melewatkan rutinitas hariannya yang begitu dan begitu lagi di Paterson, New Jersey, AS. Setiap pagi ia bangun, bersiap, berjalan ke tempat kerja, bekerja sebagai sopir bus, rehat makan siang, bekerja lagi, sepulang kerja ngobrol dengan istri, mengajak anjing mereka jalan-jalan, singgah dan ngobrol di bar. Begitu hari demi hari. Nyaris tidak ada rentetan sebab-akibat yang terjalin jadi sebuah kisah; yang ada hanya rangkaian peristiwa keseharian, yang ganjilnya justru menyergap dan memikat perhatian.

Yang istimewa, Paterson tidak memperlakukan kehidupan yang rutin itu sebagai sesuatu yang biasa-biasa saja, melainkankan menyimaknya dengan penuh perhatian, mendengarkan, memperhatikan, dan, di sela-sela rutinitas yang monoton, menorehkan baris-baris puisi. Salah satunya berjudul Love Poem:

We have plenty of matches in our house
We keep them on hand always
Currently our favourite brand
Is Ohio Blue Tip
Though we used to prefer Diamond Brand
That was before we discovered
Ohio Blue Tip matches
They are excellently packaged
Sturdy little boxes
With dark and light blue and white labels
With words lettered
In the shape of a megaphone
As if to say even louder to the world
Here is the most beautiful match in the world
It's one-and-a-half-inch soft pine stem
Capped by a grainy dark purple head
So sober and furious and stubbornly ready
To burst into flame
Lighting, perhaps the cigarette of the woman you love
For the first time
And it was never really the same after that

All this will we give you
That is what you gave me
I become the cigarette and you the match
Or I the match and you the cigarette
Blazing with kisses that smoulder towards heaven

Berangkat dari benda yang bersahaja: kotak korek api —diamati secara cermat bentuknya, batang-batang korek api yang mengisinya, dan nyala apinya, yang mengingatkan pada ciuman yang membara. Hal yang sederhana, yang biasa-biasa saja, yang awalnya tampak tidak menarik, tetapi jika kita mau menyelaminya, nyatanya bisa menjadi puisi yang penuh pesona.

Hidup tampaknya juga begitu. Di balik hal-hal yang tampak biasa-biasa saja, kita dapat menemukan keajaiban, asalkan kita mau memasang mata dan telinga, dan membuka hati.

Masalahnya, kita terlalu biasa dengan hal-hal yang biasa-biasa saja sehingga kita melewatkan keistimewaannya. Karenanya, yang diperlukan tampaknya bukan petualangan yang baru, tempat piknik yang baru, atau teman yang baru. Seperti parafrase tulisan Marcel Proust yang tersohor itu, "Petualangan dan penemuan yang sesungguhnya bukanlah dengan mencari daerah-daerah yang baru, melainkan dengan memiliki mata yang baru, dengan memandang semesta ini melalui mata orang lain."

Mata yang baru itu kadang-kadang muncul dari dunia lain. Melalui mata Diana, misalnya, yang datang dari pulau tersembunyi Themyscira, untuk menyelamatkan dunia ini. Sekalipun ia jagoan, Wonder Woman (Patty Jenkins, 2017) menggambarkannya tergagap-gagap mencoba memahami kehidupan manusia yang baru dikenalnya.

Setelah sukses membebaskan desa Veld, tim Diana merayakannya. Menikmati suasana malam, Diana kian akrab dengan Steve, pemandunya di dunia ini. Steve mengajarinya berdansa. Lalu, salju mulai turun.

"Inikah yang dilakukan orang-orang saat tidak ada perang?" tanya Diana.

"Yeah. Yeah, ini dan hal-hal yang lain," jawab Steve.

"Seperti apa?"

"Um... Mereka sarapan. Mereka suka sekali sarapan. Dan, um, mereka suka beranjak bangun dan membaca koran dan pergi bekerja. Mereka menikah. Punya beberapa anak, menua bersama-sama. Kurasa begitu."

Sayang, kesempatan Diana untuk mengalami "hal-hal yang lain" itu tertunda. Ia mesti menuntaskan misi utamanya: menghabisi Ares, si Dewa Perang

Betapa ingin kita seperti Diana. Menjalani hidup yang penuh dengan kejadian-kejadian dramatis. Menunggu-nunggu kesempatan untuk melakukan perbuatan-perbuatan heroik.

Namun, adegan tadi rasanya menyentil secara halus: Peperangan adalah gangguan; keseharian dengan hal-hal lain yang tampak rutin itu justru merupakan arus utama.

Diana baru bertanya-tanya. Damiel, malaikat dalam Wings of Desire (Wim Wender, 1987) mengingininya dengan sangat. Ia, bersama sekumpulan malaikat lain, sudah bertugas sebagai saksi di seputaran Berlin sejak permulaan sejarah. Ia melihat dan mencatat berbagai perubahan alam dan peristiwa-peristiwa yang membentuk riwayat manusia.

Namun, bukan itu yang membuatnya terpikat pada kehidupan manusia. Malah hal-hal yang remeh. Mencecap kopi. Kena demam. Jari-jari menghitam karena tinta koran. Bersentuhan. Melepaskan sepatu dan menggerak-gerakkan jempol kaki. Berbohong. Mengalami kesekarangan, bukannya kekekalan. Mesti menduga-duga, bukan serbatahu. Justru hal-hal sepele itu yang menggoda Damiel untuk berubah jadi manusia.

Tampaknya Damiel paham: di situlah inti kemanusiaan manusia. Itulah yang membedakan manusia dari malaikat. Dalam pergulatan dengan aktivitas keseharian, tugas remeh, dan pekerjaan kotor yang merupakan bagian tak terpisahkan dari hidup ini, di situlah manusia bertumbuh kian utuh dan kian dewasa.

Kita ditantang untuk menyibakkan dan menemukan makna dan kepuasan hidup di antara belantara keseharian yang biasa-biasa itu. Tidak perlu memaksa diri mengejar petualangan baru. Tidak perlu menunggu peristiwa yang dramatis. Tidak perlu mengharapkan kesempatan yang heroik. Seorang rohaniman, St. Francis de Sales berkata, "Kesempatan besar untuk melayani satu sama lain jarang datang, tetapi kesempatan-kesempatan kecil ada di sekitar kita setiap hari." Kita diundang untuk mengembangkan mata yang peka.

Damiel akhirnya menjadi manusia. Bukannya kesakitan, ia terbelalak takjub ketika mendapati kepalanya berdarah. Dunia yang semula terlihat hitam-putih baginya, kini jadi penuh warna, dan ia mulai mengumpulkan informasi dengan kegairahan seorang anak kecil.

Beberapa waktu kemudian ia bertemu dengan Peter Falk, aktor yang belakang ini diperhatikannya dan tampaknya merasakan kehadirannya. Ia meminta Peter menjelaskan terlebih dulu segala sesuatu tentang hidup sebagai manusia.

Peter mengepalkan tangan dan menjawab, "Kau mesti menemukannya sendiri. Di situlah asyiknya!"

Arie Saptaji penulis serabutan dan peternak teri. Tinggal di Yogyakarta


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed