DetikNews
Kamis 14 Desember 2017, 15:28 WIB

Kolom

S. Sudjojono: Pemilah dan Pemilih

Hanputro Widyono - detikNews
S. Sudjojono: Pemilah dan Pemilih S. Sudjojono (Foto: S. Sudjojono Center)
Jakarta - Seratus tahun lalu, 14 Desember 1917 —menurut kesepakatannya dan Rose Pandanwangi— laki-laki itu diberi nama Soedjiojono, 11 huruf. Ia tak terima. Terlalu panjang, katanya. Ia pun menghilangkan huruf "i" dalam namanya, dan tampil ke muka masyarakat dengan nama Soedjojono.

Memasuki usia dewasa, ia mendapat nama tua Sindoedarsono. Ia tak suka. Dari nama tua ini, ia mengambil huruf "s"-nya saja untuk ditempatkan di awal. Jadilah ia, S. Soedjojono yang kemudian termasyhur sebagai pelopor seni lukis modern Indonesia, yang selalu mencantumkan kode S.S. 101 dalam setiap karyanya. S.S. adalah inisialnya, sedangkan 101 adalah nomor urut murid saat ia diterima di Sekolah Guru "Goenoeng Sari" Lembang.

Memasuki usia kemerdekaan Indonesia yang kedua, 1947, para ahli dan pemikir bahasa Indonesia meresmikan penggunaan Ejaan Suwandi atau Ejaan Republik untuk menggantikan Ejaan van Opphuijsen yang telah berlaku sejak 1901. Akibat pergantian ini, nama Soedjojono pun kembali berubah, menjadi Sudjojono. Ia menurut, disertai sedikit sinisme terhadap orang-orang yang salah mengeja namanya menjadi Sujoyono tatkala Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan resmi diberlakukan pada 1972.

"Nama saya secara tertulis bukan Sujoyono, tetapi S. Sudjojono. Kalau Saudara menulis tentang seseorang, nomor satu tanyakanlah pada orang-orang di sekitar Saudara nama orang itu kalau ditulis bagaimana. Saya bukan benda.... Menulis nama biasanya diserahkan pada orang yang punya nama," tulis Sudjojono di harian Kompas, 26 Januari 1983, untuk menanggapi tulisan seorang staf pengajar Institut Kesenian Jakarta, Arjuna, yang dimuat seminggu sebelumnya.

Dari persoalan nama saja, Sudjojono telah memilah dan memilih sesuai keinginannya. Di buku Cerita tentang Saya dan Orang-orang Sekitar Saya (2017) yang ditulis Sudjojono juga terasa demikian: dipilah dan dipilih. Buku setebal 254 halaman itu dibagi menjadi dua bagian dan dilengkapi dengan foto, gambar sketsa, lukisan, patung, relief, juga keramik garapan Sudjojono.

Pada bagian pertama pembaca dapat menyimak pelbagai hal yang dialami Sudjojono sejak masa kecil sampai usianya menginjak 70 tahun. Persoalan nama, tanggal lahir yang tidak jelas, kehidupan masa kecil di Deli, perjalanan pendidikan, pengabdian menjadi guru, sepak terjang dalam seni lukis Indonesia, kontribusinya dalam revolusi Indonesia, keterlibatan dan pertentangan dengan PKI, dan kisah cintanya bersama Rose Pandanwangi, ia ceritakan semua di bagian pertama. Bagian pertama inilah yang sesungguhnya dapat disebut sebagai otobiografi.

Sedangkan bagian kedua hanya berisi tulisan-tulisan lepas berupa cuilan pemikiran, sambutan, dan catatan tentang orang-orang yang sempat mengisi ruang biografinya. Dua tulisan, dari Bambang Bujono di Tempo dan Arjuna di Kompas, juga dimuat di bagian ini untuk memberi gambaran utuh atas polemik keduanya dengan Sudjojono.

Melalui sudut pandang orang pertama, Sudjojono tampil heroik di buku Cerita tentang Saya dan Orang-orang Sekitar Saya. Kita simak salah satu perkataannya yang mencakup banyak hal dalam otobiografinya:

Saya merasa lambat-laun macam anak itik di antara anak ayam dan induknya. Padahal itik ini bisa memimpin pelukis-pelukis di zaman Belanda di Persagi, di zaman Jepang pelukis-pelukis di Jakarta, dan di zaman revolusi seniman-seniman di Yogya, di Solo, di Madiun. Anak itik tadi bisa memimpin Lasjkar Gerilja musuh Belanda dan bisa menulis tentang seni lukis yang dibaca orang di Indonesia. Teorinya dicatat oleh Clair Holt dalam bukunya Art in Indonesia dan oleh Prof. Galastine di ensiklopedia Winkler Prins, tetapi juga teori tadi diperhatikan oleh pelukis-pelukis macam Chris Broekhuize dan kritikus Dolf Verspoor yang pernah kemari pada hari-hari pertama di zaman revolusi fisik kita.

Pernyataan pilihan berguna untuk mengokohkan ketokohan Sudjojono. Menjadi tokoh itu berarti menjadi teladan. Seorang tokoh mesti berhati-hati dalam bersikap dan bertutur di hadapan awam. Sebisa mungkin, ia tampil sempurna agar tak memberi teladan buruk bagi orang-orang yang memperhatikannya. Kecenderungan itu juga terasa pada buku otobiografi Sudjojono itu.

Di bagian kedua buku Cerita tentang Saya dan Orang-orang Sekitar Saya, pembaca bakal menemukan banyak catatan Sudjojono tentang orang-orang terdekatnya yang telah berpulang. Sudjojono bisa dengan mudah mengenang dan menuliskan kematian bapaknya, tentang Soekarni, Adam Malik, dan Soedibio, tapi melewatkan kematian ibunya, sosok yang pernah ia lukis pada 1935. Ini menyodorkan tanda tanya pada pembaca.

Sudjojono kecil memang tidak bisa lama hidup bersama kedua orangtuanya. Sejak usia 5 tahun, ia terpaksa ngenger pada Pak Tani, teman bapaknya yang tinggal di Tebing Tinggi agar bisa bersekolah. Belum sampai lulus, ia diajak gurunya, Marsoedi Yudhokusumo, untuk ikut pindah ke Batavia dan melanjutkan sekolah di Ardjoena School.

Hidup bersama Yudhokusumo adalah pengalaman ngenger kedua buat Sudjojono. Setelah itu, Sudjojono terus-terusan berpindah sekolah dan tempat tinggal, seperti di Lembang, Yogyakarta, Rojogampi, Solo, dan Jakarta. Pembaca hanya bisa menduga, keterpisahan jarak dalam waktu yang cukup lama bisa membuat rasa kasih-mengasihi anak pada ibu perlahan memudar.

Mia Bustam, mantan istri Sudjojono, dalam buku Dari Kamp ke Kamp (2008) menulis soal detik-detik meninggalnya ibu Sudjojono: Ibu Sindu tidak pernah mengutuk putranya seperti si Malin Kundang. Beliau hanya menderita dan diam. Mas Djon lupa, seorang ibu itu 'malati' lebih dari seorang bapak. Malati artinya bisa membuat orang kuwalat.

Saat dikabari Trubus —rekan sesama pelukis— bahwa ibunya telah meninggal di Yogyakarta, Sudjojono hanya berterima kasih. Ia lebih memilih bertahan di Pasar Minggu, Jakarta ketimbang pergi ke Yogya untuk mengantarkan ibunya ke tempat peristirahatan terakhir. Pembaca pun tak tahu alasannya. Sepertinya memang ada hal-hal yang boleh diketahui awam, namun ada pula hal-hal yang mesti disimpan sendiri oleh Sudjojono.

Hanputro Widyono anggota Karang Taruna Bitaris, Makamhaji, Sukoharjo


(mmu/mmu)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed