DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Kamis 14 Desember 2017, 14:00 WIB

Kolom

Optimalisasi Peran Sektor Pariwisata

Donny Oskaria - detikNews
Optimalisasi Peran Sektor Pariwisata Donny Oskaria (Foto: istimewa)
Jakarta - Pada 2016, devisa pariwisata sudah mencapai 13,5 juta dolar AS per tahun. Hanya kalah dari minyak sawit mentah (CPO) yang sebesar 15,9 juta dolar AS per tahun. Padahal pada 2015 lalu, pariwisata masih ada di peringkat keempat sebagai sektor penyumbang devisa terbesar. Saat itu pariwisata ada di bawah sektor migas sebesar 18,5 juta dolar AS, CPO 16,4 juta dolar AS, dan batubara 14,7 juta dolar AS. Namun akibat jatuhnya harga migas dan batubara, konstelasi sektor penyumbang devisa berubah. CPO menjadi raja, dan pariwisata menyodok ke atas sektor migas dan batubara.

Walhasil, tahun ini sektor pariwisata menjadi salah satu andalan pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla untuk meraup devisa. Meskipun target menjadi sektor penyumbang devisa terbesar sempat ditargetkan pada 2019, namun tanda-tanda itu sudah mulai terlihat pada tahun ini. Bahkan, diperkirakan devisa pariwisata akan melonjak 25 persen pada 2017, sejalan dengan peningkatan jumlah wisatawan asing yang datang ke Indonesia.

Sekalipun demikian, devisa dari sektor pariwisata Indonesia masih kalah jauh dibandingkan devisa pariwisata Thailand. Saat Indonesia meraup devisa dari sektor pariwisata pada 2016 sebesar 11,3 miliar dolar AS dengan tingkat kunjungan wisman sekira 12 jutaan, Thailand membukukan jumlah turis 3 kali lipat, yakni sekira 27-30 juta. Devisa pariwisata Thailand mendekati 50 miliar dolar AS. Jadi secara komparatif, pencapaian pertumbuhan kunjungan wisman yang 25 persen masih butuh dorongan lebih, agar bisa mencapai level yang seusia dengan kapasitas Indonesia.

Selain masalah peningkatan kunjungan wisman, pemerintah harus pula memperjuangkan peningkatan kontribusi investasi pariwisata terhadap tingkat investasi nasional. Karena mau tak mau, peningkatan kunjungan harus dibarengi dengan pembangunan berbagai infrastruktur dan institusi-institusi yang terkait langsung dengan sektor pariwisata untuk mendukung bertumbuhkembangnya pariwisata nasional. Berita baiknya, berdasarkan data dari Badan Koordinasi Penanaman Modal ( BKPM), kontribusi sektor pariwisata terus menunjukkan pertumbuhan.

Pada 2013 tercatat mencapai 602 juta dolar AS atau berkontribusi sebesar 1,45 persen dari total investasi nasional. Kemudian pada Semester I/2017 mencapai 929 juta dollar AS atau 3,67 persen dari total investasi nasional. Sementara itu, hingga 2019 pemerintah menargetkan jumlah wisatawan mancanegara mencapai 20 juta orang per tahun. Dari sektor pariwisata tersebut pemerintah menargetkan jumlah devisa yang dihasilkan mencapai Rp 260 triliun. Dengan kata lain, kontribusi investasi pariwisata terhadap investasi nasional pun harus dilipatgandakan. Bagaimana itu bisa terjadi, tentu sangat bergantung pada kebijakan ekonomi pariwisata nasional yang diambil pemerintah.

Kembali ke soal kunjungan, tahun ini kunjungan wisman ditargetkan mencapai 15 juta orang, lalu sebanyak 18 juta orang pada tahun depan, dan 20 juta pada 2019. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah kunjungan wisman ke Indonesia per September 2017 naik 20,47% dibanding jumlah kunjungan pada September 2016, yaitu dari 1,01 juta kunjungan menjadi 1,21 juta kunjungan. Rata-rata lama menginap tamu asing di Indonesia pada hotel klasifikasi bintang selama September 2017 tercatat sebesar 1,97 hari; naik 0,07 poin jika dibandingkan keadaan September 2016.

Sedangkan selama periode Januari–September 2017 jumlah kunjungan wisman ke Indonesia mencapai 10,46 juta kunjungan, atau naik 25,05% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya yang berjumlah 8,36 juta kunjungan. Pertumbuhan itu melampaui rata-rata ASEAN dan dunia yang hanya 6%. Tidak hanya wisman, kunjungan wisatawan Nusantara (wisnus) juga bakal menggeliat. Pergerakan wisnus ditargetkan naik menjadi 270 juta pada 2018, dibandingkan target tahun ini 265 juta.

Selanjutnya, pada 2019 pergerakan wisnus ditargetkan sebanyak 275 juta orang. Peningkatan jumlah wisnus nampaknya seiring dengan terjadinya perubahan pola konsumsi masyarakat, dari konsumsi barang menjadi pengalaman atau berwisata. Bahkan, sejumlah kalangan menilai Indonesia kini memasuki era ekonomi wisata (leisure economy).

Nah, untuk menjadikan sektor pariwisata sebagai mesin pertumbuhan ekonomi baru, tentunya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Dibutuhkan kerja keras dan strategi jitu agar pariwisata Indonesia semakin diminati wisman maupun wisnus. Kunjungan turis akan meningkat apabila tiga persyaratan terpenuhi, yang disebut Triple A. Pertama, adanya kemudahan akses (accessibility); kedua, ketersediaan fasilitas penunjang yang dibutuhkan turis (amenity); dan, ketiga, banyaknya atraksi yang digelar (attraction).

Untuk mengakselerasi peningkatan kunjungan wisman, dibutuhkan konektivitas udara (air connectivity) dengan menambah penerbangan langsung (direct flight), khususnya dari pasar-pasar Asia-Pasifik ke destinasi-destinasi di luar Bali dan Jakarta. Direct flight ke 10 destinasi prioritas yang sedang dikembangkan perlu diperbanyak. Misalnya, direct flight dari sejumlah negara Asia ke Bandara Silangit, Sumatera Utara, dan ke Bandara Komodo di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur.

Peningkatan akses juga dilakukan di sejumlah pelabuhan yang menjadi pintu masuk turis asing. Kondisi pelabuhan tentu harus bagus, bersih, dan nyaman. Kemudian memperbanyak dermaga dan marina untuk memudahkan kapal-kapal pesiar bersandar di dekat lokasi tujuan wisata. Selain itu, kondisi jalan raya mau tak mau harus pula ditingkatkan agar turis mudah menjangkau lokasi wisata setelah tiba dari bandara maupun pelabuhan.

Selain peningkatan akses, fasilitas yang dibutuhkan turis harus tersedia di lokasi wisata. Agar turis betah dan lebih lama tinggal di Indonesia, harus tersedia banyak hotel dan penginapan bertaraf internasional. Di lokasi wisata juga mesti tersedia banyak toilet yang bersih, toko suvenir, dan restauran yang menyediakan aneka menu makanan lokal dan internasional. Di samping itu, perlu juga dibangun rumah sakit bertaraf internasional di destinasi wisata unggulan untuk menarik minat turis berkantong tebal.

Lebih jauh dari itu, kunjungan turis juga akan ditentukan dari banyaknya atraksi. Makin banyak atraksi yang digelar akan makin banyak turis yang datang. Atraksi yang disuguhkan bisa berupa pertunjukan budaya, wisata olahraga (sport tourism) maupun wisata seni dan musik (music tourism). Contoh event yang bisa mendatangkan wisman adalah balap sepeda yang diikuti oleh pebalap internasional, dan pertunjukan musik yang menghadirkan musisi mancanegara

Sementara dari sisi yang lain, untuk menjadikan pariwisata sebagai sektor andalan penghasil utama devisa dibutuhkan strategi pemasaran dan pengemasan yang lebih baik dari sebelumnya. Promosi potensi pariwisata Indonesia harus terus ditingkatkan, terutama ke negara-negara yang warganya kurang mengenal Indonesia. Promosi yang gencar sangat menentukan dalam upaya mengenalkan potensi wisata Indonesia ke masyarakat internasional.

Kalau kita lihat peluangnya di level regional, Indonesia diperkirakan masih mampu untuk bersaing. Lihat saja data terbaru, kunjungan wisman Asia-Pasifik selama ini memberi sumbangan hingga 42% dari total kunjungan wisman ke Indonesia. Dari 10 negara di Asia-Pasifik, pasar terbesar masih dari Tiongkok, Australia, dan Jepang. Selain tiga negara tersebut, Indonesia berpeluang meningkatkan wisman asal India. Negeri Mahabharata tersebut kini memiliki 200 juta lebih orang kaya yang suka bepergian, namun masih minim yang mengetahui tentang Indonesia.

Maka, tak salah kiranya jika yang dibutuhkan saat ini salah satunya promosi yang agresif untuk menarik lebih banyak lagi wisman asal India untuk datang ke Indonesia. Yang terdekat, saya kira, event olahraga Asian Games 2018 yang berlangsung di Jakarta dan Palembang bisa dimanfaatkan untuk mempromosikan pariwisata Indonesia di level regional. Di Asian Games 2018 akan ada lebih dari 13.000 atlet, dan jika digabung dengan supporter dan official team bisa mencapai 250.000 orang. Mereka bisa dimanfaatkan sebagai trigger dan influencer untuk mempromosikan pariwisata Indonesia ke khalayak yang lebih luas. Semoga.

Donny Oskaria Komisaris Garuda dan Ketua Pokja Pariwisata Nasional KEIN RI


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed