DetikNews
Kamis 14 Desember 2017, 11:48 WIB

Kolom

Dunia Bersatu Membela Palestina

Zuhairi Misrawi - detikNews
Dunia Bersatu Membela Palestina Foto: Denita/detikcom
Jakarta - Kebijakan Donald Trump, Presiden Amerika Serikat memindahkan ibu kota Israel dari Tel Aviv ke Yerusalem menimbulkan kemarahan besar di seantero jagat raya, khususnya di dunia Islam. Gelombang demonstrasi terus digelar di berbagai penjuru negara, baik di Amerika Serikat, Eropa, Arab, dan Asia. Bahkan rencananya, Majelis Ulama Indonesia akan menggelar demonstrasi besar-besaran pada 17 Desember nanti.

Presiden Jokowi mengecam keras kebijakan Trump tersebut, dan langsung memerintahkan Menteri Luar Negeri untuk memanggil Duta Besar Amerika Serikat di Jakarta untuk menyampaikan sikap Indonesia. Presiden Jokowi sejak awal kepemimpinannya sangat konsisten membela Palestina dalam rangka meraih dan mewujudkan kemerdekaannya.

Sikap tersebut kembali ditunjukkan oleh Presiden Jokowi dengan menghadiri pertemuan luar biasa Organisai Kerjasama Negara-negara Islam (OKI) di Turki. Presiden Jokowi bersama-sama dengan 57 negara anggota OKI akan menyatakan sikap untuk membela Palestina.

Donald Trump sepertinya tidak mengkalkulasi dengan tepat dan terukur, bahwa kebijakannya akan menjadikan Amerika Serikat kehilangan wibawa, pengaruh, dan mitranya di berbagai dunia, khususnya di Timur-Tengah. Dunia justru bersatu mengecam kebijakan Trump. Kenapa dunia bersatu menentang kebijakan Trump dan membela Palestina?

Pertama, Palestina merupakan satu-satunya negara yang masih terjajah oleh Israel. Secara de facto, Palestina adalah negara yang sah dan berdaulat, tapi secara de jure Palestina masih belum mendapatkan mandat dari PBB sebagai negara yang merdeka dan berdaulat.

Kemerdekaan Palestina yang terus tertunda itu dikarenakan Israel dan Amerika Serikat sering menghambat terwujudnya hal itu. Alih-alih hendak mengakui kemerdekaan Palestina, Israel dan Amerika Serikat kerapkali melakukan manuver yang ingin menghambat kemerdekaan Palestina.

Retorika solusi dunia negara (two state solution) yang selama ini diprakarsai Amerika Serikat tidak dilakukan secara serius. Bahkan, belakangan ditengarai Donald Trump mulai menginisiasi solusi satu negara untuk menyelesaikan masalah Palestina. Kita pun patut mencurigai jangan-jangan kebjikan Trump untuk memindahkan ibu kota Israel dari Tel Aviv ke Yerusalem merupakan salah satu manuver untuk mewujudkan solusi satu negara, yaitu negara Israel di bumi Palestina.

Maka dari itu, setiap sikap dan kebijakan Amerika Serikat terhadap Palestina harus mendapatkan perhatian serius. Kebijakan Donald Trump akan berakibat fatal bagi kemerdekaan Palestina. Artinya, Amerika Serikat secara implisit sebenarnya ingin menegaskan dirinya tidak setuju dengan kemerdekaan Palestina.

Atas dasar itu, dunia menentang keras kebijakan Trump, karena langkah yang diambil merupakan sebuah kemunduran bagi jalan menuju kemerdekaan Palestina. Padahal, kemerdekaan Palestina merupakan mimpi semua warga Palestina, dunia Islam, dan negara-negara lainnya, terutama Eropa yang belakangan mulai berpihak pada Palestina.

Kedua, Yerusalem merupakan kota suci tiga agama samawi: Yahudi, Kristen, dan Islam. PBB sudah menegaskan bahwa Yerusalem merupakan corpus separatum. Yaitu, wilayah terpisah yang berada di bawah kendali dunia internasional. Artinya, Yerusalem tidak boleh dijadikan sebagai ibu kota Israel.

Di Yerusalem terdapat Tembok Ratapan, Gereja Makam Kristus, dan Masjid al-Aqsa. Bagi agama-agama samawi, Yerusalem merupakan kota suci. Sebab itu, sepanjang sejarah, seluruh pemimpin yang menguasai kawasan itu selalu menjaga kesatuan tiga situs agama-agama tersebut.

Selain itu, Yerusalem Timur merupakan wilayah milik Palestina. Meskipun Israel terus melakukan pendudukan dan membangun pemukiman ilegal di kawasan tersebut, tetapi itu bukan berarti Israel dengan seenaknya terus melakukan manuver untuk mengusai Yerusalem secara total.

Sejak berdiri pada 1948, Israel memang terus melakukan manuver untuk menguasai Yerusalem secara total. Pada 1980, parlemen Israel telah mengeluarkan keputusan untuk menganeksasi Yerusalem. Karenanya, Yerusalem berada di bawah kontrol penuh aparat keamanan Israel. Salah satu manuver gagal yang dilakukan Israel untuk menguasai kawasan suci umat Islam di Yerusalem, yaitu memasang kamera pemindai di pintu masuk Masjid al-Aqsa.

Intinya, Israel terus bermanuver untuk menguasai Yerusalem dengan berbagai cara. Langkah tersebut juga didukung sepenuhnya oleh lobi Yahudi di Amerika Serikat, yang sejak 1995 telah berhasil menggolkan sebuah kebijakan menjadikan Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Kebijakan tersebut yang sekarang dijadikan oleh Trump untuk memindahkan ibu kota Israel dari Tel Aviv ke Yerusalem.

Langkah Amerika Serikat yang terus memaksakan diri untuk menjadikan Yerusalem sebagai ibu kota Israel memang sangat disesalkan. Pasalnya, sikap tersebut hanya menguntungkan pihak Israel, tetapi akan menimbulkan perlawanan dari banyak pihak.

Umat Islam merupakan pihak pertama yang akan menentang kebijakan Trump, karena Masjid al-Aqsa merupakan tempat suci yang mempunyai nilai historis sangat istimewa. Meminjam istilah Erdogan, Yerusalem merupakan garis merah yang tidak bisa disentuh oleh Amerika Serikat dan Israel. Sekali mereka menyentuh Masjid al-Aqsa, maka akan menimbulkan kemarahan dari dunia Islam.

Selain itu, sikap Amerika Serikat dan Israel juga akan menimbulkan protes dari kalangan Kristiani, karena di Yerusalem juga terdapat Makam Gereja Kristus. Umat Kristiani di Palestina menentang keras sikap Trump karena langkah tersebut dianggap sebuah kemunduran, dan dapat mengancam eksistensi situs agama-agama samawi.

Ketiga, kebijakan Trump tentang Yerusalem akan membangunkan kembali sel-sel terorisme yang masih terus mengancam dunia. Langkah ini disadari betul oleh negara-negara Eropa seperti Inggris, Jerman, Prancis, dan Swiss yang secara eksplisit menentang kebijakan Trump.

Isu Palestina merupakan salah satu narasi yang kerap digunakan oleh jaringan teroris global. Ketika ISIS sudah lumpuh, maka seluruh pihak mestinya berupaya untuk tidak memberikan umpan kepada jaringan terorisme global untuk membangkitkan kembali macan tidur.

Atas dasar itu, dunia bersatu padu membela Palestina. Dan, sampai kapan pun isu Palestina akan menjadi utang yang belum terbayar, selama masih terus dijajah dan dipinggirkan. Semoga Amerika Serikat melihat, mendengarkan, dan merespons seluruh aspirasi dunia.

Zuhairi Misrawi intelektual muda Nahdlatul Ulama, analis pemikiran dan politik Timur-Tengah di The Middle East Institute, Jakarta

(mmu/mmu)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed