DetikNews
Rabu 13 Desember 2017, 14:20 WIB

Kolom

Pembangunan, Keluarga, dan Nasib Anak Kita

Arif Yudistira - detikNews
Pembangunan, Keluarga, dan Nasib Anak Kita Ilustrasi: Pascal Campion Art
Jakarta - Pendidikan pada akhirnya tak bisa dilepaskan dari kondisi atau pengaruh yang terjadi di masyarakat kita. Situasi sosial, politik, hingga ekonomi ikut serta membentuk kecenderungan, pola, dan model pendidikan kita. Yang tak kalah penting, lingkungan atau tempat anak-anak kita tumbuh ikut serta memberikan pengaruh dalam proses didaktik anak-anak kita.

Sudah semenjak rezim Orde Baru dimulai, Indonesia menancapkan program pembangunan berkelanjutan. Ide pembangunan didasarkan pada akses, hingga keadilan sosial belum merata. Secara filosofis konsep ini tak salah, tapi begitu sampai dengan tataran praktik, ada banyak yang berubah dari konsep pembangunan. Pembangunan cenderung sebagai sebuah alat untuk menghabiskan anggaran.

Miniatur itu bisa kita lihat dari Jakarta. Apa yang mau dibangun dari Jakarta yang sudah begitu sesak itu? Pada akhirnya kita pun melihat bahwa bongkar pasang, perbaikan jembatan, hingga jalan terus-menerus dilakukan, bahkan membangun gedung yang lebih dan lebih megah lagi seperti rencana pembangunan gedung DPR baru.

Di tataran daerah, otonomi merangsang daerah menjadi kota paling ramai dalam konteks pembangunan. Salah satu yang gencar adalah membawa pergeseran pabrik ke daerah-daerah. Akhirnya, kecenderungan negara kita sebagai negara agraris pun kian tergusur. Tak lagi ada suara bagi konsep agrarian kita. Ke depan, urusan agraria memang tak begitu diperhatikan secara serius dalam hal pendidikan bersifat agraris, hingga siapa pengelola agraria kita. Dampaknya jelas, Fakultas Pertanian makin sepi, sawah-sawah kita minim penggarap, para penyewa tanah banyak diuntungkan. Sementara, pekerja dan buruh tani menjadi semakin miris nasibnya.

Efek lain dari gelombang industrialisasi ke desa-desa adalah mengubah desa-desa menjadi modern. Baik dari tata kelola administrasi hingga urusan pembangunan. Pabrik-pabrik tak perlu lagi rumit mengurus segala macam perizinan; mereka tinggal menanam gedung dan usaha mereka di pinggir desa. Maka kita melihat gelombang migrasi para ibu rumah tangga dari pelosok-pelosok desa pun bergeser ke kota atau wilayah pinggiran kota untuk mengadu nasib menjadi pekerja industri.

Mengapa mereka berbondong-bondong untuk lekas meninggalkan pekerjaan domestik ke wilayah industrial? Mereka merasa pabrik dan kerja industrial lebih menjanjikan secara ekonomi maupun secara finansial. Selain itu, tuntutan ekonomi dan kebutuhan di era sekarang menuntut mereka bekerja bersama. Terlebih bila kita melihat era sekarang, pernikahan dini menjadi gejala yang populer di desa-desa. Umur mereka belum sepenuhnya layak kawin sesuai undang-undang perkawinan. Urusan kualitas dan masa depan keturunan mereka cenderung tak diperhatikan sepenuhnya.

Ketika ayah dan ibu bekerja di luar rumah, maka anak beserta seluruh pekerjaan pengasuhan cenderung dipasrahkan pada induk semang. Biasanya, kalau tidak dari keluarga sendiri, orangtua saat ini cenderung membayar atau menggaji para perawat anak. Ada pula yang kemudian mengambil pilihan pada lembaga pendidikan. Di antara model pengasuhan masyarakat di atas, banyak yang menjatuhkan pilihan mereka pada lembaga pendidikan.

Lembaga pendidikan berbasis setengah hari kini menangkap peluang itu. Banyak taman kanak-kanak yang menerapkan sistem pendidikan setengah hari penuh. Ada perasaan lega saat melihat anak-anak mereka ceria, terurus, dan tak merasa kesulitan dalam penanganan makan dan sebagainya. Pendidikan dengan pola demikian seperti telah menjadi tren dan populer di era sekarang. Meski mahal, orangtua merasa pendidikan seperti itu mampu menjembatani dunia yang berjarak dengan pengasuhan anak-anak.

Ada banyak orang yang ikut serta membentuk dunia pendidikan anak-anak kita. Saat ini, keluarga bukan lagi faktor penentu utama dalam perkembangan dunia pendidikan anak-anak kita. Anak-anak kita sudah sibuk dari masa pendidikan pra sekolah atau PAUD hingga taman kanak-kanak dan pendidikan di tingkat dasar (SD). Selain waktu bersama keluarga menjadi semakin langka, anak-anak kita cenderung dibekali dengan pengetahuan dan keterampilan segudang yang sebenarnya tak layak bagi anak-anak di usia mereka. Potensi stres hingga gangguan psikologis menjadi rentan bagi anak-anak kita.

Anak-anak kelahiran era 90-an masih bisa menikmati sawah, masih bisa bermain di sungai, masih bisa menari bersama di hujan tiba. Kita juga masih menikmati seluruh permainan yang bersinggungan dengan alam. Permainan-permainan itu diciptakan sendiri oleh anak-anak dan dimainkan oleh mereka di alam bebas. Sementara sekarang ini, rumah sudah penuh dengan pagar dan teralis besi, main pun dilarang, jarang berjumpa dengan tetangga.

Di sekolah, permainan mereka tak begitu leluasa. Yang ada mereka dekat dengan play station, gadget, hingga game yang ada di telepon pintar mereka. Selain tak lagi menyentuh alam dan hangatnya udara di desa-desa, kehidupan anak-anak kita seperti padat bak orang dewasa. Ruang dan waktu bermain anak-anak kita pun, akibatnya, demikian tergerus.

Di buku Tindjauan Dalam Ilmu Djiwa Anak-Anak (1952) M.Crijns dan Reksosiswojo menuliskan bahwa dengan permainan itu anak2 bergaul dengan orang lain, mereka beladjar mengindahkan hak2 orang lain, mereka belajar menjesuaikan diri dengan pandangan orang lain jang agak objektif, mereka beladjar menghasilkan sesuatu dengan kerdjasama. Factor-factor itu perlu sekali bagi pendidikan di sekolah.

Beban Belajar

Waktu yang semakin sempit untuk bermain dan mengamati lingkungan sosial membuat mereka semakin tak bisa membaca sepenuhnya tentang dirinya, lingkungannya, dan orang-orang di sekitarnya.

Adi Negoro pernah menulis buku berjudul Ilmu Djiwa Sosial dan Seseorang (1952) yang menekankan tentang pentingnya anak-anak mengenal dirinya. Pada bagian pembuka ia menulis: Gnothi Seauton, dua kata itulah yang tertulis di depan tjandi Apollo di Delphi (Junani) dan sudah ribuan tahun kata jang berhikmat itu menarik perhatian manusia disegala tempat dan disegala zaman. Apa arti kata Junani itu?

Tidak lain dari: "Kenalilah dirimu! Kalau kamu mengenal diri, kamu menguasai dan tidak tunduk pada hawa nafsu, tidak mendjadi budak dari nafsu, sebaliknya kalau kamu tidak mengenal diri, kamu mendjadi budak hawa nafsu dan mendjadi budak orang lain
.

Beban di punggung anak-anak kita perlu kita kurangi. Begitu pula beban akademis otak mereka. Para penerbit buku pelajaran perlu memikirkan produksi kertas yang lebih ringan bagi anak-anak kita. Sekolah perlu membuat iklim belajar yang tak terlampau akademis, tapi berbau permainan dan juga memancing anak-anak kita untuk berpikir.

Era pendidikan mereka (anak-anak kita) memang sudah bergeser jauh. Mereka makin kehilangan waktu untuk bersama keluarga, dan juga kerabat mereka. Di rumah, peran orangtua dalam hal pengasuhan harus mampu menyeimbangkan diri dalam mendampingi perkembangan dan pertumbuhan individual dan sosial mereka. Jangan sampai mereka menjadi anak yang semakin melampaui zamannya; menjadi terlampau cepat dewasa karena beban akademiknya yang begitu menumpuk bak orang dewasa. Bila masa kanak-kanak ini hancur, orangtua pula yang ikut serta menanam kehancurannya di masa mendatang.

Kritik dari masyarakat itu memang harus direspons oleh sekolah-sekolah modern untuk terus berkaca dan terus menata diri demi perkembangan anak-anak kita. Jangan sampai tren pendidikan justru menggerus hal yang substansial dalam perkembangan anak-anak kita. Mereka, anak-anak kita, masih memerlukan bermain, mengembangkan kepekaan individual, dan mengenali lingkungan sosial mereka tak melulu di sekolah.

Arif Yudistira peminat dunia pendidikan dan anak, tuan rumah Pondok Filsafat Solo


(mmu/mmu)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed