DetikNews
Kamis 07 Desember 2017, 15:00 WIB

Kolom

Antagonisasi Sufisme dan Agenda Deradikalisasi

Irfan L. Sarhindi - detikNews
Antagonisasi Sufisme dan Agenda Deradikalisasi Tarekat Naqsabandiyah di Jombang (Foto: Enggran Eko Budianto/detikcom)
Jakarta - Hari Jumat lalu, sekelompok orang bersenjata menembaki dan meledakkan bom di sebuah masjid, 40 kilometer dari El-Arish, ibu kota Sinai Utara, Mesir. Dilaporkan 235 orang meninggal, lebih dari 130 orang luka-luka, termasuk anak-anak. Merespons kejahatan kemanusiaan tersebut, Presiden Mesir menyatakan perang terhadap para ekstremis. Kecaman terhadap kejahatan tersebut muncul dari pelbagai pihak di pelbagai belahan dunia. Dikutip dari Business Standard, Peter Gottschalk menegaskan kalangan sufi memang menjadi sasaran ISIS dan para ekstremis. Alasannya karena sufisme dianggap, secara sederhana, sesat dan menyesatkan.

Hal tersebut "wajar", sebetulnya, mengingat kalangan skripturalis-puritan mendasarkan pemahaman keberislamannya pada penafsiran leterlek terhadap al-Qur'an dan hadist. Apa-apa yang kontekstual mereka anggap berpotensi melenceng. Di sisi lain, sufisme menawarkan kelenturan dialog antara Islam dan budaya. Kelenturan inilah sebetulnya yang membuat sufisme memiliki potensi deradikalisasi sehingga bagi kalangan ekstremis, antagonisasi sufisme itu perlu. Seorang teman SMA saya yang baru hijrah misalnya, kemudian dengan getol mem-posting apa yang dia klaim sebagai "bukti-bukti" kesesatan sufisme.

Padahal, kalau kita melihat kepada sejarah, pujian atas Islam Indonesia yang damai, toleran, dan inklusif dalam banyak hal dipengaruhi oleh perkembangan sufisme. Ada kemiripan antara sinkretisme Jawa dengan Islam-sufistik yang menyebabkan Islam dengan mudah tersebar di Nusantara, yaitu filsafat manunggaling kawula-Gusti yang sebangun dengan paham wahdatul wujud. "Dari-Mu kami berasal, kepada-Mu pula kami kembali (menyatu)". Selain kemiripan tersebut, sufisme menawarkan kelenturan sehingga Islam dapat bersinergi dan berdialog dengan kultur setempat.

Dengan kelenturan itulah kemudian, Indonesia mengenal Islam sebagai agama yang disebarkan secara damai, dengan kultur setempat sebagai media: wayang, gamelan, lagu-lagu. Atau, Islam yang berani "menahan diri" dan "mengalah" demi maslahat umat manusia: studi kasus larangan menyembelih sapi sebagai kurban di Kudus untuk menghormati umat Hindu; atau arsitektur dan ornamen masjid yang mengkombinasikan warisan kultural masyarakat Hindu-Budha. Islam yang mengislamkan tanpa menyuruh para mualaf untuk menghancurkan produk budaya agama sebelumnya: Borobudur dan Prambanan, misalnya.

Islam-sufistik inilah yang kemudian dikultivasi di pesantren-pesantren: lembaga pendidikan Islam tertua dan terbanyak di Indonesia. Itu sebabnya sufisme atau tasawuf amat kental bagi kalangan tradisionalis: muslim sarungan, para santri. Mengaji belum akan membawa berkah jika belum dilengkapi proses penempaan batin ala riyadlah—ber-uzlah merentang jarak dari masyarakat untuk berpuasa dan berzikir, membersihkan hati dan menjemput petunjuk-Nya. Kekentalan tradisi sufisme di pesantren juga dapat dilacak melalui penempaan norma etika dan relasi kiai-santri, dan pembahasan kitab-kitab tasawuf semisal Ihya Ulumuddin dan al-Hikam.

Islam inilah yang menjadi ruh atas ketersenyuman wajah Islam Indonesia; ruh atas Islam sejuk di Tanah Air kita. Islam yang toleran dan moderat. Dan, dengan demikian sufisme dapat diposisikan sebagai (salah satu) tulang punggung kampanye deradikalisasi untuk setidaknya dua alasan. Pertama, seperti yang sudah disinggung di atas, sufisme memiliki kemampuan untuk mensinergikan Islam dengan kultur sehingga memungkinkan terjadinya akulturasi, menjadikan Islam adaptif terhadap konteks ruang dan waktu tanpa menghilangkan esensi dan substansi dari keberislaman itu sendiri.

Dengan demikian, Islam dimengerti tidak sebagai agama yang harus satu paham, tetapi dapat diekspresikan melalui pelbagai jalan-ijtihad. Sufisme melatih kita untuk kemudian menjadi arif atas perbedaan corak itu, dan menempatkan kredo 'keberagaman sebagai rahmat' dari Nabi Muhammad sebagai aturan main dasar. Misalkan, fiqh munakahah dalam Islam yang secara esensi tetap sama di pelbagai daerah di Indonesia tetapi dapat beragam dalam implementasi karena dikolaborasikan dengan budaya setempat: budaya culik mempelai di Lombok, budaya pingitan di Jawa, dan hal-hal seremonial lainnya.

Kedua, yang tidak kalah pentingnya adalah konsepsi jihad sebagai tazkiyatun nafs yang ditawarkan oleh sufisme. Dalam sufisme, jihad tidak diartikan sebagai memerangi orang lain tetapi sebagai proses memerangi nafsu dan kebinatangan diri sendiri; sebagai proses pembersihan diri dan jiwa demi naik kelas menuju maqom "lebih mulia ketimbang Malaikat". Dengan konsepsi ini, yang ditawarkan dan diajarkan sufisme sebetulnya perilaku otokritik dan instrospektif, sikap mau menahan diri, sikap merasa diri masih (selalu) jauh dari salih dan benar. Dalam konteks ini relevan untuk mengutip salah satu pernyataan Cak Nun yang terkenal, "Jangankan menuduh orang lain kafir, menganggap diriku sendiri muslim saja aku tidak berani."

Maka dari itu, tidak heran jika ada usaha antagonisasi sufisme oleh kalangan radikal-puritan. Ketika sufisme berhasil diantagonisasi, disesat-sesatkan, akan lebih mudah bagi mereka untuk membudidayakan Islam-doktriner yang literal. Persoalannya kemudian, dalam tradisi di tarekat dan di pesantren, ajaran yang disampaikan kadang melalui skema 'hafalan' dan transfer satu-arah guru-murid. Tanpa boleh bertanya, tanpa boleh mempertanyakan. Sehingga, tidak mendorong pendalaman dan pemaknaan.

Akibatnya, sebagian dari mereka menjadi sebatas pelaku ritual tanpa mengerti makna, substansi, alasan, dan tujuan dari ritual-ritual tersebut. Alhasil, ketika 'ritual' itu dipertanyakan melalui semangat purifikasi akidah, orang-orang ini kalau tidak kelabakan ya terpengaruh. Berangkat dari sana, menjadi penting untuk mempersenjatai praktik tarekat dan sufisme dengan pendalaman makna, esensi, dan substansi ajaran. Caranya, dengan membangun iklim kondusif bagi critical thinking dan dialog.

Kedua hal tersebut, bagi saya, sama sekali tidak kontradiktif terhadap sufisme. Malah, ia sebangun dengan prinsip experiential learning ala Ibnu Khaldun. Abu Hamid al-Ghazali, sesepuh tasawuf kita, bahkan mengklasifikasi muslim ke dalam tiga kelas. Kelas terbawah adalah muslim pen-taqlid yang sami'na wa atha'na tanpa bertanya, tanpa mengerti. Kelas kedua adalah mereka yang bertanya dan berusaha memahami. Kelas tertinggi hanya milik para Nabi dan Rasul yang mendapat guidance dan bisikan langsung dari Maha Pemilik Ilmu.

Menggarisbawahi kelas terbawah, kelas inilah sebetulnya yang rentan menjadi korban indoktrinasi dan radikalisasi. Oleh sebab itu, mempertimbangkan kualitas sufisme sebagai metode deradikalisasi, alangkah baiknya juga dipersenjatai dengan kemampuan bertanya dan mempertanyakan. Biar sufistik jiwanya, mendalam-mengakar pemahamannya.

Irfan L. Sarhindi pengasuh Salamul Falah, lulusan University College London, associate researcher Akar Rumput Strategic Consulting


(mmu/mmu)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed