DetikNews
Kamis 07 Desember 2017, 10:50 WIB

Kolom

Yaman di Ambang Kehancuran

Zuhairi Misrawi - detikNews
Yaman di Ambang Kehancuran Mantan Presiden Yaman Ali Abdullah Saleh (Foto: REUTERS/Khaled Abdullah)
Jakarta - Kematian Ali Abdullah Saleh, mantan Presiden Yaman yang menjabat selama kurang lebih tiga dekade (1978-2012) dan pemimpin Partai Kongres Rakyat, merupakan sebuah fakta kelabu perihal krisis politik Yaman. Padahal selama ini Saleh dikenal lihai dalam berpolitik. Ia bisa menjadikan lawan sebagai kawan, dan sebaliknya kawan dalam sekejap disulap menjadi lawan. Ia menggambarkan kepemimpinannya di Yaman seperti "menari-nari di atas kepala ular". Penuh risiko, tapi harus pandai menari agar selamat dari cengkeraman ular.

Namun, tariannya telah berakhir. Saleh mengakhiri tariannya di tangan pasukan Ansharullah Houthi. Kematiannya tragis, layaknya Moammar Qaddafi di Libya. Ia dibunuh, lalu mayatnya dipertontonkan kepada publik, disiarkan langsung oleh sejumlah stasiun televisi. Pemimpin yang dikenal otoriter dan diktator itu tak bisa lagi menunda ajalnya.

Sejarah mencatat, Ali Abdullah Saleh adalah sosok yang selalu penuh keberuntungan dalam menjalankan kariernya di politik. Bayangkan, ia bisa bertahan memimpin Yaman selama kurang lebih 33 tahun. Kekayaannya ditaksir mencapai 60 miliar dollar Amerika Serikat yang tersebar di Eropa dan beberapa negara lainnya.

Tidak hanya itu saja, Dewi Fortuna selalu berpihak pada dirinya, padahal dalam revolusi yang bergejolak pada 2011 lalu ia sudah ditembak. Posisinya sudah tersudut. Tapi ia masih bisa menyelamatkan diri. Akhirnya ia lengser memenuhi tuntutan massa pendemo, eksodus ke Arab Saudi dan berobat di sana.

Kisruh politik di Yaman tidak berhenti. Setelah Abdul Hadi Rabbo yang sebelumnya menjabat sebagai Wakil Presiden diangkat sebagai Presiden Yaman, rekonsiliasi dan jalan persatuan mengalami kebuntuan. Abdul Hadi Rabbo sepertinya tunduk pada Arab Saudi, yang menyebabkan faksi Houthi dan beberapa faksi lainnya kecewa dan melakukan perlawanan.

Presiden Abdul Hadi Rabbo dipaksa meninggalkan istana, dan akhirnya faksi Houthi berkoalisi dengan Ali Abdullah Saleh untuk mengendalikan politik di Shan'a. Namun koalisi antara Saleh dan Houthi pecah kongsi setelah Saleh dijanjikan oleh Arab Saudi dan Uni Emirat Arab untuk memimpin Yaman atau memberikan mandat kepada puteranya Ahmad bin Ali Abdullah Saleh yang kini menetap di Abu Dhabi untuk menjadi pemimpin Yaman, dengan catatan pisah ranjang dengan Houthi.

Maka dari itu, pada Ahad (3/12) lalu, Ali Abdullah Saleh seolah-olah menjadi "messiah" bagi krisis politik Yaman. Ia mendeklarasikan perlawanan terhadap Houthi dan berjanji akan mengembalikan Yaman pada situasi di mana ia masih memimpin puluhan tahun yang lalu. Ia pun melakukan penyerangan terhadap kantong-kantong Houthi di Shan'a.

Namun, sekali lagi, euforia Ali Abdullah Saleh tidak berlangsung lama. Sehari setelahnya, Senin (4), ia dikabarkan tewas di tangan pasukan Houthi. Pemimpin Houthi dalam pidatonya di stasiun televisi al-Masirah menyebut kematian Saleh sebagai peristiwa bersejarah dan berakhirnya sang pengkhianat. Namun pertanyaannya, bagaimana nasib Yaman pasca tewasnya Ali Abdullah Saleh?

Pertama, sudah hampir bisa dipastikan Yaman akan berada dalam ketidakpastian politik, yang akan menyebabkan Yaman berada di ambang kehancuran. Yaman akan menjadi negara gagal, seperti Sudan dan negara-negara Afrika yang terjerembab dalam konflik di antara sesama warga.

Kematian Saleh telah membangkitkan perlawanan dari kubu Partai Kongres Rakyat. Putera Saleh, Ahmad, yang saat ini menetap di Abu Dhabi dikabarkan akan segera kembali ke Shan'a untuk memimpin langsung perlawanan terhadap Houthi. Itu artinya, rekonsiliasi dan persatuan bagi Yaman hanya akan menjadi mimpi belaka, bahkan isapan jempol, jauh api dari panggangnya.

Padahal Yaman saat ini membutuhkan rekonsiliasi dan persatuan nasional untuk memulihkan situasi agar lebih kondusif. Semua pihak harus meletakkan senjata dan beranjak ke meja perundingan untuk menyelesaikan konflik politik yang berlarut-larut. Mau tidak mau, Yaman harus membuat konstitusi baru yang mencerminkan keadilan dan kesetaraan, serta menggelar pemilu untuk memilih pemimpin yang sah.

Kedua, harus diakui Houthi akan semakin kokoh pasca tewasnya Saleh. Kematian Saleh merupakan kekalahan dan kehilangan besar bagi Partai Kongres Rakyat. Puteranya yang akan menggantikan posisi Saleh diragukan banyak pihak akan mampu mengkonsolidasikan barisan yang dulu dipimpin ayahnya.

Apalagi Houthi sekarang semakin solid dan mempunyai persenjataan yang relatif kuat, karena selama ini mendapatkan senjata dari gudang yang dikendalikan oleh Ali Abdullah Saleh. Banyak pihak yang menyatakan, ketika Saleh berkoalisi dengan Houthi dan ia memberikan akses persenjataan kepada Houthi, maka di situlah sebenarnya Saleh sudah kehilangan kekuatannya. Saat Saleh berbalik melawan Houthi, ia tidak punya kekuatan lagi, dan seluruh rahasia kekuatannya di tangan Houthi. Makanya, ia terperangkap dan tidak bisa berbuat apa-apa di saat hendak melarikan diri dari Shan'a.

Ketiga, Arab Saudi yang selama ini melakukan gempuran ke basis Houthi di Shan'a harus berpikir ulang. Skenario untuk menggunakan militer dalam menggempur Houthi hanya akan meninggalkan luka dan krisis yang berkepanjangan bagi Yaman. Sudah dua tahun Arab Saudi menggempur Houthi, tapi hasilnya nihil, bahkan membuat Yaman semakin terpuruk. Sementara Houthi terus solid dan kokoh.

Sejujurnya, Arab Saudi merupakan faktor pemecahbelah di Yaman. Selama ini Arab Saudi sering menuduh Iran melakukan intervensi urusan dalam negeri Yaman. Padahal yang terjadi justru sebaliknya, Arab Saudi yang justru bertahun-tahun memecahbelah Yaman dengan narasi politik konflik Sunni-Syiah antara Yaman Selatan dan Yaman Utara.

Bahkan sejak tahun 2015 lalu, Muhammad bin Salman (MBS) telah melakukan serangan militer besar-besarnya ke basis Houthi di Yaman, yang menyebabkan kematian, kelaparan, wabah penyakit, dan kemiskinan bagi Yaman.

Arab Saudi mempunyai mimpi yang sangat tidak realistis, yaitu membuminguskan Houthi dari Yaman. Padahal Houthi merupakan salah satu kekuatan besar di Yaman Utara dan mempunyai pasukan terlatih yang sudah terbukti mampu melakukan perlawanan. Bayangkan, sejak digempur 2015 lalu, Houthi masih terus bertahan. Apalagi setelah berhasil menewaskan Saleh, popularitas Houthi terus menanjak.

Akhirnya, perang dan konflik tidak akan pernah menyelesaikan masalah. Yaman sesegera mungkin keluar dari spiral konflik. Arab Saudi harus keluar dari Yaman, dan memberikan sepenuhnya kedaulatan politik kepada seluruh faksi di Yaman untuk menentukan nasib dan masa depan mereka. Hanya dengan cara itu, Yaman bisa selamat dari ancaman kehancuran, karena hakikatnya yang menentukan masa depan Yaman adalah warga Yaman, bukan Arab Saudi.

Zuhairi Misrawi intelektual muda Nahdlatul Ulama, analis pemikiran dan politik Timur-Tengah, The Middle East Institute, Jakarta


(mmu/mmu)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed