DetikNews
Senin 04 Desember 2017, 12:46 WIB

Kolom

Manuver Kubu Khofifah-Emil Jelang Pilgub Jatim

Wardi Taufiq - detikNews
Manuver Kubu Khofifah-Emil Jelang Pilgub Jatim Wardi Taufiq (Foto: istimewa)
Jakarta - Setelah melalui proses lobi dan safari politik yang cukup melelahkan, akhirnya Khofifah Indar Parawansa memastikan diri sebagai Calon Gubernur Jatim berpasangan dengan Bupati Trenggalek Emil E. Dardak. Pasangan Khofifah-Emil secara resmi diusung oleh Partai Demokrat (13 Kursi) dan Partai Golkar (11 Kursi). Sebelumnya, Partai Nasdem (4 Kursi), PPP (5 Kursi), Hanura (2 Kursi) juga sudah menyatakan kesiapannya mendukung Menteri Sosial tersebut untuk menjadi lawan tangguh bagi pasangan Saifullah Yusuf-Azwar Anas pada Pilgub Jatim 2018.

Menyatunya Khofifah dan Emil E. Dardak sebagai pasangan bakal cagub-cawagub Jatim tak bisa dilepaskan dari peran para kiai yang tergabung dalam Tim 9 yang dibentuk pertengahan bulan lalu (15/11/2017) di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang. Anggota Tim 9 tersebut di antaranya KH. Solahuddin Wahid (Gus Solah), KH. Afifuddin Muhajir Sibubondo, KH. Sayuti Thoha Banyuwangi, KH. Fathoni Tulung Agung, dan KH Asep Saefuddin Chalim Mojokerto.

Ada banyak manuver politik menarik yang menyertai deklarasi pasangan Khofifah-Emil. Pertama, sosok Emil E. Dardak yang masih berstatus kader PDIP tiba-tiba bersedia mendampingi Khofifah. Ini menandakan, road show politik para kiai yang tergabung dalam Tim 9 betul-betul bekerja. Kegigihan para kiai ini diprediksi akan terus menggrogoti suara Saifullah Yusuf-Azwar Anas di basis Islam tradisional.

Kedua, terkait deklarasi resmi pasangan tersebut yang mengambil tempat di rumah Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Deklarasi itu jelas manuver politik yang tidak biasa, yang bukan hanya karena sosok SBY dan kiai yang tergabung dalam Tim 9 tapi juga kehadiran Soekarwo selaku Gubernur saat ini. Manuver tersebut juga jelas mengacaukan basis dukungan Saifullah Yusuf-Azwar Anas, dan bahkan telah membelah basis Karsa (Soekarwo-Saifullah Yusuf) yang selama ini tertata rapi selama dua periode Pilgub.

Serangkaian manuver politik kubu Khofifah-Emil menjadi sentakan politik yang mengagetkan bagi PDIP, bahkan beberapa elit PDIP geram dan marah. Secara bergantian, elit PDIP merespons manuver politik tersebut dengan nada dan sikap yang tidak senang kepada Emil, dan tentu juga pada SBY yang dinilai mengumbar sikap politik yang kurang etis. SBY dianggap menerapkan strategi politik outsourcing. Bahkan, sebagian elit PDIP "menuduh" SBY membajak kader partai berlambang banteng tersebut. Dengan rangkaian manuver politik itu, pertarungan politik di Jatim akan semakin sengit karena melibatkan dua tokoh besar, yaitu Megawati dan SBY.

Pastinya, pasangan Khofifah-Emil berambisi menyatukan dua lempengan besar basis dukungan politik, yaitu basis Islam dan basis nasionalis. Khofifah yang tumbuh besar di tlatah arek (Surabaya dan sekitarnya), dan kini Ketua Muslimat NU tak tergantikan --yang memiliki basis kuat merata di Jatim, baik di Madura maupun di Tapal Kuda-tlatah Pandalungan (Pasuruan bagian timur, Situbondo, Probolinggo, Bondowoso, Jember, dan Lumajang)-- akan dilengkapi Emil yang memiliki basis kuat di wilayah Mataraman (Ngawi, Nganjuk, Tulungagung, Kediri, Trenggalek, Pacitan, Madiun, Bojonegoro) yang merupakan lumbung suara Soekarwo dalam dua Pilgub sebelumnya.

Kubu Khofifah juga berkeyakinan, dengan kesediaan Emil E. Dardak berpasangan dengan Khofifah semakin melengkapi kekurangan Menteri Sosial tersebut. Kehadiran Email yang masih muda, seorang doktor ekonomi berprestasi, diyakini akan mampu mendulang suara kaum muda dan generasi milenial. Jika sebelumnya suara mereka diprediksi akan tersedot ke Azwar Anas sebagai cawagub Saifullah Yusuf, tapi kini dipastikan akan tergalaukan dengan kehadiran Emil E. Dardak.

Jika dilihat dari dukungan parpol, dukungan Partai Demokrat, Golkar, Nasdem, Hanura dan PPP tentu akan semakin memperkuat Khofifah-Emil di basis masing-masing. Jika Demokrat, Golkar, Nasdem, dan Hanura akan mempertebal garis dukungan di basis nasionalis maka PPP melalui tokoh-tokoh lokalnya akan mempertebal dukungan pasangan tersebut di basis-basis Islam terutama di kalangan yang berkultur pesantren, baik di perkotaan maupun di perdesaan.

Namun demikian, pasangan Khofifah-Emil bukan berhadapan dengan lawan enteng. Meskipun tipis, pasangan Saifullah Yusuf-Azwar Anas masih diunggulkan oleh beberapa lembaga survei nasional. Saifullah Yusuf yang kini masih menjabat sebagai wakil Gubernur Jatim telah lama menyebar jala politik ke berbagai penjuru di Jatim. Kiai-kiai berpengaruh, terutama di Tapal Kuda dan Madura juga tidak sedikit yang siap memenangkannya.

Selain di lini kiai, pasangan Saifullah Yusuf-Azwar Anas juga memiliki mesin politik yang tidak kalah dahsyat di barisan muda nahdliyyin. Saifulllah Yusuf sebagai mantan Ketua Umum GP Ansor akan lebih mudah melakukan konsolidasi politik. Apalagi Ketua Umum GP Ansor saat ini, Gus Yaqut, seorang politisi PKB, pengusung pasangan Saifullah Yusuf-Azwar Anas.

Memang, GP Ansor tak akan sesolid Muslimat NU yang pilihan politiknya sulit dipengaruhi, meskipun oleh suaminya sendiri. Fakta lapangan, tubuh politik Ansor diam-diam masih terbagi kepada Gus Yaqut dan Nusron Wahid (Ketum Ansor sebelumnya), politisi Golkar yang saat ini juga all out memenangkan pasangan Khofifah-Emil.

Sosok Azwar Anas sebagai cawagub Saifullah Yusuf juga tidak kalah hebat. Azwar Anas adalah mantan Ketua Umum IPNU, pernah tercatat sebagai anggota MPR termuda. Dan, saat ini menjabat Bupati Banyuwangi (2 Periode), salah satu bupati paling berprestasi di Tanah Air. Track record-nya sudah banyak diketahui publik. Bahkan, kehadiran Anas diprediksi bisa mencuri basis suara Khofifah, terutama di Banyuwangi dan Madura bagian timur.

Masalahnya cuma satu, basis utama dukungan Anas berada di lempengan yang sama dengan Saifullah Yusuf, yaitu basis Islam (nahdliyyin). Namun demikian, kekurangan Anas diuntungkan oleh sosoknya sebagai kader PDIP, yang sekaligus mengusungnya untuk berpasangan dengan Saifullah Yusuf yang diusung PKB. Nah, di situlah kehadiran Anas akan berpotensi menyedot suara Khofifah-Emil dari dua lempengan sekaligus.

Memang, pasangan Khofifah-Emil perlu bekerja maksimal untuk mengalahkan pasangan Saifullah Yusuf-Azwar Anas. Kita tahu, pasangan Saifullah Yusuf-Azwar Anas diusung oleh dua partai terkuat di Jatim dengan masing-masing berbasis massa ideologis, yaitu PKB dan PDIP.

PKB yang berbasis massa Islam (nahdliyyin), dan PDIP yang berbasis masyarakat nasionalis sekaligus partai penguasa saat ini, adalah perpaduan yang mahadahsyat untuk lokus Jawa Timur. Jika politik struktural dan kultural dipadukan sepertinya sulit untuk dibendung oleh kekuatan mana pun. Dengan pandangan simpel ini tentu menarik untuk dianalisis secara lebih detail agar lebih terang benderang, siapa yang akan keluar sebagai pemenang.

Wardi Taufiq alumnus Pascasarjana Ilmu Politik UI dan analis isu-isu politik


(mmu/mmu)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed