DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Kamis 30 November 2017, 12:00 WIB

Kolom: Obituari

Bondan Winarno, dari Masakan Jasmani ke Percakapan Rohani

Candra Malik - detikNews
Bondan Winarno, dari Masakan Jasmani ke Percakapan Rohani Ilustrasi: Mindra Purnomo/detikcom
Jakarta - Pak Bondan adalah teman baik bagi saya, bahkan salah seorang yang terbaik. Walau saya bukan teman baik baginya. Saya tak seberuntung teman-teman lain yang lebih dulu dan lebih komplet mengenalnya. Saya tak mengenal Pak Bondan yang pramuka, cerpenis, peterjun payung, jurnalis andal, dan pendiri Jalansutra. Saya adalah laki-laki penjaga kafe yang terkejut mendadak didatangi host program kuliner tivi swasta yang populer dengan slogan "maknyus" itu.

Duduk menghadap sepiring klappertaart, mencicipnya sedikit, lalu Pak Bondan pun berseru, "Top markotop!" di depan sorot kamera tivi. Seluruh karyawan Kafe Priyayi Keprabon di Solo yang kami kelola sudah teramat bangga dikunjungi Pak Bondan. Apalagi, kemudian kafe kami menjadi satu di antara resto, kafe, dan warung yang disiarkan dalam program kulinernya. Tak ada pikiran, Pak Bondan akan datang lagi ke kafe kami pada hari lain setelah itu.

Namun, ternyata Pak Bondan diam-diam mencatat akun @CandraMalik milik saya dan mengikutinya. Sampai suatu ketika ia mengatakan sangat menyukai kultwit saya tentang mimpi dan meditasi. Suatu siang, tiba-tiba Pak Bondan muncul lagi ke kafe kami seusai bertemu Mas Blontank Poer yang sedang mulai merintis bisnis teh. Pada Pak Bondan saya bilang, "Kami pun sudah ngobrol soal Teh Pokil-nya. Saya usul, sebaiknya dinamai Blontea saja."

Saya lupa tahunnya, mungkin 2010 atau 2011. Itu tahun-tahun ketika saya beralih profesi dari jurnalis ke penjaja kopi. Meski baru kenal, Pak Bondan langsung menunjukkan keramahan dan keakraban layaknya kami sudah berteman lama. Darinya pula, saya mengenal kopi Aroma dari Bandung. "Lain kali, saya main ke rumah ya," begitu Pak Bondan bilang. Beberapa bulan kemudian, tiba-tiba ia sudah tiba di depan di rumah kami di Sukoharjo. Sendirian, naik taksi.

Bulan-bulan sesudahnya, obrolan tak lagi mengenai teh, kopi, dan bisnis kuliner. Pak Bondan kaget mendengar saya dan keluarga akan kembali tinggal di Depok, selatan Jakarta. Padanya, saya ceritakan soal rencana banting setir secara frontal: berdakwah dengan kesenian. Pak Bondan adalah orang pertama yang menerima dan mendengarkan saya memaparkan hal-hal teknis tentang Kidung Sufi, album perdana saya. Ia khidmat, dan mencatat.

Kami berjanji ketemu di Senayan City. Ia memilih anggur terbaik sebelum mulai mendengar. Saya bercerita seluruh rinci latar belakang saya yang tidak tahu apa pun soal musik, tidak bisa menyanyi, dan tidak mampu bermain instrumen musik, tapi berani-beraninya akan rekaman dan merilis album. Tanpa bertanya apa pun soal transparansi dan tetek bengek lain, Pak Bondan langsung menyokong dana dan membuka jaringannya untuk saya.

Di antara lagu-lagu dalam Kidung Sufi, Pak Bondan paling suka pada Syahadat Cinta dan Shirathal Mustaqim. Ia sangat menginginkan kedamaian dalam hidup bermasyarakat dan beragama. Sehingga ketika menemukan spiritualitas dalam album religi saya, Pak Bondan pun total membantu. Ia juga yang menghubungkan saya dengan Mas Addie MS. Berkat Pak Bondan, Mas Addie dan Twilite Orchestra menggarap lagu Shirathal Mustaqim.

Pak Bondanlah yang mengawal proses kreatif saya sampai album rilis, membantu saya pula mendapat sponsor tetap untuk berkonser. Pelan tapi pasti, barulah ia melepaskan peran teramat pentingnya itu dari saya. Tema obrolan kami pada temu-temu selanjutnya beralih pada satu hal spesifik: spiritual. Pak Bondan yang saya kenal adalah seorang Jawa yang tulen, yang memahami keilmuwan dan kearifan leluhurnya dengan sangat baik.

Bersama sejumlah teman, antara lain Mas Didi Nugrahadi, Mas Heru Hendratmoko, Mas Santo Aboeprajitno, dan Mas Wasis Gunarto, kami lumayan rutin berkumpul waktu itu. Suatu ketika, Pak Bondan pun mengundang kami ke rumahnya di Sentul City dan memasak untuk kami. Di rumah ini pula, saya ikut menyambut jenazahnya, Kamis siang kemarin. Ia telah berpulang pada Sang Khalik di usia 67 tahun setelah dirawat di RS Harapan Kita, Jakarta.

Perkumpulan kami, jika memang bisa disebut perkumpulan, tidak membeda-bedakan agama dan keyakinan. Malam-malam ketika kami masih bisa saling menyempatkan waktu untuk berkumpul, kami bicara spiritualitas dari pandangan, pengetahuan, dan pengalaman masing-masing. Pak Bondan sangat antusias dengan paparan sufisme. Ia terutama menyukai kajian soal hati, jiwa, dan roh. Pak Bondan ternyata pejalan sunyi.

Kami menyukai perspektif kebudayaan di dalam memandang keberagaman dalam keberagamaan. Dengan demikian, kami bisa belajar memandang kemanusiaan secara lebih utuh dengan kearifan leluhur, yaitu "di mana bumi dipijak, di sana langit dijunjung". Namun, Pak Bondan kini telah tiada. Kami, atau setidaknya saya, sangat merindu obrolan-obrolan seru itu, yang berlangsung ketika lini masa masih asyik untuk bertegur sapa dan berteman karib.

Selamat jalan, Pak Bondan! Terima kasih telah hadir dalam kehidupan kami. Kini, beristirahatlah dengan tenang. Damai di bumi, damai di hati. Petuah-petuahmu pada saya niscaya akan selalu hidup dan tak lekang oleh waktu. Sesekali semoga saya bisa mampir ke kedai Kopi Oey di Sabang. Menikmati secangkir kopi dan merajut kenangan percakapan rohaniah kita yang sama mengagumi sosok Sunan Kalijaga, yang hangat dan merakyat.

Candra Malik budayawan sufi


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed