DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Rabu 29 November 2017, 14:00 WIB

Kolom

Film 'Naura', Pendidikan Anak, dan Tanggung Jawab Kita

Annisa Steviani - detikNews
Film Naura, Pendidikan Anak, dan Tanggung Jawab Kita Annisa Steviani (Foto: istimewa)
Jakarta - Dua minggu belakangan, para orangtua di Tanah Air diresahkan oleh film Naura dan Genk Juara. Bukan, bukan karena penulisan 'genk' yang tidak sesuai dengan apa yang tertera di Kamus Besar Bahasa Indonesia. Tapi, karena film tersebut dianggap melecehkan agama, dan dinilai memberi pesan negatif tentang Islam pada anak-anak.

Saya sendiri tahu dari mana lagi selain dari chat yang disalin dari "grup sebelah" tentang seorang ibu yang menonton film itu bersama anaknya berusia 8 tahun. Konon, si anak terus-menerus bertanya sepanjang film --saya salin apa adanya, "Ma, itu orang itu islam tapi kok jahat tapi kok pencuri, gimana sih?"

Tak lama cerita dari grup ke grup itu "berkembang" di sana-sini, jadi entah seperti apa cerita aslinya. Dalam satu hari saja saya mendapat dua broadcast yang sejenis tapi berbeda pemilihan kata-katanya. Ya, tipikal broadcast WhatsApp lah.

Seketika seruan boikot pun langsung heboh di dunia maya. Belum lagi si tokoh utama memakai celana supermini dan penjahatnya berjenggot. Film ini dianggap menyakiti umat Islam, tidak layak anak, dan harus dihentikan penayangannya. Petisi penolakan yang ditujukan pada Ketua dan Wakil Ketua DPR pun hingga kini sudah ditandatangani oleh lebih dari 52 ribu orang dari target 75 ribu.

Penolakan dengan dalih demi generasi muda ini tentu bukan pertama kali. Awal bulan ini para orangtua heboh dengan fitur berbagi konten bergerak GIF di WhatsApp yang konon bisa memunculkan adegan seks bila dicari dengan kata kunci yang berbau seksual. Seruan untuk pemerintah turut bertanggung jawab dengan memblokir WhatsApp pun gencar digaungkan sana-sini.

Mereka terhenyak karena konten porno kok dengan mudah bisa diakses anak? Pemerintah harus melarang! Padahal fitur GIF itu sudah muncul setahun yang lalu, tapi banyak yang mengaku baru tahu kemarin saat sudah diributkan di sana-sini. Orangtua yang gagap teknologi, tapi pemerintah yang diminta pertanggungjawabannya untuk blokir. Ke mana saja, Bu, Pak?

Menurut detikInet, sejak 2015 hingga Agustus 2017 Kementerian Komunikasi dan Informatika sudah memblokir lebih dari 800 ribu situs yang dianggap bermuatan negatif seperti pornografi, SARA, dan terorisme. Nantinya, di Indonesia akan tersisa situs-situs positif yang layak diakses dan mendidik untuk anak. Apakah efektif? Karena dengan sedikit usaha, konten yang terblokir internet sehat masih bisa terbuka bebas. Tidak perlu tanya caranya, yang jelas muncul satu pertanyaan: sampai kapan mau menutup dunia pada anak?

Katanya film tak mendidik merusak moral, dan pornografi merusak generasi muda. Seharusnya kita malu bicara ingin selamatkan generasi muda jika menjelaskan pada anak kenapa penjahat baca doa saja kita tidak mampu. Malah berusaha menutup aksesnya, bukan jadi celah untuk menjelaskan bahwa dunia ini tidak selamanya akan baik-baik saja.

Jika telanjur nonton film Naura dan merasa tidak sepakat soal pemahaman pada Islam yang ingin diketahui anak, tandanya film itu justru memberi kesempatan untuk memberi pandangan bahwa orang tidak selamanya baik meski mengaku beragama Islam. Contohnya kan banyak, misal dua mantan Menteri Agama, Suryadharma Ali dan Said Agil Husin Al Munawar yang terjerat kasus korupsi. Atau, Andika Surachman dan Anniesa Hasibuan yang jelas-jelas menipu jamaah umrah hingga mencapai Rp 1 triliun.

Sementara, pendidikan tentang seks sudah bisa diberikan sejak anak masih balita dan bertahap hingga ia dewasa. Dimulai dari saat ia pertama kali mengenal kemaluannya; saat ia pertama kali bertanya, dari mana bayi lahir, kenapa ibu perempuan dan ayah laki-laki. Tapi, kenyataannya bicara kemaluan dalam diksi sebenarnya seperti penis atau vagina saja orang Indonesia yang sopan-sopan ini rikuh. Begitu anak mencari tahu soal seks dari tempat lain, pemerintah yang disalahkan, kenapa sih tidak diblokir?

Kita tidak bisa mengandalkan orang lain untuk bicara seks pada anak, karena orang lain belum tentu punya nilai yang sama seperti apa yang ingin kita terapkan pada anak. Film dan akses internet dibatasi, tentu tidak menjamin keingintahuan anak juga jadi terbatasi. Jika sampai waktunya nanti anak tahu sendiri soal mimpi basah atau masturbasi, apa orangtua mau meminta tanggung jawab pemerintah? Hal-hal seperti itu kan natural, lebih baik dibicarakan sebelum terjadi, bukannya malah menghindar — mau menghindar sampai kapan?

Kita tidak akan pernah bisa mengatur dunia agar tetap sempurna secara moral seperti yang kita anut. Dunia terlalu luas untuk dibuat sepakat. Sadarkan diri bahwa orangtua yang harus jadi benteng pertama pertahanan moral, bukan orang lain, bukan guru di sekolah, apalagi pemerintah. Anak kita, tanggung jawab kita.

Annisa Steviani ibu bekerja dengan satu anak. Bisa dicolek di akun Twitter @annisast


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed