DetikNews
Jumat 24 November 2017, 15:50 WIB

Kolom

Hidung Pesek dan Lain-Lain

Candra Malik - detikNews
Hidung Pesek dan Lain-Lain Candra Malik (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta - Hidung pesek? Saya tidak akan ngobrol soal itu. Lagi pula, apalah guna hidung jika tanpa napas? Lebih baik bicara mengenai mengapa kita baru sadar memiliki hidung ketika mengalami mimisan, ingusan, atau persoalan lain. Kalau sudah bersin-bersin, flu berat sampai hidung merah, baru kita merasa betapa pentingnya hidung —dan betapa mengganggu keadaan buruk itu.

Wah, apalagi kalau ada jerawat tumbuh di pucuk hidung, perempuan paham benar bagaimana rasanya. Jika itu semua, atau salah satu saja, terjadi maka kita tentunya akan bercermin. Melihat diri sendiri. Lebih mencermati lagi kekurangan-kekurangan dan keterbatasan-keterbatasan kita. Ada yang berhasil bersyukur, ada yang justru mulai berpikir hidungnya perlu dioperasi.

Hidup memang bukan soal ukuran fisik, namun diakui atau tidak, panca indera hanya sanggup menangkap objek yang kasat. Ketika berbicara soal kecantikan dari dalam, kita tidak lagi bisa memakai mata untuk melihat. Kita menggunakan hati untuk melihat kedalaman. Tanpa itu, kita cenderung memberi penilaian awam dan dangkal untuk kesan pertama.

Kita melihat orang dari pencirian fisik, tinggi-pendek dan gemuk-kurus badan, mancung-pesek hidung, tembem-tirus wajah, besar-kecil dada, dan lain-lain, yang semua bersifat jasmaniah. Padahal, manusia terdiri atas dua badan: jasmani dan ruhani. Wudhu, contohnya, hanya akan dipahami mensucikan jasmani jika kita belum mengenal badan ruhani.

Padahal, yang tidak tampak belum tentu tidak ada. Kita saja yang tidak atau belum sanggup mengaksesnya. Kita baru bisa melihat hidung dari pesek dan mancung, dari kasatnya belaka. Belum bisa melihat apakah dari pipa pernapasan itu keluar-masuk zikir "Allahu" di tiap hela. Mereka yang mencibir Gus Dur "buta" pun tak tahu ia bahkan lebih jernih dalam "melihat".

Dalam Q.S. At-Tin ayat 4-5 difirmankan, "Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam sebaik-baik bentuk. Lalu, Kami kembalikan ia ke derajat serendah-rendahnya." Menilik kedua ayat ini, kita bisa belajar betapa mengagumi bentuk fisik yang bagus itu baik, namun jangan sampai kita terperosok ke lembah hina karena mengejek bentuk fisik orang lain.

Tentu, ada makna yang lebih mendalam pada ayat itu dari sekadar membahas soal hidung pesek atau mancung. Di lanjutan firman, ayat 6, disebutkan, manusia akan dijatuhkan ke derajat hina kecuali mereka beriman dan beramal saleh. Bahkan, bagi orang-orang ini, pahala yang tiada putus. Tapi, dalam soal hidung, bagaimana cara kita untuk beriman dan beramal saleh?

Mari kita bahas. Pertama, sadari hidung dan anggota badan lain adalah karunia Allah. Selain menunjukkan kita beriman kepada-Nya, kesadaran ini membimbing pada rasa syukur. Kedua, sadari fungsi hidung dan anggota badan lain. Hidung untuk saluran pernapasan dan indera penciuman. Hidungmu masih bisa untuk bernapas dan mengendus? Alhamdulillah.

Sering, kita baru menyadari pentingnya fungsi setelah disfungsi. Jika mengalami sulit, sempit, sakit, dan sedih baru kita meratap. Ketika masih berada di masa-masa mudah, leluasa, sehat, dan suka kita cenderung lupa diri. Mengolok-olok hidung orang lain seolah-olah lupa kelak hidung siapapun disumbat kapas ketika tak lagi bisa digunakan bernapas.

Nah, yang ketiga, sadari adanya fungsi yang lebih utama dari penciptaan hidung dan anggota badan lainnya, yaitu untuk senantiasa digunakan memuji nama Allah. Sebagai pipa pernapasan, hidung layak digunakan untuk meletakkan zikir. Yaitu, dengan menzikirkan "Allahu" pada tiap helaannya. Tarik napas, "Huu," kemudian embus napas, "Allaah," begitu seterusnya.

Keempat, ya selama masih ada hidung, dan hidungmu masih hidup, gunakanlah untuk beramal saleh. Misal, mengendus aroma masakan yang lezat, kemudian Anda puji pemasaknya. Atau, mengendus bau tak sedap, kau jaga aibnya. Banyak contoh lain. Apalagi, jika kita bahas setiap organ tubuh, fungsi, dan keutamaannya, tak akan habis materi kita untuk bersyukur.

Yang jelas, saya tidak ingin membahas soal hidung pesek. Sebab, saya percaya betul, kita adalah cermin bagi orang lain dan orang lain adalah cermin bagi kita. Menyebut hidung orang lain pesek, itu hanya cara terselubung menyingkap kekurangan dan keterbatasan pribadi. Lebih baik, mari sujud mencium tanah. Sujud. Mumpung masih punya hidung.

Candra Malik budayawan sufi


(mmu/mmu)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed