DetikNews
Senin 20 November 2017, 15:06 WIB

Kolom

Muhammadiyah dan Tajdid Era Digital

Benni Setiawan - detikNews
Muhammadiyah dan Tajdid Era Digital Foto: istimewa
Jakarta - Profesor Geery van Klinken menengarai konservatisme kelas menengah tumbuh di Indonesia. Konservatisme kelas menengah ini perlu mendapat perhatian oleh organisasi massa Islam seperti Muhammadiyah. Dakwah Muhammadiyah sangat pas menyentuh kelas menengah ini. Pasalnya, Muhammadiyah telah berpengalaman dalam mengelola dakwah kelas menengah (pedagang dan pegawai).

Dakwah kelas menengah inilah yang tampaknya kini menjadi tantangan Muhammadiyah di abad kedua. Abad kedua Muhammadiyah dipenuhi dengan tanda kemodernan dan kemajuan teknologi informasi yang sangat cepat. Masyarakat lebih banyak memegang HP (smartphone) dibandingkan bersosialisasi secara langsung. Masyarakat lebih suka berteman dengan banyak grup di jejaring sosial, daripada mereka membangun harmoni secara langsung. Bahkan, mereka seringkali mendapatkan "pemahaman" agama dari grup WhatsApp dibandingkan dari buku atau kitab yang sahih.

Potret keberagamaan dari media sosial inilah yang perlu digarap oleh Muhammadiyah, yang kini telah berusia 105 tahun (18 November 1912-18 November 2017). Usia lebih dari seabad inilah yang memungkinkan Muhammadiyah dapat melahirkan tajdid (pembaharuan) di era digital.

Literasi Digital

Tajdid Muhammadiyah itu kini perlu mengarah pada model dan penerapan literasi digital. Literasi digital adalah kemampuan seseorang untuk menggunakan piranti digital dengan efektif dan efisien. Kemampuan ini pun menuju pada proses kritis dalam menyerap dan menerima informasi yang muncul dari piranti digital.

Seseorang yang terliterasi (melek media) akan mampu dengan sendirinya menyaring setiap informasi. Mereka akan bersikap tentang informasi yang didapatkan. Apalagi informasi itu terkait dengan keimanan. Dakwah di era digital inilah yang perlu mendapat sentuhan dari Muhammadiyah.

Potret dakwah Muhammadiyah untuk kelas menengah membutuhkan sentuhan alat baca atau ilmu sosial baru. Pasalnya, kelas menengah bukan "orang bodoh". Mereka sangat lekat dengan teknologi informasi dan kemajuan zaman. Oleh karena itu ragam pendekatannya pun perlu masuk dalam relung dakwah kekinian dengan semangat Islam wasathiyah (moderat) yang menjadi ciri Persyarikatan Muhammadiyah.

Dakwah Muhammadiyah amar ma'ruf nahi munkar selayaknya didorong pada proses penyadaran dan keberpihakan Persyarikatan terhadap fenomena kelas menengah yang terus tumbuh. Kelas menengah mempunyai ekonomi yang relatif mapan, namun ideologi mereka cenderung rapuh. Konservatisme kelas menengah menjadi penanda betapa ideologi Islam wasathiyah --Islam Berkemajuan-- belum menjadi laku mereka.

Islam Berkemajuan menjadi ciri gerakan Muhammadiyah sejak awal. Kiai Dahlan beserta muridnya terus menyuarakan Islam sebagai ilmu (meminjam istilah Kuntowijoyo) dalam mengurai permasalahan umat. Islam Berkemajuan pun menjadi semacam panduan berislam di tengah kejumudan dan ketaqlidan umat kala itu.

Tafsir sosial Islam Berkemajuan kini menjadi sebuah keniscayaan. Islam Berkemajuan perlu membaca fenomena umat yang ingin serba instan namun tetap fashionable. Mereka menginginkan Islam yang praktis, namun bermakna. Kebermaknaan inilah yang seringkali hilang dari kelas menengah muslim. Mereka hanya ingin dilihat fashionable dan praktis, namun tidak memiliki pijakan yang kuat.

Aktif Bersuara

Muhammadiyah perlu menyiapkan seperangkat piranti guna mewarnai kehidupan keagamaan yang didapatkan masyarakat dari media. Situs-situs web Muhammadiyah perlu terus aktif menyuarakan Islam Berkemajuan agar mereka mendapatkan informasi yang berimbang tentang pemahaman keagamaan.

Situs-situs web Muhammadiyah dan saluran-saluran dakwah yang diselenggarakan oleh aktivis Persyarikatan yang didirikan oleh Kiai Haji Ahmad Dahlan ini perlu aktif bersuara. Mereka perlu menyuarakan Islam Berkemajuan sebagaimana inti gerakan dakwah Muhammadiyah. Aktifnya suara dari Muhammadiyah ini akan mampu membendung arus konservatisme yang kian massif masuk dalam sendi kehidupan kaum kelas menengah.

Kelas menengah perlu diberi alternatif beragama yang inklusif agar mereka mampu menerapkan keagamaan dan keberagamaan di tengah masyarakat yang plural. Suara Islam Berkemajuan itu juga sangat penting sebagai "arus tandingan" media dakwah konservatif. Sebagai arus tandingan dan media alternatif yang akan menjadi arus utama, Muhammadiyah perlu menguatkan basis kekuatan yang mendukung gerakan dakwah ini.

Muhammadiyah dapat menggandeng akademisi dan praktisi yang berjejaring di bawah universitas yang tersebar di seluruh Indonesia. Mereka dapat menjadi content creator yang akan terus menyuarakan Islam Berkemajuan. Menguatkan basis dakwah di era digital ini akan menjadi ciri tajdid di abad kedua. Abad di mana Muhammadiyah akan ditantang oleh hal-hal baru yang tak kalah pelik dibandingkan dengan abad pertama.

Kader Literasi

Oleh karena itu, menyiapkan kader melek media (terliterasi) menjadi sebuah keniscayaan. Kader itu dapat dicetak melalui kerja sama Majelis Pendidikan Kader dan Majelis Pustaka Informasi, didukung oleh seluruh jurusan Ilmu Komunikasi/Komunikasi Penyiaran Islam dan Teknik Informatika di bawah naungan Universitas Muhammadiyah se-Indonesia. Saat Muhammadiyah mempunyai banyak kader literasi digital, maka ia akan siap menghadapi perubahan dan tantangan zaman. Terutama dakwah kelas menengah agar mereka kembali kepada Islam yang inklusif, Islam wasathiyah, dan Islam Berkemajuan.

Selamat Milad ke-105 Muhammadiyah! Semoga tantangan dakwah ini dapat menjadi amal saleh. Lebih dari itu, kesiapan Muhammadiyah menyiapkan kader literasi digital akan menjadi penanda zaman. Zaman di mana teknologi informasi menjadi "kaca" bagi umat dalam menimba ilmu dan beragama.

Benni Setiawan dosen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan P-MKU Universitas Negeri Yogyakarta, Anggota Majelis Pendidikan Kader Pimpinan Pusat Muhammadiyah


(mmu/mmu)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed